Pasar Malam

1

(Ilustrasi: “Quarrels in a Forest” by Patrick Ngoho)

Cerpen Agus Budiawan

Kampung Kerong bergairah. Kampung yang biasanya adem-adem saja ini mendadak begitu riuh. Sebentar lagi akan ada pasar malam. Maka kampung ini seperti macan yang baru bangun tidur; mengaum, berisik. Ini tak lepas dari terpilihnya lurah baru. Sejak lama kampung ini dipimpin oleh lurah alim yang tak mengizinkan diadakan perayaan-perayaan yang menjurus pada kemaksiatan, pasar malam salah satunya.

Pada benak lurah sebelumnya, Haji Mi’un, pasar malam identik dengan senang-senang, laki-laki dan perempuan bukan muhrim bisa dengan leluasa bergandeng-gandengan tangan, atau lebih parah pacaran di depan umum tanpa malu-malu. Pasar malam, yang biasanya diisi dengan hiburan musik dangdut, sering menimbulkan tawuran, lebih-lebih penyanyi dangdut yang sudah identik dengan mini dan goyang erotis. Maka pasar malam dilarang.

Selama Lurah Haji Mi’un menjabat selama itu pula di kampung Kerong tidak pernah ada hiburan lain selain pengajian. Acara itu memang rame, tapi hanya dihadiri oleh orang-orang yang sudah mendekati liang kubur. Sedangkan para pemudanya lebih memilih nonton konser dangdut ke kampung lain, dan pulang-pulang dengan membawa kabar buruk, mabuk dan tawuran. Kejadian-kejadian semacam itu menjadi alasan Haji Mi’un untuk tetap melarang hiburan jenis apapun digelar di kampung Terong ini – nama pelesetan itulah yang sering digunakan oleh para pemuda kampung itu atau kampung lain, dan menjadi nama yang selalu disebut dalam kesehariannya.

Pernah suatu ketika Haji Mi’un melihat ada pemuda yang mabuk di tongkrongan pinggir jalan dekat telaga. Barangkali dia sudah bosan sering menasehati dan yang dinasehati tidak menggubris. Pemuda bernama Jurik – yang memang gemar mabuk dan bikin onar di kampung – diangkatnya dan menceburkannya ke telaga.

“Sampah masyarakat!” gumamnya sambil mengusap-ngusap kedua telapak tangannya seperti habis membuang sampah.

Tapi itu hampir bertahun-tahun yang lalu, saat Haji Mi’un masih belum setua ini, saat dia masih kuat mengangkat satu karung gabah sendirian, dan tentu saja sebelum dia stroke dan lumpuh permanen. Karena sudah tidak bisa memimpin kampung, maka terpaksa pemilihan lurah baru dilakukan dan terpilihlah Sudarmono, pemilik usaha orkes tunggal keliling, sebagai lurah baru. Sudarmono merasakan betul bagaimana tidak enaknya tidak bisa manggung di kampungnya sendiri di bawah kepemimpinan Haji Mi’un.

“Kalau saya terpilih, akan saya adakan pasar malam tujuh hari tujuh malam!” orasi Sudarmono dalam pencalonan dirinya sebagai lurah baru. Mendengar itu tentu saja hadirin yang hampir semuanya pemuda itu bersorak senang. Sementara para tetua yang menjagokan calon lurah lainnya yang tidak lain anak dari Haji Mu’in, Ustad Roif, hanya bisa mendengus-dengus. Kesal.

Dalam pemilihan beberapa minggu kemudian Sudarmono pun terpilih sebagai lurah yang baru. Isu tentang kecurangan Sudarmono pun menyebar dari dapur-dapur setiap warga dan dengan cepat menyebar ke pasar kampung hampir di setiap pagi. Banyak orang yang mengaku menerima uang dan diminta memilih Sudarmono. Tapi lama-lama diketahui bahwa itu hanya akal-akalan loyalis Haji Mi’un yang menjadi tim sukses pencalonan Ustad Roif.

Setelah terpilih dan dinyatakan menang dengan cara yang legal, Sudarmono langsung mengganti pejabat-pejabat kelurahan yang dianggap sudah melewati masa produktif untuk digantikan oleh yang lebih muda dan energik. Setelah itu dibentuklah panitia pertunjukkan akbar pertama di kampung Terong ini.

“Kita tinggal menunggu azab, Tuhan,” gerutu pendukung Ustadz Roif.

“Benar-benar maksiat!!” pekik pendukung yang lain.

