Lelaki yang Berkarib dengan Kematian

 

1

(Ilustrasi: “Gustav Klimt The Kiss” by Gustav Klim)

Cerpen Agus Budiawan

ENTAH mengapa beberapa tahun terakhir aku merasa kesulitan menulis. Bukan hanya kesulitan memulai, tapi juga saat mengakhiri ketika ada sesuatau yang bisa aku tulis seperti saat ini. Aku selalu gamang dan tak pernah tahu apa yang harus aku tulis untuk mengakhirinya. Jadi, aku hanya akan memulai dari hal yang begitu menyita pikiranku akhir-akhir ini. Perkara bagaimana aku mengakhirinya, kita lihat saja nanti.

Baiklah. Aku mengenal – aku katakan “mengenal” agar kalian yakin bahwa apa yang aku tulis bukan hanya sekadar igauan di antara tidur gelisahku – seorang lelaki. Aku juga tak begitu yakin kapan aku mulai mengenalnya. Hanya saja aku tahu dia tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Dia hanya tinggal seorang diri. Sebenarnya aku juga tidak yakin apakah dia benar-benar tinggal sendiri. Yang pasti dia selalu membiarkan pintu dan jendela rumahnya terkatup rapat. Sepertinya dia tak ingin dikunjungi siapa pun, bahkan oleh sepoi angin atau ngiang nyamuk-nyamuk rawa di sebelah rumah.

Kalian boleh tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Aku tidak peduli. Karena apa yang aku lakukan hanya menulis, bukan untuk membuat kalian mempercayaiku. Aku melihat lelaki itu dari sebuah lorong. Semacam lorong waktu. Nah, sampai di sini aku masih tidak memaksa kalian untuk percaya.

“Lorong waktu? Haha…kau gila!”

Kalian boleh tertawa dan mengatakan hanya orang gila yang percaya pada mitos lorong waktu. Sekali lagi aku tegaskan aku tidak hendak menuntun pikiran kalian sama seperti apa yang aku pikirkan. Kalau kalian merasa aku ingin mendoktrin pikiran kalian lewat tulisan ini, maka lebih baik hentikan membaca, lekas pulang, tidur, dan mimpikan hal-hal indah yang kalian inginkan. Tapi aku harap kalian tidak kecewa ketika bangun dan sadar itu hanyalah mimpi belaka.

Baiklah, akan aku lanjutkan. Aku melihat lelaki itu dari lorong waktu.

“Sudahlah, makan dulu sana…!! Di lorong waktu…!! hahaha..”

Kalian teruskan tertawa. Aku akan melanjutkan. Aku melihat lelaki itu di lorong waktu. Lorong itu bukan lorong sempit dalam kabel seperti yang pernah digambarkan dalam sinetron anak-anak dulu. Tapi lorong itu tidak jauh berbeda dengan dunia ini. Di sana ada tanah, air, langit, rumah kumuh atau mewah, jalan-jalan, taman-taman. (Hahahaha) Tertawalah. Tapi aku punya sedikit pertanyaan. Kalian percaya tuhan sudah menentukan takdir bagi setiap manusia?

“Kami orang beriman. Jelas kami mempercayainya, bagaimana sih! Tuhan itu begini..begini..begini….dan takdir jelas sudah diatur begini…begini….begini…”

Baiklah. Aku bisa ingin tahu jawaban kalian sebelum melanjutkan tulisan ini. Sekarang aku ingin menjelaskan tentang lorong waktu yang aku lihat. Jika takdir sudah ditentukan begini, begini, dan begini, maka di kehidupan yang akan datang tentu sudah ada kehidupan yang ditakdirkan itu dong? Di kehidupan esok dan esoknya lagi akan ada tubuh kita yang sudah disiapkan, tubuh yang perlahan-lahan menjadi tua, mengenakan baju yang berbeda-beda, berada di tempat yang mungkin juga berbeda dan kita yang sekarang ini hanya akan berjalan mengikuti jalur takdir yang sudah disiapkan. Kita pada akhirnya hanyalah roh yang berpindah-pindah tubuh.

“Kami tidak mengerti! Kau sudah gila rupanya!”

Anggap saja aku gila. Tapi setidaknya aku mau berpikir meskipun sulit kalian terima. Sekali lagi aku tak memaksa kalian menerima pemikiranku. Aku hanya ingin katakan aku melihat lelaki yang berkarib dengan kematian, lewat lorong waktu. Aku melihat, eh, sampai di sini biar aku jelaskan lebih jelas lagi. Aku bukan hanya melihat, tapi aku merasa itu adalah diriku, di kehidupanku beberapa tahun di depan sana. Aku tidak yakin apakah saat itu aku sudah sangat tua. Yang pasti aku merasa tidak lagi muda.

Lelaki yang seperti diriku itu terlihat sangat akrab dengan kematian-kematian yang menjenguknya. Dia begitu bahagia dengan setiap kematiannya.

“Apa dia banyak pahala? bukankah kematian itu menyakitkan?”

Itu pikiran kalian. Biarkah aku berpikir bahwa kematian adalah wujud dari keindahan sebenarnya. Setidaknya itulah yang aku lihat dari lelaki yang tinggal seorang diri di pinggiran kota itu, di dekat rawa-rawa. Dia selalu tersenyum ketika kematian datang ke beranda rumahnya. Kematian itu lebih lembut dari angin. Ia bisa menyelinap dari celah-celah pintu atau jendela yang terkatup rapat.

Dia seperti selalu tahu kapan kematian bertandang ke rumahnya seperti seorang sahabat yang rutin menjenguknya. Dia akan selalu menyiapkan secangkir kopi hitam kental dan pahit. Kalau kebetulan ada uang lebih dia akan membeli rokok, eceran juga tak jadi masalah. Dia begitu berkarib dengan kematian.

“Malaikat maut suka minum kopi? Yang hitam kental dan pahit? Hahahaha…”

Aku tidak pernah menyebut ia malaikat maut. Kematian, itu saja. Setiap kali selesai minum kopi dan menghisap habis rokoknya, lelaki itu selalu benar-benar mati. Dia akan mati dengan tenang, bibirnya tersungging senyum. Tak ada yang lebih bahagia dari mereka yang tahu kapan dia akan mati, bukan? Dia akan terus memejamkan matanya sebelum hidup kembali di keesokan harinya, lusa, seminggu, atau satu bulan berikutnya. Tak tentu waktu. Entah apa yang terjadi dalam setiap kematiannya. Tentang hal ini aku masih belum tahu. Yang pasti setelah hidup kembali dia merasa begitu bahagia.

“Kalau kau bisa tahu berarti memang kau benar-benar gila anak muda! hahaha… Bertobatlah!”

Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku bukan hanya bisa melihat lelaki itu, tetapi aku juga bisa merasakan apa yang dirasakan lelaki itu. Lama-alama aku bisa merasakan kebahagiaan dalam kematian lelaki itu. Pada suatu malam, ketika melihat lelaki mulai menutup mata, aku juga merasa pandanganku menjadi gelap. Kami sama-sama mati.

“Kau belum tidur berapa hari anak muda?”

Dari kegelapan itu perlahan-lahan ada setitik cahaya di kejauhan. Perlahan-lahan setitik cahaya itu mendekat, semakin dekat dan semakin melebar. Sampailah aku di sebuah tempat. Sepertinya aku pernah ke tempat ini, tapi aku belum yakin sepenuhnya. Sebuah taman dengan pepohonan rindang dan bangku-bangku yang tertata sedemikian rupa. Di antara rerumputan hijau tumbuh bunga-bunga beraneka warna. Apakah ini yang dinamakan taman surga?

Di salah satu bangku di taman itu aku melihat seorang pemuda sedang duduk di samping seorang perempuan. Aku hanya melihat punggung mereka berdua. Mereka sedang terlibat dalam obrolan yang begitu hangat yang terdengar riuh-rendah di telingaku. Sesekali tubuh mereka berguncang karena gelak tawa yang pecah.

Aku kemudian mencari sudut dimana aku bisa melihat wajah mereka berdua. Masih dengan sembunyi-sembunyi. Akhirnya aku menemukan tempat yang pas. Dari sini aku bisa melihat wajah mereka dengan cukup jelas. Tawa pemuda itu berasal dari wajah lelaki yang sangat kukenal. Senyumnya, kedipan matanya, bahkan nada suaranya itu adalah nada suara lelaki yang berkarib dengan kematianya itu! Aku seperti melihat diriku sendiri.

Lalu siapa perempuan yang ada di sebelahnya? Aku bisa merasakan dia adalah kekasihnya. Aneh memang aku juga bisa merasakan sampai pada hal-hal yang paling sentimentil seperti itu. Ah, wajah perempuan itu tak asing lagi bagiku. Itu adalah wajah yang begitu kukenal. Ah, aku tidak bisa menjelaskan yang ini. Sebagaimana lelaki itu, perempuan itu juga begitu bahagia dalam gelak tawanya.

