Kadang Aku Tak Suka pada Jadwal Kereta yang Tepat Waktu

stasiun-pasar-turi-kereta-kertajaya

(“Stasiun Pasar Turi” by http://www.thedreamerblog.com)

Kadang aku tak suka pada jadwal kereta yang datang tepat waktu. Seperti sore ini, ketika langit Surabaya mulai sendu di keremangan menjelang senja hari. Stasiun lagi-lagi menjadi pemberangkatan yang menawarkan berjuta melankoli. Ia menjadi tempat tunggu dan pemberangkatan yang sempurna.

Di sana ada tangan-tangan yang saling menjabat dan mulut-mulut saling berucap. Entah ada berapa doa yang terucap dalam gumam sebagai bekal perjalanan. Di dalam kereta, aku menemukan suara, entah apa.

Dalam kereta.
Hujan menebal jendela

Semarang, Solo…, makin dekat saja
Menangkup senja.

Menguak purnama.
Caya menyayat mulut dan mata.
Menjengking kereta. Menjengking jiwa,

Sayatan terus ke dada

(“Dalam Kereta”, Chairil Anwar, 15 Maret 1944)

Aku memang pernah merasakan bagaimana tidak enaknya menunggu kereta yang datang terlambat. Tapi, terkadang aku juga tak suka pada jadwal kereta yang tepat waktu. Dan, ketika kutulis ini, aku sudah duduk manis di dalam gerbong kereta Gumarang, di kursi empuk nomor 1B, gerbong bisnis nomor 2. Aku kira ini hanya perkara nomor duduk semata. Tapi, baru aku tahu bahwa dalam rangkaian gerbong ini disekat-sekat berdasarkan kelas. Dua gerbong paling depan untuk kelas eksekutif, tiga gerbong selanjutnya kelas bisnis, dan sebelum gerbong barang ada beberapa, entah berapa pastinya, gerbong kelas ekonomi.

Foto1052

Seharusnya perjalanan panjang ini bisa menawarkan banyak hal, tapi apa yang bisa aku peroleh dari kereta malam kecuali lampu-lampu di seberang jendela? Meski begitu, perjalanan ini tetap saja menarik dengan iringan deru kereta dan alunan lagu-lagu dari playlist winamp lapton ini. Sebenarnya tulisan ini sangat tidak penting, hanya saja ada rasa gelisah yang hanya bisa diobati dengan menuliskannya.

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu

Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya

Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu

Entah kapan kau bisa kutangkap

(“Nocturno”, Sapardi Djoko Damono,)

Maka, aku tulis sedikit catatan ini saat hari di luar sana sudah benar-benar gelap, sementara di gerbong ini lampu neon sudah sejak tadi dinyalakan. Meskipun hanya gelap, dan sesekali disuguhi lampu-lampu redup ketika melewati perkampungan kecil, aku enggan menarik tirai jendela. Aku ingin menikmatinya; kegelapan juga bisa mengasyikkan. Banyak rahasia di sana. Dan aku ingin, atau setidaknya membayangkan, bisa menemukan satu dari sekian rahasia yang ada.

Foto1049

Dan, inilah sedikit rahasia yang bisa kubayangkan. Bahwa, di antara perkampungan yang sudah atau akan aku lewati bersama kereta ini, ada seorang ibu yang mungkin sedang menitikkan air mata saat melepas anaknya pergi jauh. Entahlah, aku tak bisa menerjemahkan yang lain tentang air mata ibu kecuali air mata kasih sayang. Bukankah hidup memang perkara meninggalkan atau ditinggalkan? Dan aku tahu kesedihan yang meninggalkan tidak lebih dalam daripada yang ditinggalkan. Aku melihat itu di mata ibuku, di suatu sore saat matahari siang begitu terik, saat aku pamit untuk pergi. Aku pun pergi tanpa berani menatap mata yang sendu itu.

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

(“Ibu”, D. Zawawi Imron)

Banyangan ibu, dan juga bapak, tidak bisa hilang membayang di bingkai jendela.

stasiun-gambir-2-lonely

(Stasiun Gambir by Kompas)

Kereta terus membelah malam dengan menyisakan deru untuk telinga-telinga yang menunggu. Jika mencintaimu adalah perjalanan panjang, maka aku akan segera berkemas.

Di Gerbong Kereta, Surabaya–Jakarta (6–7 Desember 2013)


About this entry