SAMBANG: Gereja-Gereja Tua di Jakarta

Gereja immanuel-har (1)

Jakarta memiliki sejumlah gereja yang menjadi saksi sejarah tentang perkembangan Kristen di ibu kota. Kendati berusia ratusan tahun, gereja-gereja itu tetap berdiri kokoh dan menjadi pusat ibadah umat Kristiani.
—-
SIAPA tidak kenal Gereja Immanuel. Bangunan yang diresmikan pada 24 Agustus 1839, bertepatan dengan ulang tahun Raja Kerajaan Belanda Willem I tersebut, menjadi tempat ibadah tertua ketiga di DKI Jakarta.

Kendati umurnya lebih dari seabad, konstruksi bangunan tetap terlihat bagus. Memasuki pintu samping area gereja, tampak tiga bangunan rumah yang salah satunya difungsikan sebagai rumah pendeta. Di sisi kanan dari pintu masuk samping, langsung terlihat bangunan megah yang sekilas tampak seperti kuil dewa-dewa Yunani kuno. Gereja berumur sekitar 200-an tahun tersebut mayoritas berwarna putih.

Ditukangi oleh seorang Belanda bernama J.H. Horst, bangunan cagar budaya itu didirikan di atas tanah seluas 90 x 102 m2 dan luas bangunan 38 x 29 m2. Peletakan batu pertama juga bertepatan dengan ulang tahun raja Belanda tersebut, atau lima tahun sebelum diresmikan.

Jika dilihat dari atas, bangunan Gereja Immanuel berbentuk hampir bundar di sisi barat, utara, dan selatan. Sementara di sisi timur berbentuk kotak, seperti bangunan pada umumnya yang difungsikan sebagai ruang konsistori atau ruang pertemuan pendeta dan Majelis Gereja.

Sebagian besar perabotan dan dekorasi menghiasi interior. Ada dua lukisan dan papan daftar nama Majelis Gereja dan pendeta asal Portugal, Belanda, dan Malaysia yang pernah menginjakkan kaki di tanah Jawa sejak 1619 hingga 1951, serta ornamen asli yang masih melekat di sudut bangunan. Tampak juga salah satu alat musik khas gereja yang sudah ada sejak gedung kolonial itu dibangun. Instrumen kuno itu disebut Orgel atau pipa orgel, karya J. Datz pada 1843. Alat musik itu adalah semacam piano yang menggunakan mesin pompa untuk menghasilkan tekanan angin dan menimbulkan suara melalui pipa yang terpasang di sisi depan orgel.

gereja emmanuel masa lalu

(Gereja Immanuel di masa lalu)

”Sekarang orgel itu cuman ada tiga di dunia. Di Brazil, Venezuela, dan di sini,” terang Pendeta Matulapelwa. Namun, di beberapa sudut luar bangunan, seperti tembok, dinding, dan pintu utama yang menghadap ke sisi barat (menghadap Stasiun Gambir) tampak cat tembok yang mengelupas. Selain itu, pintu masuk gereja yang tingginya hampir 3 meter itu juga tampak lapuk di beberapa bagian.

Sejarah dan asal usul bangunan tersebut diceritakan oleh Pendeta Matulapelwa. Dia mengatakan, gedung tersebut dibangun untuk mempersatukan umat Kristen Protestan dari segala bangsa dan aliran. Awalnya, dinamakan Willemskerk yang artinya Gereja Raja Willem I. Lalu, diubah namanya menjadi Immanuel pada 31 Oktober 1948.

Sejak dibangun hingga kini, gereja tersebut mengalami empat kali konservasi besar-besaran. Mayoritas dana konservasi berasal dari jemaat gereja tersebut. Sebagian dana konservasi terakhir didanai oleh Pemprov DKI Jakarta sebesar Rp 1 miliar. ”Selalu soal cat dan tembok yang mengelupas. Terus pernah juga saluran airnya yang dikonservasi,” ujarnya.

