Fragmen 13: Kirana

???????????????????????????????????????????

Di tepi pantai di kota ini, di suatu hari, aku duduk dengan perempuan muda yang sedang memandang samudera. Sore yang teduh. Angin laut sedang bergerak kencang ke darat. Camar-camar beterbangan di antara pucuk-pucuk bendera warna merah di atas perahu cadik. Pernah ku baca sebuah kisah, sepasang kekasih lari dari ketidakadilan hidup terhadap cinta mereka, dan menuju samudera dengan perahu cadik. Sejak itu mereka tak pernah kembali.

Aku ceritakan itu padanya, Kirana, perempuan yang duduk di sampingku, masih memandang samudera yang berubah sedikit ungu. “Mungkinkah mega jingga di batas samudera menjadi indah karena ejawantah dari cinta mereka berdua?” tanya Kirana, sambil tetap menatap jingga. Apa yang harus aku katakan? Aku juga tak mungkin mengatakan mereka hidup bahagia di dasar samudera, atau mereka hidup di perut paus seperti Yunus, atau juga hidup bersama sampai tua di istana karang seperti ikan-ikan…

“Ia indah karena memang begitulah ia diciptakan. Ia tak butuh sesuatu kecuali dirinya sendiri.”

Kirana menatapku. Apakah karena ia hanya bosan menatap jingga yang sama atau karena jawabanku. Aku tak tahu. Yang aku tahu, aku suka dia menatapku, sebagaimana aku suka menatapnya. Berkali-kali. Karena dari matanya aku bisa menemukan kenangan. Kenangan saat kita pertama bertemu, untuk pertama kalinya. Kirana, seseorang yang ingin menghapus kenangannya.

“Setelah perjalanan ini, aku mungkin akan kembali seperti dulu,” kata Kirana saat itu, saat pertama kali kita bertemu, di sebuah puncak gunung tertinggi di Jawa. Kirana melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang pernah ia datangi bersama kekasihnya. “Kenangan ini sungguh berat. Tapi aku tetap berusaha membawanya, dan mengembalikan ke tempatnya,” kata Kirana. Dan aku pun berhenti bertanya dan hanya mendengarkan ia bercerita.

Selama dua tahun ini Kirana sudah melakukan perjalanan demi perjalanan untuk mendatangi tempat-tempat yang telah memberinya kenangan. “Aku benar-benar ingin mengembalikannya, dan memulai hidup dari awal,” katanya, bergumam. Karena itulah, meskipun aku suka memandangnya, aku tak bisa menahannya pergi, mengembalikan kenangannya dan mendapatkan kehidupan seperti sedia kala.

“Di sini, di tepi pantai ini, kita pernah merencanakan sebuah perjalanan,” kenang Kirana.

Ya, ia di sini bukan untuk hidup bersamaku. Dia hanya singgah di salah satu tempat yang telah memberinya kenangan. Dan dia ingin mengembalikannya.

“Mungkin aku bisa mengantarmu,” kataku.

“Tidak. Aku ingin melakukannya sendiri. Lagipula, ini tempat terakhir yang harus kudatangi. Setelah itu, aku akan terlahir kembali seperti phoenix…” kata Kirana, tersenyum.

Kita sama-sama diam. Hanya angin yang terus menggulung ombak dan camar-camar yang sedang bercengkerama. Ada rasa yang ingin kuselami, di hatinya. Perempuan yang ingin terlahir kembali seperti dirinya yang dulu. Gadis polos yang belum mengenal cinta. Setelah itu, dia mungkin bisa kembali jatuh cinta. Dan jika takdirnya seperti itu, aku berharap akulah orang pertama yang ada di sampingnya, saat Kirana sedang jatuh cinta.

“Kamu bisa menungguku di sini sampai aku kembali?” kata-kata Kirana memecah keheninganku.

“Apa?”

“Apa kamu mau menungguku?”

Aku mengangguk. Mungkinkah dia telah jatuh cinta padaku? Atau ia hanya butuh teman bicara saat dirinya terlahir kembali seperti dirinya yang dulu? Aku tidak tahu dan aku tidak keberatan menunggu.

“Aku tak tahu bagaimana nanti Kirana yang baru…” kataku, sedikit mencairkan suasana.

“Memangnya kenapa?” tanya Kirana, sambil tersenyum, menatapku sebentar.

“Aku hanya suka kamu yang seperti sekarang…” kataku.

Kirana sedikit melirikku, kemudian kembali menatap jingga yang sudah mulai kehitam-hitaman. Sebentar lagi akan malam. Angin bertiup semakin kencang. Dari samping aku lihat wajahnya, damai. Di bibirnya ada senyum yang sedikit merekah. Matanya yang binar, mengernyit. Rambutnya terurai tertiup angin. Saat itu aku hanya memikirkan satu hal. Aku pernah berada di posisi seperti dirinya. Dan aku akan menununggunya.

Malam itu kita berpisah tanpa berkata-kata. Hanya ada keyakinan, dia akan kembali dan aku akan menunggunya.

Jakarta, 8 Februari 2014


About this entry