Sebuah Prolog

January 11, 2014 § Leave a comment

Image060

(Jejak sepatu di pasir pantai Wisata Bahari Lamongan. Medio 2009-2010)

Sabda Angin:
“Pada sebuah titik, setiap orang akan sadar bahwa memang dia harus memiliki sesuatu yang berarti. Bukan hanya sekadar sebagai alasan untuk tetap bertahan hidup. Tetapi, lebih jauh lagi; untuk membuat hidup semakin berarti. Dalam perjalanan, setiap orang bisa menemukan keberartian itu pada cinta atau persahabatan.”

Sabda Paulo Coelho:
“Cinta adalah perangkap.
ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya,
bukan sisi gelapnya.”

Sabda Sunyi Alehandra:
“kesunyian bukanlah ketidakmampuan mengucapkannya
karena tak bisa diingkari
karena tak bisa dinamai
karena bukanlah sinonim sebuah lanskap
kesunyian adalah melodi patah dari kalimatku”

Bersabda Angin:
“Setelah itu, dia akan tahu dan menemukan
sesuatu yang lebih berharga
dari mencintai orang lain, yaitu mencintai diri sendiri. Tak ada yang lebih indah daripada mencintai diri sendiri.”

 

Sabda Roy Campbell:
“dari sekian banyak orang pintar di
sekitar sini
aku paling bahagia melihatku sendiri –
suaraku adalah satu-satunya yang aku cermati
dan wajah satu-satunya yang aku tatapi
adalah wajahku sendiri.

Prolog Alehandra:
“kapan saja
kapan saja mungkin
aku akan pergi tanpa tinggalkan diri
aku akan pergi sebagai orang yang pergi”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sebuah Prolog at .

meta

%d bloggers like this: