TIM dan Kelas Borjuis: Sedikit Mengorek Jejak Ali Sadikin

1-pameran-dokumentasi-poster-dkj-outoftheboxindonesia

(Sumber foto: outoftheboxindonesia.wordpress.com)

“Tanpa seni, dunia akan kejam”. Pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin itu memang ada benarnya. Seni yang membawa pesan perdamaian memang mampu mengimbangi kejamnya dunia. Tidak heran, banyak kampanye perdamaian menggunakan seni sebagai medianya.

Semua hal mengenai Ali Sadikin terekam apik dalam sebuah film dokumenter berjudul Jejak Bang Ali karya Tinta Merah. Film berdurasi 40 menit itu ditayangkan pada tanggal 20–22 Desember 2013 di Teater Salihara.

Semasa menjabat Gubernur, Bang Ali –sapaan Ali Sadikin– membangun sebuah pusat seni yang diberi nama Taman Ismail Marzuki (TIM). TIM menjadi simbol pamor kesenian Jakarta, sekaligus satu dari banyak peninggalan Bang Ali yang memiliki peranan penting. Mulai bermunculannya komunitas-komunitas seni yang lahir dari TIM membuat seni begitu berkembang. Mulai dari pertunjukan teater, tari, musik, sastra, dan lainnya. Semua hidup berdampingan dalam atmosfer yang nyaman.

Kini taman yang dulu menjadi ruang untuk berekspresi para seniman itu hanya menjadi tempat nongkrong anak muda. Tidak ada lagi aktivitas seni seintens masa kejayaannya. Yang tersisa hanya pertunjukan eksklusif yang hanya bisa ditonton oleh orang-orang berduit. Seni yang dulu menjadi konsumsi masyarakat dari segala kalangan kini menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.

Film dokumenter itu mengisahkan tentang peran Ali Sadikin dan sejumlah seniman dalam membangun TIM. Film dari hasil kompetisi Hibah Karya yang diselenggarakan oleh Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN) itu berkisah tentang masa penggagasan ide pembuatan wadah seni yang dikenal dengan nama Taman Ismail Marzuki (TIM).

Di satu sisi, para penonton disuguhi penuturan tentang pentingnya sebuah wadah berkesenian di sebuah kota. Namun, di sisi disesalkan tentang wadah berkesenian yang dibangun hasil pemikiran panjang itu hampir menghilang dari pandangan mata.

”Kami ingin seni dikembalikan lagi ke masyarakat,” kata sutradara Jejak Bang Ali, Arum Tresnaningtyas Dayuputri, kepada Jawa Pos kemarin (22/12).

Namun, harapan itu sepertinya sulit terwujud. Harga sewa gedung pertunjukan di TIM yang mahal akan mencekik para penikmatnya, yang harus merogoh kocek dalam untuk menikmati pertunjukan. Tidak heran jika pada akhirnya para seniman memilih tempat lain untuk melakukan pertunjukan. Dan bukan hal aneh jika pada akhirnya TIM ditinggalkan oleh tuan rumahnya.

”Saya ingin Jokowi menonton film dokumenter ini agar beliau melihat kondisi wadah kesenian Jakarta itu seperti apa. Karena sebetulnya, sebuah kota masih butuh wadah berkesenian dan itu harus mendapat dukungan dari pemerintah,” tutur Arum.

Tokoh-tokoh seni dan budaya yang ikut terjun langsung dalam gagasan perancangan TIM bersama Ali Sadikin, antara lain, Goenawan Mohamad, Salim Said, dan Ajip Rosidi. Mereka turut menyumbangkan ide pendirian wadah tersebut. Ada juga Christian Wibisono, salah seorang penggagas dana pembangunan TIM bisa mengambil dari pajak judi. Putu Wijaya dan Ratna Sarumpaet pun ikut menuangkan pemikiran mereka terhadap isu tersebut.

Sekilas tentang TIM

Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang populer disebut Taman Ismail Marzuki (TIM) merupakan sebuah pusat kesenian dan kebudayaan yang berlokasi di jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Di sini terletak Institut Kesenian Jakarta dan Planetarium Jakarta. Selain itu, TIM juga memiliki enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, dan bioskop.

Acara-acara seni dan budaya dipertunjukkan secara rutin di pusat kesenian ini, termasuk pementasan drama, tari, wayang, musik, pembacaan puisi, pameran lukisan dan pertunjukan film. Berbagai jenis kesenian tradisional dan kontemporer, baik yang merupakan tradisi asli Indonesia maupun dari luar negeri juga dapat ditemukan di tempat ini.

Nama pusat kesenian ini berasal dari nama pencipta lagu terkenal Indonesia, Ismail Marzuki.

