Lukisan

1

(Ilustrasi: “From the Lake” by Georgia O’Keeffe)

Cerpen Agus Budiawan

AKU mengenal lelaki itu di sebuah galeri lukisan. Di antara pengunjung galeri dia memang bukan yang paling tampan. Dari penampilannya juga menunjukkan dia bukan lelaki mapan. Tidak adil memang menilainya hanya dari penampilan, tapi penampilan pertama selalu memberikan kesan dan seperti itulah dia mengesaniku.


Rambutnya acak-acakan, kumis dan jenggot tipisnya dibiarkan silang sengkarut. Dia hanya mengenakan kaus dan celana jeans lusuh. Sepatunya kusam berdebu. Dia hanya berdiri atau kadang duduk memandangi satu lukisan di sudut galeri. Dia akan tetap seperti itu sampai malam, menjelang galeri tutup, lalu pergi begitu saja.

Dari beberapa kali kehadirannya, sebelum pergi, dia pernah meluangkan beberapa detik untuk membuang pandang padaku. Saat itu mata kami saling berpapasan, sangat singkat. Matanya seperti lampu yang padam, tak bercahaya. Alisnya tebal sementara garis rahangnya tegas. Dia lelaki yang murung kukira. Pikiran tentang sosok pencuri yang pernah kusematkan padanya pun kubuang jauh-jauh. Dia hanya lelaki yang mengagumi lukisan di sudut galeri itu.

Pengunjung datang silih berganti – ada yang membeli tapi kebanyakan hanya melihat-lihat – tapi lelaki itu tetap terpaku pada lukisan yang sama. Hanya orang aneh yang selalu datang ke sebuah tempat untuk memandangi sesuatu berlama-lama, sementara orang lain mengabaikannya. Dan dia memang orang aneh. Hampir setiap pengunjung hanya melirik pada lukisan itu sebentar kemudian mengacuhkannya. Tetapi tidak dengan lelaki itu. Seperti ada magnet kuat yang tak membiarkannya bergeser sedikitpun dari posisinya.

“Dia hanya memandangi lukisan itu seharian lalu pergi begitu saja,” kataku kepada Ve, teman kuliahku dulu. Dia dulu bekerja di galeri tempatku bekerja sekarang. Dia kemudian keluar dan menawarkan posisi itu kepadaku. Dia sendiri sudah mendapat pekerjaan yang lebih menjanjikan baginya; sebagai sekretaris pribadi pengusaha yang juga menjadi pemilik galeri lukisan ini.

Meskipun tidak tahu banyak tentang lukisan aku tetap menerimanya. Karena itu aku harus belajar mulai dari nol tentang lukisan, bagaimana melayani tamu dan menjualnya. Mulai dari katalog, koran, majalah, sampai artikel tentang lukisan dari internet sudah banyak yang aku baca.

“Ternyata lukisan itu masih di sana?” dia mendengus.

“Aku tak menemukan letak keindahan lukisan itu meskipun sudah kucoba ‘membacanya’ berkali-kali.”

“Tak perlu buang-buang waktu. Memang lukisan itu tak memiliki keindahan,” kata Ve sambil tertawa.

“Setidaknya kau bisa katakan padaku tentang lelaki dan lukisan itu,” pintaku kepada Ve.

Belum sempat menanggapi permintaanku, handphone Ve berbunyi yang kemudian menerimanya dengan suara manja dibuat-buat. Percakapan singkat itu dikhiri dengan kecupan di layar handphone. Itu pasti dari bosnya. Aku sedikit jijik melihatnya. Tapi aku maklum, orang yang sedang jatuh cinta memang sering melakukan tindakan konyol tanpa peduli pendapat sekitar.

“Maaf, aku harus pergi. Lain kali kita bertemu lagi. Daa….!”

Dia pergi begitu saja tanpa memberiku kesempatan untuk menahannya. Jalannya berlenggak-lenggok di atas sepatu highheels setinggi sepuluh centimeter. Dia terlihat belum terbiasa dengan sepatunya hingga masih harus menjaga keseimbangan agar tidak terjerembab. Melihatnya seperti itu aku teringat pada anak-anak yang sedang bermain enggrang di kampung dulu. Aku menghela napas.