Cat Immanuel Harus Impor dari Jerman 

Menurut Matulapelwa, perawatan atau konservasi gedung tersebut tidak boleh menggunakan bahan bangunan biasa. Sebab, beberapa bahan bangunan seperti batu bata, serta kayu kusen jendela dan pintu, terbuat dari bahan khusus. Kusen jendela berbentuk setengah lingkaran di sisi timur lantai dua itu sudah mengalami pelapukan dan harus disangga dengan besi baja agar tidak roboh.

”Kami sudah cari kayu jati yang sama dengan yang dipakai kusen itu, tapi ternyata nggak ada yang punya,” jelas pendeta yang tinggal tidak jauh dari gedung gereja itu.

Cat tembok yang digunakan pun harus dibuat khusus. Sebelum dipakai, cat tersebut harus melalui uji laboratorium di Museum Candi Borobudur, Jogjakarta. Sebab, bahan batu bata yang dipakai untuk membangun gereja yang pernah dikunjungi oleh Ratu Juliana dan Pangeran Benhard pada 1971 tersebut berbeda dengan batu bata pada umumnya. ”Catnya harus impor dari Jerman. Jadi, catnya itu harus yang berpori untuk menjaga kelembapan. Istilahnya, supaya tembok bisa bernapas,” jelasnya.

Dari sekian keunikan gedung dengan 18 pilar yang mengelilingi dan menyangga atap bangunan di sisi teras, ada satu cerita menarik. Namanya juga gedung tua, gereja itu banyak menyimpan misteri.
Beberapa petugas ketika kali pertama bekerja sering melihat kejadian-kejadian mistis. Ada yang mengaku melihat hantu para petinggi VOC, orgel yang sering berbunyi sendiri saat tengah malam, hingga penampakan hantu serdadu Jepang. Mungkin, gereja yang dikatakan pernah menjadi tempat penyimpanan abu sisa pembakaran mayat orang Jepang pada 1942 hingga 1945 itulah yang menjadi penyebab isu tersebut berkebang.

Konon, gereja tersebut mempunyai sebuah pintu rahasia yang terletak di bawah mimbar. Pintu tersebut tersambung dengan terowongan bawah tanah menuju Istana Negara. Dari Istana Negara, juga tersambung dengan terowongan menuju Museum Sunda Kelapa. ”Ada orang Belanda yang dulu menulis tentang itu. Kalau yang sudah baca bukunya pasti tahu,” kata seorang petugas kebersihan.

Kebenaran soal terowongan dan penampakan-penampakan tersebut hingga kini belum dapat dibuktikan.
Pendeta Matulapelwa juga membenarkan mengenai kabar adanya terowongan rahasia itu. Karena isu tersebut bahkan pernah dilakukan pengecekan. ”Ternyata nggak ada,” kata dia.

GEREJA SION, GEREJA TERTUA DI JAKARTA

Gereja sion4

INILAH gereja tertua di Indonesia. Namanya adalah Gereja Sion. Lokasinya ada di Jalan Pangeran Jakarta Nomor 1, Jakarta Barat. Menurut Kepala Sekretaris Gereja Sion Waspo, bangunan itu bermula dari sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Rumah tersebut lalu dirombak total oleh Willem van Horn.

Proses perombakan dilakukan pada 19 oktober 1693 dan selesai pada 1695. Menurut dia, Gereja Sion awalnya hanya memfasilitasi orang-orang Mardijkers atau orang Portugal zaman dulu yang diasingkan Belanda. Kali pertama diresmikan, gedung tersebut diberi nama yang cukup panjang, yakni De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis di Luar Batavia.

Sejak pertama dibangun sebagai gedung permanen tiga ratus tahun lalu, Gereja Sion telah mengalami tiga kali perombakan total. Perombakan pertama dilakukan pada 1725. Gedung diperkuat dengan enam tiang kayu dan semen batu. Lalu, pada 1920 dilakukan perombakan pada atap dan balkon bangunan. ”Pas tahun 2002 kemarin itu juga genteng turun total dan pengecatan ulang kusen-kusen,” jelas Waspo kepada Jawa Pos.

Memasuki pintu gerbang barat (bagian depan gereja), pengunjung disuguhi pemandangan yang cukup mengejutkan. Yakni, sebelas makam pembesar dan orang kaya pada masa itu. Makam-makam tersebut berbentuk kubus seperti kotak pensil dengan penutup yang terbuat dari batu dan cincin. Fungsinya adalah sebagai pengait tali saat diangkat atau ditutup. Sebagian dari penutup kuburan tua yang katanya sama sekali tidak pernah dibuka tersebut dihiasi dengan ukiran bergambar tameng kebangsaan dan ornamen bunga khas Eropa abad pertengahan.

Dua di antara sebelas orang yang dimakamkan di situ adalah Frederick Riebalt, mantan budak yang sukses menjadi pedagang dan tuan tanah kaya raya. Lalu, Hendrick Zwaardecroon, ajudan kepercayaan Gubernur Jendral Willem van Horn sekaligus pemilik tanah gereja tersebut. Gereja Sion seakan menjadi saksi sejarah tentang kejayaan Portugis di Indonesia.

Menengok ke sisi kiri bangunan, berdiri kokoh hingga sekarang sebuah menara lonceng berangka tahun 1675 yang terbuat dari besi tuang. Alat penanda ibadah tersebut sudah ada sebelum Gereja Sion berbentuk bangunan permanen seperti sekarang ini. Di setiap sisi kiri dan kanan, terpampang empat jendela besar setinggi kira-kira 2,5 meter. Kusen jendela terbuat dari kayu eboni atau trembesi.

Gereja sion8

Beberapa sudut ventilasi gereja tersebut sudah tampak keropos karena dimakan rayap. Rumah Tuhan yang telah berdiri sejak tiga abad lalu itu dilengkapi dua pintu besar. Satu pintu berlapis dua dengan lebar sekitar 1,5 meter dan satu pintu berada di sisi kiri, tepat di bawah balkon tempat orgel pipa kuno diletakkan.

Di bagian dalam, terdapat enam buah pilar besar penyangga dengan kayu sebagai kerangkanya. Terlihat juga lantai yang terbuat dari batu kali masih menancap, memperjelas keaslian gereja tersebut.

Bicara soal perabot dan dekorasi bangunan, ada beberapa hal yang cukup menarik. Misalnya mimbar tempat pendeta berceramah dibuat seperti cawan yang terpasang di bawah kanopi mewah dengan ukiran khas Eropa. Ada juga tangga besar yang dibuat dengan tersambung langsung ke ruang mimbar.

Selain itu, ada sembilan pajangan yang menghiasi dinding gereja. Tiga hiasan berupa papan yang memajang simbol-simbol dari negara-negara sekutu Portugal saat itu. Pigura-pigura mewah tersebut menandakan dukungan dari negara-negara tersebut terhadap pendirian Gereja Sion saat itu.

Satu lagi, sebuah papan kayu berbentuk kotak sederhana terpampang di sudut kanan (dilihat dari depan) mimbar bertuliskan catatan pembangunan gereja. Sisanya merupakan tanda nama pembesar dan orang-orang kaya kepercayaan Willem van Horn. ”Itu sebenarnya nisan dari kuburan yang di halaman depan,” kata Tasum, salah seorang sekuriti yang memandu Jawa Pos.

Tepat di seberang mimbar, ada sebuah alat musik khas gereja atau yang akrab disebut orgel pipa bikinan orang Eropa zaman dulu. Instrumen tua dengan merek Bekker Levebre buatan E.F. Rijckmans tersebut merupakan hadiah dari Johanna Mauritia. Dia adalah putri pendeta asal Jerman yang bernama Johan Maurits Mohr.

Hingga sekarang, gedung tersebut masih difungsikan sebagai tempat ibadah. Bahkan, beberapa jemaat lanjut usia di sana adalah orang asli Belanda yang sejak lahir sudah ada di tanah Jawa. ”Saya dari Holland,” kata Trecs Nurwei, 70, salah seorang jemaat yang ditemui Jawa Pos di Gereja Sion.

GEREJA TUGU: Perekat Tembok Pakai Gula Merah dan Putih Telur

IST Gereja Tugu (1)

GEREJA Tugu di pelosok Jakarta Utara tersebut merupakan tempat peribadatan tertua kedua setelah Gereja Sion. Saat Jawa Pos memasuki kompleks Gereja tersebut, tampak suasana yang cukup sederhana.

Bangunan tua yang satu itu diposisikan bersebelahan dengan makam warga sekitar yang konon sudah ada sejak 1661. Bentuk gedungnya sendiri berupa bangsal persegi panjang setinggi kurang lebih 20 meter. Tidak ada satu pun tiang penyangga terpasang di bagian dalam gereja seperti umumnya bangunan gereja pada masa itu.

Dari depan, terlihat dua daun pintu gerbang utama yang polos tanpa ukiran. Pintu itu terbuat dari kayu yang diambil dari wilayah sekitar. Gerbang itu menandakan bahwa bangunan permanen tersebut memang dibangun dan diperuntukkan bagi kaum-kaum Portugal dan peranakannya setelah kalah perang melawan Belanda.

”Ya maaf kata, kaum kami dulu ini memang budak setelah kalah perang,” kata Johan Sopaheluwakan, anggota Forum Kajian Sejarah, Seni, dan Budaya Tugu.

Di sisi kiri dan kanan bangunan terdapat tiga jendela setinggi kurang lebih 2 meter dengan bentuk seperti peluru. Jendela-jendela tersebut dikatakan Johan masih asli. Juga tembok yang mengelilingi bangunan ratusan tahun yang lalu tersebut masih utuh sejak dibangun hingga sekarang.

Ada juga menara lonceng yang masih tegak berdiri. Namun, lonceng yang seharusnya ikut menggantung itu bukan merupakan lonceng yang asli. ”Loncengnya yang asli sudah nggak dipakai sejak 1747,” jelas dia.

Bangunan tua tersebut dibangun pada 1744 hingga 1747 oleh Justinus Vinck. Dia adalah seorang tuan tanah di wilayah Cilincing, Tanah Abang, Waltervreden, dan Pejambon. Pembangunannya dibantu oleh warga sekitar. Setelah jadi, gereja tersebut diresmikan setahun kemudian oleh pendeta asal Jerman yang bernama Johan Maurits Mohr.

Lonceng kedua Gereja tugu. Foto Puguh Sujiatmiko/jawapos

Gedung itu sudah mengalami tiga kali perbaikan dengan skala yang cukup besar. Perbaikan pertama dilakukan sekitar 1920–1930, atau saat terjadinya tragedi pemberontakan kaum Tionghoa. Yang kedua, diperbaiki antara 1943 hingga 1944, atau saat perang kemerdekaan melawan Jepang. Yang ketiga, diperbaiki pada 1999 setelah diresmikan sebagai cagar budaya oleh Pemprov DKI Jakarta.

Perbaikan banyak dilakukan pada atap dan tembok yang rusak karena perang dan pemberontakan tersebut. Menurut Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu Alfondo Andries, yang paling sulit adalah mengkonservasi tembok-tembok gereja. ”Temboknya ini nggak pakai semen, tapi gula merah sama putih telur sebagai perekat. Dan, batanya hampir segede batako,” jelas dia saat berbincang dengan Jawa Pos.

Tapi, berawal dari masyarakatnya yang khas, Gereja Tugu rupanya masih memiliki satu cerita unik. Bangunan ibadah umat Kristiani tersebut tidak memiliki alat musik khas gereja buatan kolonial Belanda maupun Portugal. Sejak dibangun, jemaatnya menggunakan alat musik tradisional buatan sendiri.

Mayoritas instrumen yang digunakan merupakan alat musik jenis petik. Beberapa disebut dengan istilah Vado, Braginho, Cavaginho (seperti gitar besar dengan empat senar). Dan, hingga saat ini, nyanyian-nyanyian yang dilantunkan saat ibadah mayoritas masih menggunakan alat musik jenis petik seperti gitar dan ukulele. ”Jadi, di sinilah asal mula musik keroncong. Kami pakai alat musik khas Portugal, asal nenek moyang kami,” ujarnya. (ary/co1/oni)

Sumber: Jawa Pos, 29 Desember 2013 | Foto-foto: Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos


About this entry