Fragmen 12: Bouquet untuk Pacarku

pierre-auguste-renoir-spring-bouquet-82687

Untukmu yang kusebut pacarku. Kita sering berjalan melewati los-los di pasar bunga di kota ini. Tapi, tempo hari, saat kita berjalan di depan kios yang sama, kau tanyakan padaku pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk ku jawab. Bahkan, aku belum bisa menjawab pertanyaanmu saat pertama kali kita melewati kios dengan banyak etalase berkaca bening itu.

”Apakah bouquet bunga selalu indah?” Aku tak tahu harus menjawab apa. Lalu, aku hanya bisa meminta padamu agar memberiku waktu untuk menemukan jawabannya.

Setelah hari-hari itu, kau sengaja selalu minta diajak pergi ke pasar bunga yang sama, berkali-kali. Seperti tak ada rasa bosan yang menerormu. Kau terus menggandeng tanganku dan bergegas menghapiri kios yang sama. Saat kau menemukan bouquet bunga yang lain terpajang di etalase (dan celakanya memang selalu tampak indah), kau pun kembali memberiku pertanyaan yang susah ku jawab.

”Apakah seseorang yang merangkai bouquet itu selalu jatuh cinta?”

Karena aku tidah bisa menjawab, bahkan pertanyaan-pertanyaanmu yang dulu pun belum bisa aku jawab, aku hanya bisa kembali bertanya untuk mengalihkan perhatianmu.

”Memangnya kenapa?”

”Karena bouquet-bouquet itu selalu berbeda, tetapi tetap saja indah.”

Saat kau katakan itu, aku lihat ada binar di matamu. Aku diam; mengagumi keindahan yang dianugerahkan semesta padamu. Tapi, kau adalah kau, perempuan yang selalu ingin tahu dan tidak mudah teralihkan. Kau mengulang kembali pertanyaan yang sama.

”Apakah seseorang yang merangkai bouquet itu selalu jatuh cinta?”

Dengan sangat menyesal aku hanya bisa kembali bertanya: ”Bolehkah ku jawab lain kali?”

Kau tidak marah. Aku tahu kau tak akan marah. Biasanya, kau hanya tersenyum dan kembali memandangi bouquet di balik kaca bening itu. Biasanya. Tapi, hari ini aku terlihat berbeda. Ada raut kekecewaan di wajahmu. Itu bisa kulihat, meskipun kau berusaha menyembunyikannya di balik senyummu.

Aku tak pernah bisa menjawab pertanyaanmu, pacarku. Bahkan, di hari-hari kepergianmu pun aku masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanmu; Apakah bouquet bunga selalu indah? Apakah seseorang yang merangkai bouquet itu selalu jatuh cinta? Yang bisa ku katakan hanya berupa pertanyaan, lagi. “Bolehkah ku jawab ketika kau kembali?”

Dan kau katakan hal yang mengejutkan: “Aku tak akan kembali.” Celakanya, kau katakan itu justru setelah kau telah benar-benar pergi. Dan, tak sedikit pun memberiku kesempatan untuk menahan kepergianmu. Sampai saat ini aku tak tahu mengapa bouquet selalu indah dan apakah seseorang yang merangkainya selalu jatuh cinta.

Aku hanya bisa merangkai bouquet sederhana dari bunga-bunga liar yang tumbuh di taman-taman kota yang semakin asing ini sebagai hadiah. Sudahkah sampai di depan pintu rumahmu? Semoga kau suka. (*)

Januari, 28-29, Jakarta, 2014


About this entry