Hari-hari berjalan seperti biasa. Pengunjung galeri datang silih berganti. Tidak banyak lukisan terjual. Lelaki murung itu masih terus datang. Aku pun lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran atau browsing internet sambil sesekali mencuri pandang pada lelaki itu. Karena rasa penasaran yang begitu besar akhirnya kuberanikan diri mendekati lelaki itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” menyadari kedatanganku lelaki itu sedikit gugup. Dia memasukkan tanganya ke kantong celana tapi tak hendak mengambil apa-apa. Dia juga menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu beberapa kali. Dia sangat gugup.

“Ah, ti…tidak. Aku cuma….cuma ingin melihat-lihat…” katanya terbata-bata.

“Mungkin ada yang bisa saya bantu?” aku tidak tahu mengapa mengulang pertanyaan itu. Aku merasa sedikit gugup juga. Dilihat dari dekat lelaki itu tidak terlalu buruk.

“Ti…tidak, terima kasih.”

Melihat dia tersiksa dalam rasa gugupnya aku menjadi tidak tega. Aku juga tak tahu harus membuat percakapan semacam apa agar aku dan dia bisa sama-sama nyaman. Jadi aku tinggalkan dia dan kembali ke mejaku sambil sesekali masih mencuri pandang padanya.

***

Hari ini aku akan bertemu dengan Ve seperti yang sudah kami sepakati. Aku berharap dia bisa menepati janjinya untuk menceritakan tentang lelaki itu. Akhir-akhir ini lelaki itu memang telah memenuhi pikiranku, sejak pertama kali melihatnya di galeri. Tidak, aku tidak sedang jatuh cinta. Aku tahu bahwa jantungku tidak berdebar ketika lelaki itu muncul di hadapanku. Aku hanya perempuan yang sedang penasaran.

“Hati-hati, cinta sering datang dari rasa penasaran, April!” kata Ve, menggoda.

“Jatuh cinta? haha..jangan becanda. Ayo ceritai aku.”

“Benar kau sedang jatuh cinta?! Tak kusangka temanku akhirnya jatuh cinta lagi. Setelah sekian lama.”

Hush. Dia lelaki yang aneh. Dia melihatku seperti sedang melihat hantu saja.”

“Jika kau berniat mengganggunya, tentu kamu memang hantu baginya.”

“Sudahlah, Ve, cepat kamu ceritai aku.”

“Benar kamu sedang jatuh cinta, Pril!”

“Terserahlah apa katamu, yang penting ceritai aku.”

“Hahaha…akhirnya kamu mengalah juga,” ejek Ve. “Baiklah, dia sebenarnya lelaki yang baik. Dia menjadi seperti itu mungkin karena terlalu lama menarik diri,” lanjutnya.

“Menarik diri?”

Ve kemudian bercerita tentang lelaki itu, lelaki yang tak pernah diketahui asal-usulnya. Pada suatu hari tiba-tiba saja dia muncul di sebuah perkumpulan seniman lukis. Meskipun tidak cepat bisa berbaur dengan lingkungannya yang baru, dia akhirnya bisa berkembang sebagai pelukis yang berbakat. Beberapa lukisannya berhasil menarik perhatian penikmat dan kurator seni. Beberapa tulisan tentang dirinya dimuat di media lokal maupun nasional. Dalam waktu singkat dia masuk dalam jajaran pelukis muda yang cukup dikenal. Dia mulai sering menghadiri wawancara. Semakin banyak orang yang coba mengulik asal-usulnya. Berhadapan dengan hal semacam itu membuatnya risih dengan popularitas. Dia tidak ingin dikenal sebagai individu. Dia ingin dikenal karena karyanya. Sejak itu dia mulai berubah menjadi aneh.

“Wajar kalau orang ingin tahu dirinya. Harusnya dia tidak menarik diri saat karir sedang menanjak.”

“Semua orang berpikir begitu.”

“Semua orang berpikir begitu? Aku semakin bingung.”

“Ada hal lain yang membuatnya menarik diri. Dan itu lebih menyiksa dari popularitas itu sendiri.”

“Maksudmu?”

“Sebelum menarik diri dan benar-benar menghilang dia sempat menyelesaikan sebuah lukisan yang justru memicu kontroversi.”

Memicu kontroversi, itulah yang dikatakan Ve. Sebelum menghilang, lelaki yang sejak kedatangannya di komunitas memperkenalkan diri dengan nama Batara (selain asal-usulnya nama aslinya pun tak pernah diketahui) itu meninggalkan lukisan berjudul “Cafe di Tepi Sungai” di depan galeri milik bos Ve. Setelah itu dia menghilang semala hampir satu tahun. Lukisannya memang sempat dipajang, tapi akhirnya diturunkan dan dipindahkan ke gudang galeri karena kontroversi yang timbul kemudian.

Apa yang diceritakan Ve kemudian persis seperti pada artikel-artikel yang pernah kubaca di internet. Tulisan itu mengulas tentang lukisan berjudul “Cafe di Tepi Sungai” karya Batara. Tulisan itu dengan tegas menuding bahwa lukisan itu hasil plagiasi dari karya pelukis terkenal Vincent van Gogh, “Cafe Terrace at Night” yang berlokasi di Arles, Prancis. Batara pelukis muda berbakat, memalukan kalau akhirnya dia berusaha menjadi van Gogh dengan lukisannya, lanjut artikel tersebut. Dan pada paragraf terakhir tulisan itu mengatakan bahwa tidak mungkin cafe dalam lukisan Batara berubah nama menjadi Cafe Batara seperti Cafe Terrace yang diubah namanya menjadi Cafe van Gogh. Selain karena dia belum menjadi apa-apa, nama itu juga tidak cocok untuk nama sebuah cafe, tutup artikel tersebut.

“Dia melukis kejujuran. Aku heran mengapa kritik terhadapnya begitu tajam?” kata Ve, geram. Aku semakin bingung dengan tingkah Ve begitu menaruh perhatian pada lelaki itu. “Dia melukis cafe dan sungai yang benar-benar ada. Nyata,” lanjut Ve.

Batara ingin melukiskan suasana cafe di tepi sungai yang membelah kota S, begitu kata Ve. Di tempat itulah dia dan seorang perempuan, mungkin kekasihnya, sering meluangkan waktu sore bersama. Dari beberapa sumber diperoleh kabar bahwa terakhir kali mereka bertemu dalam keadaan tidak baik. Dari wajah keduanya tercium aroma kepedihan. Wajah mereka tampak murung. Setelah saling bersalaman mereka pergi dan sejak itu tak pernah terlihat lagi datang ke cafe tersebut. Beberapa minggu kemudian lelaki itu menghilang dan hanya meninggalkan lukisan di galeri yang memicu kontroversi itu.

Sejak saat itu tak ada yang tahu apa yang membuat mereka berpisah. Si perempuan yang namanya tak dikenal itu tidak pernah diketahui keberadaannya. Namun, sempat ada isu yang menyebut si perempuan bernama Siva. Kabarnya, setelah menikah Siva pindah dan menetap di kota lain. Tentang Batara, ada beberapa kabar yang mengatakan bahwa dia pernah terlihatnya berkeliaran di kota Y. Tetapi itu hanya sebatas isu dan keberadaan mereka masih menjadi misteri.

“Jadi perempuan itu menikah dengan lelaki lain dan meninggalkan Batara.”

“Tak ada yang tahu pasti, April. Semuanya masih sebatas kabar burung.”

“Tapi setidaknya itu bisa dijadikan alasan.”

“Tidak semua butuh alasan, Pril. Ada hal-hal tertentu yang begitu saja terjadi tanpa menunggu alasan.”

Aku mengerti kepedihan Ve. Dia juga pernah mengalami kesedihan menjadi seseorang yang ditinggalkan. Hal yang masih belum bisa aku terima dari Ve adalah dirinya yang sekarang. Aku tahu dirinya yang sekarang bukanlah dirinya yang aku kenal selama ini. Ternyata akibat dari kejadian itu benar-benar telah merubah dirinya menjadi orang yang benar-benar berbeda dan kini menjadi kekasih atau mungkin sudah menjadi istri simpanan bos. Aku tak ingin tak ingin menyiksanya, maka aku tanyakan hal lain.

“Lalu bagaimana nasib lukisan itu?”

“Masih di gudang galeri.”

“Dan lukisan yang kini dipajang di galeri?”

“Setelah lama menghilang, dia begitu saja muncul di galeri membawa sebuah lukisan. Dia datang seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya,” kenang Ve, tersenyum geli. “Pada permunculannya itu dia terlihat begitu murung, seperti yang kau lihat sekarang.”

“Lalu?”

“Sebentar. Jadi benar kau jatuh cinta, Pril?”

“Sudahlah, jangan terus-terusan menggodaku. Ayo lanjutkan ceritamu,” kataku dengan sedikit rengekan.

“Saat itu Batara langsung bertemu dengan bos. Entah apa yang mereka bicarakan, lelaki murung itu keluar dengan membawa lukisan yang terbungkus kain putih yang diambil dari gudang. Keesokan harinya aku sudah mendapati lukisan perempuan murung itu sudah terpasang di sudut galeri,” jelas Ve. “Hm, sebenarnya lukisan itu tidak terlalu buruk. Hanya saja terlalu murung,” Ve menilai.

Aku hanya diam dan mencoba mengingat lukisan yang sering aku amati sejak kedatangan lelaki itu. Ada kemurungan memang. Setidaknya itu penilaianku. Lukisan seorang perempuan berambut panjang duduk di tepi sungai menatap riak sungai yang tenang. Sapuan kuasnya halus, hanya saja warna yang digunakan dominan gelap sehingga kesan kemurungan begitu kuat.

Sejak kedatangannya aku memang sering mengamati lukisan itu, diam-diam. Karena benar-benar tertarik pada lukisannya atau pada pelukisnya aku sendiri tidak tahu. Aku hanya merasa penasaran. Atau benar aku sedang jatuh cinta seperti yang dikatakan Ve? Ah, tidak mungkin aku jatuh cinta kepada lelaki misterius dengan kisah cinta yang tak kalah misterius itu. Bagaimana bisa dia hidup seperti itu?

“Kau melamun, April!” Ve membuyarkan lamunanku.

“Ah, tidak. Tak apa-apa. Benarkah tak ada yang tahu asal-usulnya? Tak ada yang tahu kisah cintanya?”

“Kenapa kamu menjadi begitu perhatian? Tidak salah lagi, kamu jatuh cinta!” Aku sedikit tidak nyaman dengan penilaian itu. Tapi toh aku tidak bisa mengelak dari pandangan Ve yang selalu pandai menerawang isi hatiku. Aku hanya ingin tahu banyak tentang lelaki itu. Kalau itu sudah bisa dikatakan sebagai alasan untuk jatuh cinta, baiklah, aku sedang jatuh cinta.

“Cuma itu yang aku tahu, April.” kata Ve setelah lama menungguku tak angkat bicara. “Dia kan masih sering ke galeri, jadi lebih baik kau sendiri yang cari tahu. Atau temui saja dia di cafe di tepi sungai itu,” lanjut Ve kemudian terkekeh.

“Emm….”

“Sejak dia kembali, cafe itulah satu-satunya tempat yang sering dia kunjungi.”

“Menunggu kekasihnya yang pergi entah kemana?”

“Ah, kau cemburu, April!”

“Berhentilah menggodaku!”

Kami berdua sama-sama tertawa.

Gelas berisi lemon tea di hadapan Ve sudah kosong. Sedangkan milikku masih setengah. Kami diam sejenak. Jari telunjuk Ve sibuk menggeser-geser layar handphone-nya. Dia sibuk sendiri. Aku juga sibuk dengan pikiranku sendiri; tentang lelaki itu dan juga tentang perasaanku. Kuraih gelas di hadapanku dan menenggak isinya sampai tumpas. Suara sendawa lirih keluar dari kerongkonganku. Mengetahui itu Ve langsung mendongakkan wajah ke arahku. Sejenak kami saling bersitatap kemudian kami sama-sama tertawa bahak.

Pertemuan kami berakhir setelah Ve menerima panggilan yang aku tahu dari bosnya, yang mungkin sudah menjadi kekasihnya atau lebih jauh sudah menjadi suaminya. Dia tak pernah mendengarkan kata-kataku untuk tidak terlalu jauh berhubungan dengan lelaki yang sudah berkeluarga, apalagi dengan empat anak, seperti bosnya itu. Tapi Ve yang sekarang bukanlah Ve yang dulu lagi. Dia benar-benar menjadi seseorang yang jauh berbeda. Meski begitu, sebagai teman aku hanya bisa mendoakan semoga dia tidak menyesal dengan hidup yang dia jalani sekarang.

