Francois *)

1

Francois, seorang anak sinting di mata bapaknya, Arouet, hanya karena menyukai sastra. Saking geramnya sang bapak sampai menulis: “Kesusastraan adalah profesi orang yang ingin jadi sia-sia bagi masyarakat dan jadi beban bagi keluarganya dan akan mati kelaparan.”

Pada usia 21 tahun, di Paris ia dikenal pandai mengejek dan menyebar desas-desus tentang Istana. Tentu saja Gegent dari kerajaan yang mestinya dipimpin Baginda Louis XV (yang masih terlalu kecil untuk memimpin) marah:

“Saya akan kasih lihat padamu apa yang belum pernah kamu lihat.”

“Apa itu?”

“Bagian dalam penjara Bastille.”

Di penjara itulah Francois Marie Arouet disekap. Entah karena apa dia kemudian memakai nama Voltaire. Setelah dibebaskan dia berterima kasih sudah diberi penginapan gratis. Begitulah dia kemudian mementaskan karyanya yang ternyata sukses: Oedipus. Lakon itu memikat banyak penonton selama 45 malam, dan termasuk penonton itu adalah bapaknya.

Di tahun 1765, seorang pemuda 16 tahun, dituduh merusakkan salib. Setelah disiksa dan mengaku, leher anak itu pun dipotong dan tubuhnya dilemparkan ke api, massa pun bersorak. Sejak saat itu Voltaire tak lagi tersenyum. Ia menulis fanatisme sebagai “penyakit segala abad”, dan agaknya dia benar.

 

*Kutipan Caping GM, “Francois”, 17 Mei 1980

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s