“Bagaimana hari-harimu? Apakah masih ada aku di setiap ingatanmu?” tanya perempuan itu.

“Tak sedetikpun kamu hilang dari pikiranku,” kata lelaki itu.

“Ah, kamu sekarang pandai menggombal.”

“Tapi, kamu suka kan?”

Mereka berdua sama-sama saling pandang dan tertawa. Ah, beginikah indahnya kematian? Aku menjadi mengerti mengapa lelaki itu begitu bahagia setelah kematiannya yang berulang-ulang. Tak kusangka, di tepi waktu yang lain ada seorang kekasih yang sedang menunggunya. Lelaki itu terlihat begitu bahagia. Anehnya aku juga bisa merasakan kebehagiaannya. Aku juga bisa merasakan begitu mencintai perempuan itu.

Dan tibalah waktu itu.

“Sepertinya aku akan segera pergi,” kata lelaki itu.

“Apa kita akan bertemu lagi?” suara perempuan itu terdengar lamat-lamat dari posisiku mengintai.

“Pertanyaanmu aneh. Bukankah kita selalu bertemu di sini.”

“Benarkah? Aku hanya takut ini mimpi. Dan tak akan datang untuk kedua kali.”

“Ini bukan mimpi. Ini kematian. Hidup yang sesungguhnya.”

“Ah, kata-katamu membuatku takut.”

“Tenang, ada aku di sampingmu.”

“Kamu menggombal lagi?”

“Tapi, kamu suka kan?”

“Kamu memang pandai membuatku tertawa.”

“Aku selalu memimpikan kematian seperti ini. Mati dalam kebahagiaan. Berkali-kali. Bersamamu.”

Perempuan itu hanya tersenyum lalu memeluk lelaki itu. Begitu erat. Seperti ular raksasa yang melilit mangsanya yang tak kalah besar. Tak pernah mau melepaskan.

Sekarang aku tahu mengapa lelaki itu begitu bahagia menyambut kematiannya yang berulang-ulang. Mungkin takdir belum benar-benar menginkan dia mati, sehingga dia akan selalu kembali hidup, sesering apapun dia mati. Dia juga tidak perlu kehadiran siapa-siap di rumahnya, di tepi rawa-rawa, di pinggiran kota. Bersama kekasih, dia tak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa lagi. Karena itulah dia selalu bersemangat menyambut kematian.

Lelaki itu terbangun. Bau pagi menyeruak di setiap sudut rumahnya. Dia merasa bingung. Tak biasanya seperti itu. Tapi dia tidak terlalu ambil pusing. Dia bahagia telah bertemu kekasihnya. Sekarang yang perlu dia lakukan hanya menunggu kematian berikutnya dengan wajah berseri.

Waktu demi waktu terus berlalu tapi kematian yang dia tunggu tak kunjung datang. Dia mulai gelisah. Dia khawatir kekasihnya terlalu lama menunggu. Dia khawatir kekasihnya tak bisa bersabar terlalu lama kemudian meninggalkannya. Dia tidak bisa seperti itu. Dia panik. Kopi di dapur telah tumpas dan hanya menyisahkan sedikit gula yang berserakan di lantai. Dia benar-benar mulai gelisah. Keringat dingin mulai membutir dan meleleh di keningnya. Dia ingin mati dan menemui kekasihnya. Harus! Tidak boleh tidak.

Lelaki itu berjalan gontai ke rak piring dan menemukan sebilah pisau dapur. Dia meraihnya. Menghunusnya. Aku seperti melihat diriku di mata lelaki yang ditinggalkan kematiaannya. Dia hanya ingin mati. Jadi kalau kematian tak lagi bisa meluangkan sedikit waktu untuk menjenguknya, maka dia sendiri yang akan menjemput kematiannya.

Dia melesapkan ujung mata pisau di antara tulang rusuknya, menyentuh kulit jantung yang berdegup kencang. Dadaku mulai nyeri. Lelaki itu terus saja medorong pisau hingga merobok jantungnya. Dia yang tertusuk, tapi aku yang merasakan sakitnya, tepat di jantungku. Dia telah menjemput kematiannya sendiri. Aku merasa lemas saat laki-laki itu mulai roboh. Kedua matanya terpejam dan bibirnya terkatup. Tak ada sungging senyum pada kematiannya kali ini. Apakah dia benar-benar bahagia dalam kematiannya dan menemukan kekasihnya masih menunggu di bangku di taman surga? Tubuhku terasa semakin lemas. Ah, ternyata beginilah akhirnya.

Di pinggir kota, September-Nopember 2013  


About this entry