***

Pada siang itu aku datang agak terlambat ke galeri. Bos pemilik galeri, yang mungkin juga sudah menjadikan Ve sebagai istri simpanannya, memaklumi keterlambatanku. Bahkan sebelum berangkat, dia sempat mengirim pesan bahwa Batara akan datang untuk mengambil lukisannya. Aku merasa tidak ada yang penting dari pesan itu; hanya perlu membiarkan lelaki itu datang, mengambil lukisannya, dan kemudian pergi tanpa meneriakinya sebagai pencuri.

Setelah sampai di galeri, aku melihat lelaki itu sudah berdiri di tempat biasanya. Dia terlihat begitu senang. Wajahnya yang biasanya murung kini sedikit dijenguk senyum di balik kumis dan jenggotnya yang tipis. Dinding di mana menjadi semacam altar baginya kini kosong. Lukisan itu sudah tidak ada di tempatnya, tapi sudah ada di tangannya, terbungkus kain putih.

Dia menoleh kepadaku saat menyadari kehadiranku. Tatapannya yang selama ini begitu dingin menjadi terasa hangat. Lelaki itu berjalan ke arahku. Dia tak lagi terlihat gugup seperti saat pertama kali aku menyapanya. Aku tak kuasa menolak untuk berjabat tangan saat dia mengulurkan tangan padaku. Saat itu aku merasakan jantung memompa darah terlalu berlebihan. Aku memang perempuan yang tidak mudah jatuh cinta, tapi saat ini aku merasa sedang jatuh… cinta.

“Perkenalkan. Awan.”

“Maaf?”

“Aku hanya ingin memperkenalkan nama.”

Awan? Selama ini dia hanya mau dikenal sebagai Batara dan kini memperkenalkan diri dengan nama Awan? Tiba-tiba saja aku teringat perkataan Ve beberapa hari yang lalu, “Lelaki cenderung menghamba pada kebohongan, tapi di hadapan orang yang dicintainya mereka cenderung menjadi pemuja kejujuran.”

“April.”

“Baiklah. Terima kasih, April. Aku tidak akan merepotkanmu lagi,” kata lelaki itu sambil tersenyum.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya mengangguk kecil dan membalas senyumnya. Dia berbalik ke pintu keluar dan pergi. Tapi baru beberapa langkah sebelum sampai di pintu, dia berhenti kemudian berbalik ke arahku.

“Kalau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu minum kopi di cafe di tepi sungai sana.”

Ada apa dengan lelaki itu? Terakhir kali kami bicara dia begitu gugup seperti sedang melihat setan. Baru tadi dia ingin berkenalan dengan nama yang tidak pernah kudengar selama ini. Kini dia berbicara seperti lelaki yang penuh rasa percaya diri. Lebih parahnya, dia sedang mengajakku berkencan secara terang-terangan. Kau ini semacam lelaki apa, Batara? Oh, tidak, Awan? Ah, bahkan nama aslimu pun aku belum tahu.

“Mungkin lain kali,” kataku sambil membuang muka ke sana ke mari.

Sebenarnya tidak ada yang salah. Aku senang dengan keterusterangannya mengajakku berkencan. Hanya saja itu terlalu cepat dan terlalu mengejutkanku. Bagaimana mungkin lelaki yang begitu murung bisa berubah begitu cepat? Aku kemudian teringat Ve. Apakah di belakang ini semua ada peran Ve atau bosnya? Atau mereka berdua bersekongkol untuk ini?

Dia tidak marah atas penolakanku. Dia tersenyum sambil berlalu keluar dari galeri, sementara mataku terus terpaku pada punggungnya sampai hilang di sebuah gang. Setelah hari itu aku tak pernah melihatnya lagi datang ke galeri. Aku merasa rindu. Suatu hari aku berharap bisa menemuinya di cafe di tepi sungai yang membelah kota S itu. (*)

Gresik, September-November 2013


About this entry