Fragmen 13: Daisy

Viktor-Sheleg6

Ia menerawang jauh menembus batas-batas malam yang membiru. Matanya sayu, kantuk sudah sejak tadi menggelayuti kelopak matanya. Tapi ia tak bisa mengatupkan. Karena itu, ia bangkit dari tempat tidur dan kini terduduk lesu di dekat jendela. Pandangannya menerawang jauh ke atas. Hanya ada sedikit bintang. Bulan pun hanya bisa hadir dengan malu-malu. Dilemparnya pandangan ke bawah, pada kota di bawah bukit. Gemerlip lampu meneduhkan batinnya. Saat itu ia ingin melesat dan berkejaran dengan cahaya-cahaya bak kunang-kunang itu, seperti saat ia kanak dulu. Tapi yang bisa ia lakukan hanya menarik napas pelan, mencoba memberi sedikit udara untuk ruang-ruang di dadanya. Ia hanya bisa mencoba berdamai dengan masa lalu, dan juga dirinya sendiri. (*)


About this entry