Fragmen 9: Kopi 31 Agustus

IMGP4565

Sebenarnya aku agak merasa bingung harus memulai tulisan ini dari mana. Hanya saja aku ingin dan harus menulisnya, jadi biarkan aku memulainya dari kopi 31 Agustus. Lalu dari secangkir kopi manis hangat ini aku ingin memutar waktu kembali ke beberapa jam sebelumnya, ketika cuaca panas yang sigap hampir saja menumpas rencanaku.

Menjelang siang hari di hari Sabtu, dimana seharusnya jam kantor sudah habis dan karyawannya berhamburan pulang, aku justru baru akan keluar dari rumah di pinggiran Gresik-Surabaya. Keluar rumah, hawa panas tanpa sungkan menampar wajahku. Acuh, kugeber Supra X 125 yang selalu setia menemaniku sejak 2006 lalu; aku menuju Surabaya.

“Maraknya pembunuhan yang terjadi di lingkungan keluarga sebagian besar dilakukan oleh kepala keluarga sendiri.”

Materi berita pagi tadi rupanya menyandera pikiranku, sementara motor terus melaju. Biasanya kedua telinga kusumpal dengan earphone pada saat seperti ini. Setidaknya musik yang keluar dari hape Samsung Star Wifi hitam miliku bisa membuatku jarang mengumpat saat ada pengendara lain yang ugal-ugalan, atau jelanan sedang macet. Jadilah, berita tentang pembunuhan sejenak melintas dalam lamunanku. Tapi selebihnya aku tidak sadar sepenuhnya apa yang aku lamunkan. Aku terus saja mamacu motor. Meskipun peringatan di speedometer bensin tinggal dua garis aku tak berniat berbelok ke SPBU. Aku ingin segera sampai ke tempat tujuanku.

Panas masih saja menyengat. Sebelum benar-benar sampai ke tempat tujuan, aku harus memutar agak lebih jauh karena sempat salah arah. Hidup memang sederhana, tapi jalan hidup inilah yang rumit! Aku mengumpat. Untuk mencapai tempat parkir di bangunan mewah menjulang itu aku harus memutar jauh memasuki jalan-jalan kampung. Sedangkan untuk mobil bisa langsung menuju parkir tanpa harus berputar lagi. Wajar ini kawasan elit.

Di tempat itu pun aku tidak lama, bisa dihitung mungkin hanya 30 menit, setelah itu aku kembali. Di perjalanan pulang ini, tanpa ada rencana sebelumnya, kubelokkan motor dan kuparkir di sebelah warung dorong pinggir jalan; kopi 31 Agustus. Sungguh itu bukan nama warung yang kusinggahi, kopi itu kunamai demikian semata karena itu memang tanggal 31 Agustus 2013.

Itu hanyalah satu dari beberapa kios yang mangkal di sepanjang bahu jalan, di pinggir danau, di salah satu sudut Surabaya yang belum pernah kusinggahi sebelumnya. Tangan-tangan takdir yang lembut akan menuntun kemana seharusnya kau menuju, sama sekali tanpa bisa kau sadari. Aku percaya takdir yang katanya sudah digariskan. Tapi bukankah Tak akan Aku rubah nasib suatu kaum kecuali mereka yang mengubahnya sendiri? Maka, aku ingin mengubahnya, bukan untuk siapa-siapa tapi untukku sendiri.

Whatever satisfies the soul is truth, kata Walt Whitman. Aku menerima jiwaku sebagai takdirku, dan aku tak pernah merasa menyesal kalau ternyata takdir dalam jiwaku itu dipenuhi oleh mozaik-mozaik wajah yang setidaknya pernah kukenal. Jika jiwaku ingin menyatukan kepingan mozaik itu menjadi serupa wajah, maka itulah takdirku. Kalaupun aku gagal menyusunnya – bahkan pada mozaik terakhir – maka aku hanya akan berkata: “Aku belum bisa menunaikan takdirku, dan bukan karena itu bukan takdirku!”

Aih, ternyata kopi 31 Agustus ini membuatku menjadi sedikit agak mabuk. Tapi desiran angin di bawah kibaran terpal kemudian menyadarkanku: aku ingin mencicipi kopi pertama di hari ini, di tepi danau, di wajah Surabaya yang lain. Di beberapa sudut di tempat itu – di pinggir danau – setidaknya ada lima sampai enam pemancing.

“Banyak ikannya, mas?” tanyaku saat kuhampiri salah satu dari mereka yang lebih dekat.

“Harusnya si banyak. Tapi susah dipancingnya.”

Meskipun sulit mereka tak menyerah dan terus memancing. Manusia terbaik adalah mereka yang masih memiliki harapan. Saya kembali ke tempatku semula. Kembali mencecap kopi. Membakar ujung rokok. Melihat mereka asik memancing aku teringat danau Ranu Kumbolo di Semeru sana. Di sana juga sama, ikannya sangat sulit di pancing. Sebenarnya aku ingin berada di sana, mencecap kopi 31 Agustus di antara kabut dan dingin. Tapi akhirnya aku terdampar di tepi danau ini, mencecap kopi di antara asap kenalpot dan angin sebentar-sebentar sejuk, sebentar-sebentar sumuk.

Sebentar. Sudah. Kenapa hanya karena secangkir kopi 31 Agustus saja aku banyak bicara seperti ini. Lebih aku segera diam dan melakukan apa saja yang aku suka. Do anything, but let it produce joy!

                -di dasar kopi 31 Agustus-


About this entry