Kukenang Gerimis, Kulukis Lanskap

photography-rain-umbrella-gif-girl-7e93cdbb82cd8f9b0f77ef5499bfda64-h-jpg

kukenang gerimis ritmis menyambut musim
ketika aku kembali
ia berdansa laiknya balerina
di bawah cahaya remang
entah bisa kuterjemahkan haru
atau pilu kaku

ia menyambutku
seperti dingin menyambut peluh
teriring sore kelabu dan mendung menggunung
aku bertandang pulang
tapi aku hanya bisa singgah sebentar saja
untuk mengenang surga dan gerimisnya
lengkap dengan angin
fajar yang mengembun
senja yang merona
tawa yang tak acuh
tangis yang mendesis
lengkap dengan sunyinya

terimalah diriku yang mungkin sudah bukan aku
lalu ada siul yang menyeru:
dekaplah daku dan lupakan tentang keberangkatan
tapi bukankah cangkul telah dipanggul
dan tanah ladang merentangkan dada
– selipkan mata tajammu di antara bidang-bidangku
tumbuhkan dariku harapan-harapan baru
yang bertunas mekar
di bawah kepakan burung-burung kuntul
yang bermigrasi tiap petang
membawa kabar kepulangan

kenali diriku yang mungkin sudah bukan aku
lalu ada seru yang menderu:
kuterima kau dengan segala keasinganmu
dan lupakan tentang perjalanan
tapi bukankah sauh telah diangkat
arah mata angin pun selesai ditaksir
dan cakrawala biru menunggu
– susuri tubuhku dan temukan kedalamanku
meskipun kedalamanku tak sanggup menandingi
kedalaman hati perempuanmu
jangan kau abaikan meski hanya riak sesaat
karena ia bisa jadi gelombang yang menggulungmu
dan tak akan ada sesiut camar pun
yang bisa mengabarkan
pesan yang ingin kau sampaikan
turuti mata angin yang telah kau taksir
dan temukan aku yang menunggu
di kedalamanmu

akhirnya,
kulukis lanskap dengan wajah-wajah baru
yang menunggu di tepi waktu
entah siapakah
bukankah nama hanyalah sebuah tanda
yang akan begitu saja terlupa

maka dari itu
hanya kulukis sebuah lanskap
seraut wajah;
perempuan yang menengadah
mencari gerimis yang sama
biarlah tanpa nama
yang mudah terlupa

kukenang gerimis
kulukis lanskap

di sudut wajah
yang sejenak singgah
lalu hilang bersama bianglala

maka,
kulukis saja kenangan tentang lanskap dengan gerimisnya
tanpa nama

(Gresik-Jakarta, Desember 2013-Januari 2014)


About this entry