Perahu dan Ikan-Ikan yang Berenang

2

Perahu dan Ikan-Ikan yang Berenang

 

ketika perahu tertambat di dermaga

saat itu pula rinduku bersauh

dengan lambung sarat muatan

sepulang menjaring kenangan di laut lepas

 

di tepi pantai

kita sempat berbicara tentang ikan-ikan

yang berenang membawa seuntai kabar

kau bertanya apakah ia tak akan tersesat dan terdampar

di pulau tanpa nama?

 

kita kemudian saling menatap

mencoba menakar keyakinan masing-masing

di bawah lembayung

di kerling mata

seekor ikan boleh saja terdampar, jawabku

tapi ia akan terus berenang dan mencari tujuan

karena itu pesan akan tetap sampai pada alamat tuju

 

ketika aku telah jauh berlayar

akan kubawakan untukmu sejumput kisah

tentang sebuah perjalanan

saat dimana aku mulai kesulitan menaksir jarak

antara diriku dan dirimu

lalu dengan lembut angin membelai telingaku

seakan berbisik;

“jarak di antara kalian hanya sebatas rindu”

 

maka aku bingkiskan untukmu sebongkah rindu

lalu kualamatkan padamu

bersama ikan-ikan yang berenang menuju pulaumu

apakah kau menerim pesanku?

 

Menganti, 09 Oktober 2013

 

Di Setiap Perjalanan

 

di setiap perjalanan

aku selalu merasa kau ada di sampingku

saling berbicara tentang tujuan dan meresapi gelak tawa yang pecah

lalu ketika kita mulai lelah dan kantuk memberati kelopak matamu

kau pun perlahan menutup mata dan menyandarkan kepalamu di pundakku

sadang telapak tangan saling bertautan

saat itulah aku bisa merasakan merdunya nyanyian perjalanan

dari dengus napasmu yang begitu lembut

 

bersamamu setiap detak waktu adalah notasi nada yang menjelma menjadi sebuah orkestra mini melankoli

dan jadilah perjalanan tak lagi menjadi semacam keterburu-buruan

atau kalau bisa, ingin kita bunuh waktu saja

dan waktu pun akan terus berhenti selama yang kita kehendaki

 

di setiap perjalanan yang kita mulai

selalu kubayangkan tentang tujuan yang sama

tapi perjalanan tetaplah perjalanan

yang bisa merubah orang yang paling kita kenal menjadi begitu asing

dengan perjalanan dan tujuan masing-masing

tapi di setiap perjalananku

aku masih selalu merasa kau ada di sampingku

menemani sebagai orang asing

 

Jakarata, 22 Oktober 2013

 

Gerimis Jakarta

 

gerimis sore ini mengguyur Jakarta, sayangku

langit yang tadinya cerah tiba-tiba menjadi hitam begitu saja

kabut membuat tempat ini menjadi seperti miniatur kota berwarna keabu-abuan

dan ketika lampu-lampu mulai dinyalakan

aku masih belum mendapati senja yang terpotong itu

 

sengaja kutulis sajak ini karena tiba-tiba saja aku teringat padamu

aku juga teringat pada seorang pecinta gila yang memotong langit senja di kota ini

lalu mengirimkannya kepada kekasihnya sebagai ungkapan cinta yang begitu indah

sebenarnya aku ingin menemukan titik potong itu lalu mengeratnya sedikit

dan mengirimkannya padamu

 

tapi rupanya aku tak diizinkan mencintaimu

sore ini tak ku temukan senja itu, sayangku

hanya ada mendung dan gerimis bak tirai menjuntai

di antara gedung-gedung yang murung

dan laju kendaraan yang tersumbat

sementara di lorong-lorong, di jalan lain di bawah jalan layang

banyak orang berteduh

ku amati wajah mereka satu per satu

hanya untuk memastikan barangkali kau ada di antara mereka

yang diam-diam mengikuti perjalananku di Jakarta gerimis sore ini

tapi aku gagal menemukan senyummu

 

tidak seperti senja yang terpotong

gerimis sore ini tak bisa kukerat, sayangku

aku juga tak sampai hati menampungnya di dalam botol bekas

bersama langit muram dan kilat halilintar lalu mengirimkannya padamu

sungguh tak sampai hatiku

 

sebagai gantinya

telah kupandangi gerimis Jakarta sore ini lekat-lekat

aku telah merekamnya di kedua mataku

setelah ini baiknya kita mengatur sebuah pertemuan

dan akan kubiarkan matamu menatap mataku dalam-dalam

untuk menyaksikan rekam gerimis Jakarta sore ini

 

tapi saat merekamnya, lagi-lagi aku merasa kehadiranmu

di antara orang-orang yang berteduh

aku juga merasa kau hadir di antara deretan bangku-bangku bus ini

dan diam-diam memperhatikanku

kalau memang demikian, mari kita nikmati gerimis Jakarta sore ini

sebagai orang yang tak saling mengenal

 

Jakarta, 22 Oktober 2013 | 15:27 WIB.

 

Semalam Di Jogja

 

dalam setiap perjalanan

kita tak akan pernah tahu akan singgah di mana

karena persinggahan menjadi semacam takdir

yang telah di persiapkan di setiap kelokan

 

seperti tangan-tangan lembut

ia akan membelai keinginan

antara singgah sejenak atau melanjutkan perjalanan

kadang ia menjelma wajah kenangan yang telah susah payah kau buang

kadang ia menjelma malam biru beku

ia bisa juga menjadi nyanyian yang tak pernah ingin kau lewatkan

lebih-lebih jika ia kemudian berubah wujud menjadi gerimis yang ritmis

maka kau akan selalu ingin singgah

 

seperti malam ini

takdir sekaligus menjelma wajah kenangan, malam biru yang beku, nyanyian syahdu, dan gerimis yang ritmis

maka aku pun memutuskan singgah untuk semalam saja

di jogja yang basah

 

Jogja-Surabaya, 23 Oktober 2013

 

Wajah Jakarta

 

kita pernah berbicara tentang Jakarta

kota dengan seribu wajah

dan kita pun bersepakat

membicarakan Jakarta adalah membicarakan wajah-wajah sunyi

tapi, jika kau lihat Jakarta sore ini

ia seperti gadis lugu tersipu malu

 

Jakarta, 27 Oktober 2013

 Oleh Agus Budiawan

*Ilustrasi gambar: fineartamerica.com


About this entry