Semalam di Jogja

6

untuk sebuah persinggahan;

dalam setiap perjalanan kita tak akan pernah tahu akan singgah di mana, karena persinggahan menjadi semacam takdir yang telah di persiapkan di setiap kelokan. seperti tangan-tangan lembut, ia akan membelai keinginan; antara singgah sejenak atau melanjutkan perjalanan. kadang ia menjelma wajah kenangan yang telah susah payah kau buang. kadang ia menjelma malam biru beku. kadang ia juga bisa menjadi semacam nyanyian yang tak pernah ingin kau lewatkan. lebih-lebih jika ia kemudian berubah wujud menjadi gerimis yang ritmis. maka kau akan selalu ingin singgah. seperti malam ini, takdir sekaligus menjelma wajah kenangan, malam biru beku, nyanyian syahdu, dan gerimis ritmis. maka aku pun memutuskan singgah untuk semalam saja, di jogja yang basah.

Jogja-Surabaya, 23 Oktober 2013


About this entry