Fragmen 10: Seperti Jakarta Malam Ini

1505608_348988505242345_692512647_n

Aku bukan pencerita yang baik. Jadi, aku hanya akan memulai cerita ini dari sebuah malam. Sisa malam yang kuhabiskan hanya dengan duduk-duduk di depan sebuah minimarket di salah satu sudut Jakarta. Di sini hanya ada dua meja dengan empat kursi, semuanya berwarna cokelat. Masing-masing satu meja dan dua kursi berada di sisi berseberangan; di kiri dan kanan pintu masuk minimarket tersebut.

Sudah beberapa menit lalu aku keluar dari minimarket dengan membawa segelas cappuccino panas. Kini, uap panas dari kopi di atas meja di sampingku itu terlihat tipis saja. Samar oleh asap rokok yang mengepul, lalu lenyap diterpa angin dini hari. Apa yang kau harapkan dari musim hujan selain gerimis dan rintiknya? Dan sisa malam itu pun berjalan beriringan dengan gerimis.

Butiran-butiran gerimis yang jatuh di bawah lampu jalan terlihat begitu putih, seperti salju, dan berubah menjadi hitam ketika jatuh di atas jalan beraspal. Aku hanya duduk dan mengamati, menggembalakan ingatan di padang-padang tak bertuan. Setelah tersadar, rokok tinggal sebatang, sementara cappucino seperti enggan dihabiskan sekali teguk, dan gerimis terus saja turun.

“Aku dulu membenci kota ini, tapi aku mulai jatuh cinta kepadanya.”

-Kau belum mengenalnya, tapi sudah berani mengatakan cinta…

“Aku rasa, cinta bukan perkara sudah mengenal atau belum. Cinta hanya melulu soal perasaan. Cukup dengan itu.”

-Kekanak-kanakan sekali…

“Tunjukkan padaku satu saja cinta yang tak kekanak-kanakan?”

-…………….

Satu rokok pun tumpas, puntungnya meringkuk kedinginan di bawah gerimis. Sementara berwarna cokelat agak keputih-putihan it uterus saja merajuk; tak ingin cepat-cepat kuhabiskan sekali teguk. Pengunjung minimarket datang dan pergi silih berganti, seperti mereka yang bertandang di bumi manusia ini. Ada kalanya seseorang datang tanpa memberi kesan apa pun sebelum ia pergi lagi. Namun, ada beberapa orang yang meninggalkan kesan begitu mendalam, kemudian tiba-tiba saja melangkah pergi dari lingkaran kehidupanmu.

Aku tak ingin terjebak dalam pikiran-pikiran itu, jadi sesekali kuteguk cappuccino untuk membuatku kembali menjadi normal. Namun setelah itu, pikiran-pikiranku entah tertambat di mana. Akhirnya, hanya karena ingin membuat supaya malam ini menjadi sedikit melankoli, aku membayangkan wajah Jakarta setelah tengah malam, sebagaimana Woody Allen menciptakan keindahan sudut-sudut Paris lengkap dengan alunan musik yang jazzy.

Namun, sekeras apa pun usahaku menyandingkan Jakarta dan Paris, tetap saja tak berhasil dan memang tak ada gunanya. Jakarta dan Paris adalah kota yang sangat berbeda. Jika aku kemudian mencintai Jakarta, bukan karena aku melihatnya sebagaimana aku ingin melihat Paris; yang hanya bisa kucumbu dari film-film dan roman-roman picisan. Aku benar-benar mencumbu Jakarat, meskipun tak semanis ketika aku mencumbu Paris lewat kisah-kisah. Tetapi, Jakarta adalah realitas, sedangkan Paris hanya menggantung di angan.

Lamat-lamat, di antara gerimis yang sebentar-sebentar berhenti, sebentar-sebentar deras kembali, terdengar sebuah suara dari ingatan paling jauh, entah bermuara pada kenangan yang seperti apa: tentang sebuah percakapan.

“Kita pernah berbicara tentang Jakarta kota dengan seribu wajah, dan kita pun bersepakat membicarakan Jakarta adalah membicarakan wajah-wajah sunyi. Tapi, jika kau lihat Jakarta sore itu, ia seperti gadis lugu tersipu malu,”

Aku beruntung memiliki kenangan, tentang siapa saja, tak peduli kenangan dengan dia yang mencintaiku atau yang membenciku. Setidaknya ada sebuah tempat bernama kenangan yang setiap saat bisa aku kunjungi. Hanya mengunjungi, tidak untuk hidup di sana.

Karena:

“Nostalgia is denial – denial of the painful present… the name for this denial is golden age thinking – the erroneous notion that a different time period is better than the one ones living in – its a flaw in the romantic imagination of those people who find it difficult to cope with the present.” –Paul, Midnight in Paris.

Semakin lama, gerimis ini kurasakan sedikit berbeda, bukan karena tidak ada perempuan yang duduk di sampingku, sama sekali bukan itu. Itu karena memang tidak kesamaan saja. Bangku ini, kursi ini, wajah-wajah ini, suara-suara ini. Segala sesuatu yang tak lagi sama memang sempat membuatku merasa takut, tapi tak ada yang perlu ditakutkan jika kemudian tersadar aku sedang jatuh cinta; cinta pada gerimis dan kota ini.

Karena semua pengecut berasal dari tidak mencintai dengan baik:

“I believe that love that is true and real, creates a respite from death. All cowardice comes from not loving or not loving well, which is the same thing. And then the man who is brave and true looks death squarely in the face, like some rhino-hunters I know or Belmonte, who is truly brave… It is because they make love with sufficient passion, to push death out of their minds… until it returns, as it does, to all men… and then you must make really good love again.” – Ernest Hemingway, Midnight in Paris.

 

7-Eleven
Jakarta Selatan
22 Desember 2013–7 Januari 2014


About this entry