Pertemuan Kedua

1

Pagi itu dia bangun masih bukan sebagai dirinya. Pagi di bulan Februari, di hari kasih sayang, yang ada di pikirannya hanya sebuah pantai di Montauk. Maka dia datang ke stasiun kereta yang bisa membawanya ke sana. Dia tak peduli pada pekerjaannya. Dia hanya ingin pergi.

“Aku tidak bekerja hari ini. Aku pergi ke Montauk. Aku tahu tahu kenapa. Aku bukan tipe orang yang peduli dengan kata hati. Aku bangun dengan ketakutan pagi ini.”

Dia telah tiba di Montauk, di tepi pantai yang putih. Berjalan seorang diri, seperti musafir yang sedang menziarahi jejak-jejak langka yang pernah ditinggalkannya. Dia dipanggil oleh sekelumit kenangan. Kenangan tentang seseorang yang justru telah hilang dari memori otaknya. “Aku seperti membeku di pantai ini.”

Duduk di depan sebuah rumah tua tak bertuan, dia mulai membuka buku hariannya. Catatan terakhirnya sederhana saja, Montauk di bulan Februari, menyenangkan. Kalimat yang hanya sebaris inilah dan setelah itu tak ada catatan lagi. Lepas beberapa tahun yang lalu.

Di tangannya, pasir yang dulu mungkin begitu halus dan lembut berubah menjadi seperti batu kerikil kecil yang keras. Terasa begitu berbeda. Sampai kemudian dia melihat kehadiran orang lain di pantai itu, seorang perempuan berbaju orange, seperti sedang menziarahi kenangan yang sama.

“Andai saja aku bisa bertemu dengan orang baru. Kukira kesempatan itu tak akan ada, melihat ketidakmampuanku berinteraksi dengan perempuan,” gumamnya, dan meninggalkan perempuan berbaju orange tanpa menyapanya.

Selepas dari pantai, dia menyempatkan memesan secangkir kopi di sebuah cafe stasiun kereta. Di hadapannya, dia melihat perempuan berbaju orange yang dia lihat di pantai. Mereka hanya saling menyapa lewat senyuman. Sampai kemudian mereka bertemu lagi di gerbong kereta.

“Hi,” sapa perempuan berbaju orange.

“Hi juga.”

“Boleh aku duduk di sini?” kata perempuan itu sambil berjalan mendekat.

Mereka pun terlibat pembicaraan hangat tentang tujuan dan perkenalan. Di sini mungkin takdir ikut mengambil peran. Mereka sedang bergerak pada tujuan yang sama. Kereta terus melaju. Mereka semakin menikmati perjalanan singkat tapi hangat di udara Februari yang beku.

“Aku Clementine,” kata perempuan berbaju orange itu memperkenalkan namanya.

“Aku Joel.”

Perkenalan singkat itu berlanjut ke hari-hari berikutnya. Joel yang sebelumnya merasa begitu kesepian telah menemukan cintanya. Mereka saling jatuh cinta. Tapi apa yang mereka lakukan atau ke mana mereka pergi, itu tak lebih seperti hanya sebuah pengulangan apa yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Mereka berdua seakan sedang menjenguk kenangan bersama-sama.

Hari-hari kebersamaan mereka yang tampak normal dan begitu bahagia berubah menjadi masalah. Memasuki bulan Februari selanjutnya, sebuah bingkisan telah dipersiapkan Joel untuk Clementine sebagai hadiah di hari kasih sayang. Sebuah tempat pun sudah ditentukan untuk merayakannya; di tepi pantai di Montauk.

Namun, sebelum hari itu datang mereka bertengkar dan memutuskan berpisah. Clementine menemukan sebuah rekaman kaset tentang dirinya. Beberapa tahun yang lalu dia mendatangi seorang dokter yang bisa menghapus ingatan seseorang. Clementine ingin menghapus kenangan tentang Joel, mantan kekasihnya, dari ingatannya. Joel pun demikian. Dia menemukan kaset rekaman dimana dia juga mendatangi dokter yang sama untuk menghapus kenangan tentang Clementine, mantan kekasihnya, dari ingatannya. Mereka adalah kekasih yang sama-sama ingin menghapus kenangan. Sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka untuk kedua kalinya di kereta dari Montauk, sebagai orang asing yang sudah kehilangan kenangan; yang tak saling mengenal.

“Kenapa kita bisa begitu lama membuang-buang waktu dengan seseorang hanya untuk mengetahui dia orang asing,” gumam Joel ketika menyadari Clementine yang baru dia kenal ternyata adalah kekasihnya di kenangan yang hilang.

“Aku bukan sebuah konsep, Joel. Aku hanya seorang gadis biasa yang mencari ketenangan dengan caraku sendiri. Aku tak sempurna. Aku tak melihat itu sebagai alasan aku tak menyukaimu. Sekarang memang tidak. Tapi suatu saat kau akan merasa aku ini gila, kemudian aku merasa terjebak denganmu…itulah yang terjadi,” kata Clementine dengan air mata membasahi matanya.

“Okey,” kata Joel, singkat tapi sudah bisa menjelaskan semuanya. Mereka akan memulainya lagi dari awal sebagai orang asing yang baru saling mengenal.

Kenangan mereka telah hilang, tapi pantai Montauk menjadi tempat yang tak pernah bisa hilang dari ingatan mereka.

“Ini hari dimana kita bertemu untuk pertama kalinya. Kau bermain di sana dan aku sedikit jauh darimu. Aku ingat betapa kikuknya bertemu denganmu. Kupikir ‘Wow, betapa anehnya, aku tertarik padahal hanya melihat dari belakang.’ Kau memakai baju orange, kemudian aku berpikir untuk mendekatimu, berkenalan meskipun sebenarnya aku benci warna orange,” kenang Joel, tersenyum.

“Ya, aku melihatmu duduk sendirian dan kupikir ‘terima kasih tuhan. Ada juga yang normal, yang tidak terlalu suka berinteraksi dengan hal seperti ini’,” sahut Clementine.

“Ya, aku tak tahu harus bilang apa lagi.”

“Aku Clementine.”

“Aku Joel.”

Begitulah, mereka sama-sama mengenang perkenalan pertama mereka, di tepi pantai Montauk. Terberkatilah mereka yang lupa, mereka mendapat kebaikan bahkan dari kesalahannya.

-Eternal Sunshine of the Spotless Mind-


About this entry