Sejarah

Diresmikan pembukaannya oleh Gubernur Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta Jenderal Marinir Ali Sadikin, tanggal 10 November 1968. TIM dibangun di atas areal tanah seluas sembilan hektar. Dulu tempat ini dikenal sebagai ruang rekreasi umum ‘Taman Raden Saleh’ (TRS) yang merupakan Kebun BinatangJakarta sebelum dipindahkan ke Ragunan. Pengunjung ‘TRS’ selain dapat menikmati kesejukan paru-paru kota dan melihat sejumlah hewan, juga bisa nonton balap anjing di lintasan ‘Balap Anjing’ yang kini berubah menjadi kantor dan ruang kuliah mahasiswa fakultas perfilman dan televisi IKJ. Ada juga lapangan bermain sepatu roda berlantai semen. Fasilitas lainnya ialah dua gedung bioskop, Garden Hall dan Podium melengkapi suasana hiburan malam bagi warga yang suka nonton film. Tetapi sejak 37 tahun lalu suasana seperti itu tidak lagi dapat ditemukan. Khususnya setelah Bang Ali menyulap tempat ini menjadi Pusat Kesenian Jakarta TIM.

Ruang Ekspresi

TIM sejak berdiri tahun 1968 lalu hingga kini telah menjadi ruang ekspresi seniman yang menyajikan karya-karya inovatif. Pertunjukkan eksperimen, suatu dunia atau karya seni yang sarat dengan dunia ide. Membuka pintu seluas-luasnya bagi ruang berfikir dan berkreasi menuju seni yang berkualitas. Untuk beberapa waktu lamanya harapan muncul suatu karya dalam dunia penciptaan, menjadi kenyataan. Panggung TIM menjadi marak dengan karya-karya eksperimen yang sarat ide. Ini ditandai oleh sejumlah kreator seni yang sempat membuka peta baru di atas pentas. DiantaranyaRendra, pimpinan Bengkel Teater Yogya dari kampung Ketanggungan Wetan Yogyakarta. Awalnya karya Rendra, berupa drama “Be Bop” atau drama mini kata “SSSTTT” ditayangkan dilayar kaca TVRI. Menyusul pentas drama klasik Yunani “Oedipus Rex“, “Menunggu Godot“, “Hamlet” dan karya pentas mini kata lainnya.

Koregrafer kondang, Sardono W. Kusumo, lewat pentas tari “Samgita Pancasona” menyuguhkan konsep gerak yang memiliki skala tak terbatas. Balerina terkemuka, Farida Oetojo mewarnai TIM denga karya baletnya yang berani. Slamet Abdul Syukur, yang lama bermukim di Perancis menggedor publik dengan konser piano “Sumbat” yang membuat penonton terpana. Sutradara teaterArifin C. Noer, Teguh Karya, Suyatna Anirun (Bandung), mempesona publik. Koreografer senior, Bagong Kusudiardjo, Huriah Adam, pelukis Affandi, Trisno Soemardjo, Hendra Gunawan, Agus Djaya, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Rusli, Rustamadji, Mustika mengisi TIM dengan karya-karya mereka yang indah dan artistik.

Fasilitas

  • Graha Bhakti Budaya
    • Graha Bhakti Budaya (GBB) adalah Gedung Pertunjukan yang besar, mempunyai kapasitas 800 kursi, 600 kursi berada di bawah dan 200 kursi di balkon. Panggung GBB berukuran 15m x 10m x 6m. Gedung ini dapat dipergunakan untuk gedung pertunjukan konser musik, teater baik tradisional maupun modern, tari, film, dan dilengkapi dengan tata cahaya, sound sistem akustik, serta pendingin ruangan.
  • Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III
    • Galeri Cipta II (GC II) adalah ruang pameran yang lebih besar dari Galeri Cipta III (GC III). Kedua ruang tersebut dapat dipergunakan untuk pameran seni lukis, seni patung, diskusi dan seminar, dan pemutaran film pendek. Gedung ini dapat memuat sekitar 80 lukisan dan 20 patung serta dilengkapi dengan pendingin ruangan, tata cahaya khusus, tata suara serta panel yang dapat dipindah-pindahkan.
  • Teater Kecil/Teater Studio
    • Merupakan gedung pertunjukan yang dipersiapkan untuk 200 orang. Gedung ini mempunyai banyak fungsi seperti seni pertunjukan teater, musik, pembacaan puisi, seminar,dll. Teater Kecil mempunyai ukuran panggung 10m x 5m x 6m. Gedung ini juga dilengkapi sistem akustik, tata cahaya dan pendingin ruangan.
  • Teater Halaman (Studio Pertunjukan Seni)
    • Dipersiapkan untuk pertunjukan seni eksperimen bagi seniman muda teater dan puisi, mempunyai kapasitas penonton yang fleksibel.
  • Plaza dan Halaman
    • TIM mempunyai areal parkir yang cukup luas yang merupakan lahan serba guna dan dapat dipergunakan untuk berbagai pertunjukkan kesenian open air.

(Sumber: Jawa Pos, 23 Desember 2013 dan Wikipedia)


About this entry