Perpisahan Sunyi

2
Courtesy Google

Perpisahan Sunyi

Kita sama-sama berkemas
memunguti remah-remah rasa yang tertinggal
di antara jengkal langkah
tapi tak semua kenangan bisa kita tumpas

akan ada senyum abadi
membentuk semacam prasasti
yang bisa kita ziarahi

meski yang tersisa hanya salam ucap
: terima kasih untuk semuanya
tak ada kalimat perpisahan yang lebih sunyi
seakan apa yang sudah tak pernah iya

kita bernapas dalam detak waktu
pada degub yang sama
dan kini harus menghela dengan irama
sendiri-sendiri
seperti sedang mendendangkan lagu sumbang
dan tak pernah selesai

kini kita sama-sama berpaling
meniti jalan masing-masing
meninggalkan punggung
yang masih saling menatap
dan langkah semakin bisu

adakah kita saling mendoakan?

11 Oktober 2013

Tentang senja, malam yang turun, dan lampu jalan

lekas sini, sayang
aku ingin bicara denganmu
masih tentang senja yang itu
tapi bukan tentang jingga yang sama

coba dengarkan, sayang
aku ingin bicara denganmu
tentang senja kala
saat malam perlahan turun
dan lampu-lampu jalan mulai dinyalakan

pada saaat seperti itu
aku menjadi melankoli
seperti remaja sedang jatuh cinta
bukan pada rona merah
melainkan pada malam dan lampu-lampu jalan

aku ingin bicara denganmu tentang itu
saat aku dalam perjalanan menuju pulang
menengok tempat kelahiran
dan mengais sejumput kenangan
yang tak sengaja tertinggal

jangan diam, sayang
saat malam mengambil alih petang
dan lampu-lampu menyetiai ruas jalan
kaulah alamatku mencari terang

sayang, meski kau diam
aku tetap ingin bicara denganmu
dari mulut seorang bisu
yang sekalipun
tak bisa mengucap rindu

12 Oktober 2013

Kepulangan

Selamat datang
kau telah kembali
pada alamat pulang
sebagai nama

18 Maret 2013

Sajak Sawah

Tak banyak lagi bocah menjejak sawah
menyeduh kopi di batang pagi
atau berlari di pematang basah
mereka telah kehilangan pokok mahoni
yang dengan buahnya kita bisa saling menjahili
mereka juga kehilangan bajak dan lenguh sapi
di mana sering diiringi tembang campursari
semuanya jauh mengabur

25 Maret 2013

Bingkisan ulang tahun

selepas lalu
kuterima bingkisan warna ungu
darimu yang termangu di pulau rindu

kau yang pernah mencintaiku
memberiku sebuah hadiah
atau mungkin juga cinta yang sama
tpat di hari ulang tahunku
yang menjadi begitu asing bagiku

kubayangkan bingkisan itu berpindah tangan
dari jemarinya yang ranum
kepada tangan pengirim pesan yang mungkin kusam
melintasi selat dan merapat di dermaga
tempat di mana pernah kulepas dirimu

kau yang pernah mencintaiku
memberiku kue-kue kecil yang lucu
manis serupa dirimu
yang kini mungkin risau termangu
menunggu kabar balasku

bingkisan itu telah sampai
di tanganku

dengan bahagia kau berkata
: semoga kau suka

31 Agustus 2012

Mestinnya

Mestinya cinta adalah bilangan ganjil
sedang bahagia mestinya muskil
namun kata para penghamba
menitis lidah

mengejawanta menjadi butir-butir serapah
bermetamorfosa mewujud sabda
mengubah pendosa menjadi pendoa
lalu dengan mahayakin berseru
: jika aku punya dua kehidupan
maka akan kuberikan satu untukmu, sayang

mestinya senyum adalah ujung belati
meruncing setaring
yang terselip di balik bibirmu

saat kurengkuh ronanya
yang kucecap bukan manis cinta
melainkan amis serupa darah
seperti bisa, ia kemudian menjalar ke seluruh tubuh
tanpa sungkan-sungkan melumpuhkan sendi
melumpuhkan ingatan
melumpuhkan kenangan

ia membunuh dari kedalaman yang paling dalam
pelan-pelan

mestinya kesunyian adalah sayap yang sengaja dipatahkan
menggelepar di malam buta
tanpa daya
seperti pendita hilang pinta
yang hanya meratapi patahan-patahan
lalu bermimpi mati bahagia

mestinya…

Menganti, 1 Oktober 2013

Gerimis (yang) Sederhana

kalau bukan saat ini
mungkin nanti
aku bisa menemuimu
di sebaris gerimis yang sederhana

di ujung jalan

kau gadis bertudung warna senja
menunggu harap tiba

kau gadis penyimpan luka lirih
yang kau nikmati sendiri

kau gadis berwajah sepi
yang membasahi bibir dengan untaian doa
pengusir cemas yang hinggap di ujung harap

mungkin aku tak akan menemuimu
sebagai diriku
tapi aku akan mendekapmu
sebagai gerimis yang sederhana

7 Agustus 2012

Biarlah Bersemi

I
Gelas itu masih menyimpan denting
dalam kebisuannya
atau mungkin bekas bibirmu yang tertinggal
masih menyungging senyum
entah kepada siapa

ia kini murung di sudut serambi
menerawang malam kian dalam
ktika waktu hanya sebatas rindu
ia membisu dalam untaian haru

II
bersama bayang
telah kualamatkan padamu
di ujung jalan yang mana
aku akan menunggumu

III
Matamu, ombak yang membisu
sedang karang hanya serupa memoir risau

IV
Aku tak ingin melukis mercu
biarlah daratan terpaku tanpa tanda pengenal
atau aku akan berlayar dengan ragu
yang akan memaksaku kembali tambatkan perahu
di dataran rindu
yang termangu
di keterasingan samudera biru

2012-2013

Di Tepi Yang Lain

Di tepi yang lain
metamorfosa malam menjelma bayang
menepi bersama wajah sepi
lalu, patah-patah kata malam menjelma lamun
mencoba menebak setiap aksara
yang tercipta dari jemarimu

di tepi malam yang lain
kita hadir dalam kebisuan
seperti kata saling menyekap
hanya mata kita seperti bersepakat
– kita telah mencipta sajak
tak sempat selesai

di tepi mata yang lain
kubaringkan sajak tanpa nama
seperti tubuh tanpa cinta
bolehkah kupinjam namamu
untuk menyempurnakan sajakku?

(di tepi sajak yang lain
terbayang nama
ini sajak sempurnalah sudah

di tepi hati yang lain
kau pernah berkat
: benar aku mencintai malam
tapi di tepi hati yang lain pula
aku belum sanggup berkata
: benar aku mencintaimu)

di tepi yang lain
aku menunggu malam menjelma ingatan
yang ada di diriku adalah engkau

11 Mei 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s