Semalam di Jogja

untuk sebuah persinggahan;

dalam setiap perjalanan
kita tak akan pernah tahu akan singgah di mana
karena persinggahan menjadi semacam takdir
yang telah di persiapkan di setiap kelokan.

seperti tangan-tangan lembut
ia akan membelai keinginan
; antara singgah sejenak atau melanjutkan perjalanan

kadang ia menjelma wajah kenangan
yang telah susah payah kau buang
kadang ia menjelma malam biru beku
kadang ia juga bisa menjadi semacam nyanyian
yang tak pernah ingin kau lewatkan
lebih-lebih jika ia kemudian berubah wujud
menjadi gerimis yang ritmis

maka kau akan selalu ingin singgah
seperti malam ini
takdir sekaligus menjelma wajah kenangan
malam biru beku
nyanyian syahdu
dan gerimis ritmis

maka
aku pun memutuskan singgah
untuk semalam saja
di jogja yang basah

Jogja-Surabaya, 23 Oktober 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s