Mereka yang kalah hanya bisa mengumpat dalam hati dan ke sesama pendukung. Mereka berencana boikot dari acara tersebut. Mereka akan melarang anak, istri, dan saudara-saudara mereka pergi ke pasar malam yang akan diadakan. Mereka kemudian berencana berkumpul di masjid setiap malam selama tujuh hari untuk berdzikir, bershalawat, dan berdoa memohon ampun dan keselamatan kampung Terang dari azab pedih.

“Mau jadi apa kampung kita ini kalau pasar malam jadi diadakan?,” sesal Haji Mu’in yang tergolek tak berdaya di kamarnya. Di sekelilingnya adalah para pengikut setia sang haji yang datang menjengung sembari melaporkan huru-hara yang kemungkinan timbul dari acara nyeleneh lurah baru Sudarmono.

“Mohon maaf, Pak Haji, kami tidak bejus mengurusi kemenangan Ustad,” kata Wak Tohir, carik kampung sebelumnya.

“Ya, mau bagaimana lagi. Banyak berdoa saja supaya kampung kita tidak terkena musibah,” seisi kamar menganggung-ngangguk hikmat.

“Apa yang harus kami lakukan, Pak Haji?”

“Himbau saja orang-orang kampung, terutama istri-istri dan anak-anak kita untuk tidak menghadiri pasar malam setan itu,” saran Wak Tasam, juru ketik kelurahan sebelumnya. Haji Mi’un setuju.

Pertemuan kecil itu pun berakhir. Satu per satu dari mereka pergi ke rumah masing-masing. Mereka mulai melarang anak-anak mereka agar tidak mendatangi pasar malam. Pada anak yang masih kecil mereka menakut-nakuti kalau di pasar malam banyak sundel bolong, perempuan berambut panjang tapi punggunggnya bolong. Jelas itu gambaran mereka tentang penyanyi-penyanyi dangdut yang kalau berpakaian seperti kekurangan bahan. Pada istri-istri, mereka melarang agar tidak pergi ke tempat maksiat dan lebih baik para istri menurut pada suami, karena itulah yang diwajibkan tuhan.

“Kalau untuk dagang kan gak masalah, Pakne,” kata istri Wak Tohir yang setiap pagi jualan gorengan di pasar kampung.

“Tetap tidak boleh, di tempat seperti itu rejekinya tidak halal,” kata Wak Tohir bersikukuh.

“Saya kan berjualan, Pakne, ndak ngutil.”

“Tidak boleh ya tidak boleh.”

“Kenapa? Duitnya banyak, Pakne. Lagi pula Pakne sudah tidak jadi carik lagi, anak-anak butuh uang jajan,” kata istri Wak Tohir tak mau kalah, “Lagian tidak ada ceritanya rejeki haram dari berdagang!” istri Wak Tohir naik pitam.

Wak Tohir hanya diam saja, tak bisa membantah. Selama ini yang dia bisa memang hanya bekerja sebagai carik, sekretaris kalau istilah kerennya. Gaji sebagai carik juga tidak cukup, karena itu istrinya masih harus jualan gorengan di pasar kampung. Setelah lengser dari jabatannya selama kurang lebih dua puluh tahun, dia tidak memiliki pekerjaan lainnya, hanya diam di rumah atau sesekali membantu istrinya menggoreng pisang atau ote-ote.

Upaya mereka gagal, lebih-lebih mereka yang memiliki anak yang memasuki usia remaja cenderung dewasa. Saat hajatan besar dimulai, banyak anak-anak dan ibu-ibu – tak ketinggalan juga nenek-nenek – berduyun-duyun ke tempat diadakannya pasar malam. Stand-stand bazar didirika dengan biaya sewa murah. Pedagang kampung Terong yang biasanya hanya berjualan di pasar kampung setiap pagi bisa meraup untung berlipat-lipat, termasuk istri Wak Tohir.  Pedagang dari luar kampung pun tak tertinggalan ikut meraup untung. Pelbagai permainan tumpah ruah di lapangan kampung yang luasnya seukuran lapangan bola. Lapangan milik kampung awalnya tak terurus. Ilalang dan pelbagai macam rumput liar tumbuh di sana dan biasanya hanya digunakan untuk ngarit atau menggembala sapi dan kambing. Dua minggu sebelum hari H, para pemuda dan perangkat kampung sudah dikerahkan untuk membersihkannya.

