Gilmore *)

1

Aku ingin berkata, entah pada siapa. Kalau memang harus ku sebut sebut nama, biarlah ku namai kau ingatan. Mungkin setelah ku katakan semuanya kau akan melupakannya begitu saja. Tentang hal itu aku tak perlu risau, toh kau hanya sekadar ingatan. Baiklah, aku ingin berkata padamu tentang seorang pembunuh yang mati dalam kebahagiaan.

Kau ingat tentang Gilmore? Kalau kau benar-benar lupa aku akan membantumu mengingatnya. Karena aku paham kau toh hanya ingatan. Dia, Gilmore, akhirnya ditembak mati di hadapan regu tembak. Dia menginginkannya. Dia menginginkan kematian itu. Sekarang ingatkah kau, ingatan? Gilmore, lelaki gelisah yang akhirnya menemukan kebebasan dalam kematiannya.

Gilmore telah menjadi pembunuh karena ingin menolong seorang pastur keluar dari rasa berdosanya yang begitu dalam, entah untuk perbuatan apa. Setiap hari sang pastur meratap di altar penebusan dosa, mendekap rosario, dan terus mengucurkan air matanya hingga kedua matanya yang tua menjadi merah. Pastur itu ingin pulang ke pangkuan tuhannya dalam keadaan suci.

Melihat hal itu berulang-ulang, Gilmore yang awalnya acuh akhirnya menjadi iba, dan berniat membantu sang pastur. Maka, sore itu Gilmore menenteng senapan angin yang biasa dia gunakan untuk berburu babi hutan, memasuki gereja, mendekati altar di mana pastur itu masih terus bersimpuh. Moncong senapan didekatkan ke kepala sang pastur, menarik pelatuknya, dan sang pastur terkapar bersimbah darah dengan lobang seukuran peluru di kepalanya.

“Terbebaslah bapa dari dosa, sekarang temui tuhan bapa…,” gumam Gilmore. Ia yakin, hanya dengan cara itu dia bisa membantu sang pastur terbebas dan rasa gelisah akan dosa dan segera menemui tuhannya dengan bahagia.

Gilmore ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Hukuman mati pun dijatuhkan. Selama dalam tahanan menunggu hari eksekusi dia menjadi sangat gelisah. Bukan karena dinginnya tembok penjara dan kerasnya jeruji besi, tapi dia tak sabar ingin menemui kematiannya. Baginya, kematian adalah kekasihnya yang penuh kesabaran menanti kedatangannya. Dan, Gilmore tak tega membiarkan kekasihnya itu menunggunya terlalu lama.

Maka, ketika hari eksekusi tiba, Gilmore pun merasa sangat bahagia. Dia ingin segera menemui kekasihnya. Sampai-sampai ketika diberi kesempatan untuk menyampaikan permintaan terakhir, kata-katanya singkat saja, “Mari kita lakukan!”

Saat peluru dari senapan regu tembak melesat dan menembus kepala Gilmore, saat itu pula lagu Walking in The Footsteps of Your Mind sayup-sayup mengalun dari luar tembok penjara. Gilmore telah menemui kekasihnya dengan bahagia.

Menganti, 01 Oktober 2013

*Refleksi dari Caping GM, “Gilmore”, 5 Februari 1977.

*Ilustrasi gambar: Courtesy Google.


About this entry