“Ingat! tidak ada minuman keras, tidak ada tawuran!” pesan lurah Sudarmono kepada para pemuda kampung yang dikumpulkan di balai desa. Banyak dari pemuda tidak senang, lebih lebih Jurik yang memang suka mabuk dan bikin onar jika ada orkes dangdut di kampung lain. Maka tidak heran kalau di luar sana dia memiliki banyak musuh. Sebagai anak yatim piatu, Jurik memang tidak terurus dan tumbuh menjadi pemuda yang bisa dimasukkan dalam kategori sampah masyarakat.

“Kalau sampai ada keributan, pegang janji saya. Dengarkan,” mata Sudarmono mengamati wajah pemuda-pemuda yang ada di hadapannya. “Pegang janji saya. Kalau sampai ada keributan, saya pastikan tidak akan ada lagi pasar malam atau hiburan dalam bentuk apapun seperti waktu Haji Mi’un menjabat,” ucap Sudarmono tegas.

Para pemuda melongo sebentar, kemudian mengangguk-angguk. Mereka kemudian bubar.

“Sebentar, Jurik,” panggil Sudarmono. Pemuda yang bernama Jurik berhenti dan berbalik menghadap lurah.

“Jangan sampai aku melemparmu ke telaga seperti yang dilakukan Haji Mi’un dulu.” Mendengar itu Jurik malah tertawa menunjukkan giginya yang menguning. “Beres, Pak Lurah!” kata Jurik sambil mengangkat jempolnya. Dia pun berlalu.

***

Hari pertama, kedua, dan ketiga acara pasar malam berjalan mulus tanpa keributan apa-apa. Tidak ada konser dangdut. Yang ada hanya bermacam-macam lagu yang keluar dari sound pemilik wahana-wahana permainan. Mereka seperti saling bersaing mengeraskan suara untuk menarik pengunjung, sehingga yang terdengar menjadi alunan musik yang tidak beraturan. Acakadut.

“Mak, naik itu!”

“Pak, beli itu!”

“Mak, pipis!”

“Pak, gak mau pulang!”

Pasar malam riuh rendah sepanjang siang dan malam, hanya saja waktu malam lebih ramai. Stand martabak, satai, bakso ramai pengunjung sementara stand aksesori sedikit sepi. Dan mudah ditebak stand yang paling ramai dan banyak didatangi ibu-ibu adalah yang menjual pakaian murah yang dipasangi tulisan diskon sampai 50% besar-besar.

Di atas wahana permaianan tawa riang anak-anak diredam oleh suara full power dari soundsystem mereka, jadi yang terlihat hanya mulut mereka yang menganga. Permainan kereta mini, memancing ikan, mandi bola, bianglala, kebanyakan diisi anak-anak kecil, sementara yang remaja hanya jalan-jalan mengitari pasar malam, tapi tetap saja yang lebih banyak adalah remaja yang duduk-duduk di atas motor di dekat semak-semak gelap; pacaran. Ada beberapa pemuda dan pemudi dari kampung Terong, tapi yang paling banyak dari kampung lain. Sementara pemuda-pemuda kampung Terong, yang dipimpin Jurik, mulai hari pertama samapi keenam masih jarang terlihat, mungkin karena belum ada orkes dangdut.

Orkes dangdut sengaja diadakan pada puncak acara pada malam hari di hari ketujuh. Jadi selama hari pertama sampai hari keenam Jurik dan teman-temannya lebih sering berada di warung kopi tidak jauh dari pasar malam. Mereka hanya bermain kartu remi atau domino, sambil sesekali menggodai remaja-remaja putri yang sedang lewat di depan mereka, tak peduli gadis itu lewat bersama pacarnya atau dengan ibu mereka. Gadis yang tidak bersama pacarnya atau orang tuanya takut lewat di hadapan mereka dan lebih memilih jalan lain walau lebih jauh.

“Anget-angetannya sudah ada, Bro?” tanya Jurik kepada temannya pada siang hari ketujuh. Yang dimaksud anget-angetan tentu saja minuman keras, bukan teh hangat atau kopi.

“Beres, Mas Bro…!!” Mendengar itu Jurik pun tertawa menyeringai, menunjukkan barisan giginya yang tergerus alkohol dan nikotin rokok.

“Jangan lupa gaman-nya juga…!!” yang disuruh menunjukkan jempol jarinya, pertanda siap.

Pada malam ketujuh, suara checksound dangdut sudah berdengung-dengung sebelum maghrib. Seperti biasanya acara puncak akan diadakan setelah shalat isya’. Selama penyelenggaraan acara tidak ada protes yang dilayangkan Haji Mi’un dan pendukung-pendukungnya. Mungkin mereka sedang khusuk-khusuknya di masjid. Sesekali hanya Wak Tohir yang terlihat menemani anak perempuannya yang masih berusia lima tahun di pasar malam, atau membantu istrinya berjaualan gorengan yang banyak pembeli.

Saat lagu dangdut akan dimulai, Jurik dan teman-temannya datang – kira-kira lima belas sampai dua puluhan orang – berjalan terhuyung-huyung menuju depan panggung di tengah-tengah pasar malam. Seperti biasanya mereka menenggak minuman keras terlebih dahulu. Tak ada yang tahu benda apa yang mereka sembunyikan di balik pakaian mereka.

Seperti kebiasaan acara dangdut, banyak pemuda dari kampung-kampung lain berdatangan, tentu selain melihat dangdut mereka memiliki maksud lain. Tawuran. Setiap pemuda kampung memiliki perkumpulan geng. Geng dari satu kampung dengan kampung lain bisa bergabung dengan sebutan brotherhood karena alasan memiliki musuh yang sama. Jadi ketika acara dangdut akan dimulai, sudah banyak berdatangan pemuda-pemuda dari kampung-kampung lain dengan ciri penampilan masing-masing.

“Aku pipis dulu, Bro!” pamit Jurik kepada teman-temannya yang akan memasuki medan perdangdutan.

Jurik kemudian berjalan sempoyongan menuju semak-semak sepi dan gelap sementara kawan yang lain terus berjalan memasuki medan joged.Suara gendang dan suling bersahut-sahutan, sesekali diselingi tabuhan secara bersamaan dengan pekikan josssss. Dari semua pemegang alat musik, pemegang cimbal merangkap suling adalah yang paling all out saat bergoyang. Sementara penyanyi dangdut yang tidak terlalu vulgar – memang sudah diwanti-wanti lurah baru agar tetap sopan – tidak mengurangi hipnotis para pemuda yang bergoyang tak karuan, kebanyakan karena pengaruh minuman keras.

Dua lagu dengan dua biduan berbeda sudah menggoyang panggung, tapi Jurik belum bergabung dengan kawan-kawannya. Mereka tidak terlalu khawatir dan tetap mengikuti lagu-lagu selanjutnya. Lagu yang sedang booming “Buka Dikit Joss” dimainkan. Para pemuda berjoged tak karuan seperti kebo giras. Pada saat ini efek minuman keras sudah bekerja dengan sangat baik. Dan, sedikit senggol saja mengakibatkan kerusuhan kecil bisa dengan cepat menyebar menjadi besar. Para petugas kepolisian kecamatan yang didatangkan untuk mengamankan acara dengan sigap mengatasi kerusuhan dengan pentungannya. Gebukan demi gebukan dilancarkan demi meredam mereka yang kesetanan. Sejenak aman, sejenak rusuh, sejenak aman, sejenak rusuh. Lurah Sudarmono kemudian naik ke atas panggung untuk menghentikan acara ketika kerusuhan semakin membesar dan sudah tidak bisa diatasi. Banyak pemuda yang terluka dan tidak sedikit yang kemudian digelandang ke pos polisi. Pasar malam itu berakhir dengan kekacauan. Tapi, Jurik tetap belum terlihat batang hidungnya.

Esok harinya, ketika para pemilik stand dagangan dan wahana permainan sedang membongkar lapak mereka, terdengar teriakan histeris. Di semak-semak di temukan sesosok mayat. Pedagang dari kampung lain yang menemukannya tidak tahu siapa pemuda itu, tapi kerumaunan yang datang akhirnya mengenalinya.

“Juki mati! Juki mati!” teriak seorang ibu.

Juki ditemukan tergeletak dikerubungi lalat dengan pisau dapur menancap di perutnya. Darah segar memerahkan bajunya yang hitam. Mulutnya menganga bau alkohol. Di selangkangan celananya basah dan berbau pesing. Lurah baru yang mendapat kabar segera menghubungi polisi kecamatan sekaligus ambulan. Mayat Juki diangkut ke dalam ambulan untuk dibawa ke rumah sakit kabupaten guna keperluan penyelidikan. Untuk sementara ini, polisi menyatakan bahwa Juki menjadi korban tawuran.

Setelah raungan sirine ambulan mulai menghilang dari pendengaran, orang-orang yang berkerumun membubarkan diri. Lurah Sudarmono kembali ke balai desa sambil sesekali menyekah keringat di kening dan tengkuknya dengan sapu tangan. Para pemilik stand melanjutkan pekerjaannya. Sementara tampat dimana Juki ditemukan tewas sudah dipasangi garis polisi. (*)

Omah Indah, November 2013


About this entry