Norah dan Sebuah Kafe

dsc_0654

Banyak yang aku rindukan. Em, menjadi perindu memang terkesan cengeng. Tapi tetap manusiawi. Itu tandanya masih ada hati, dan ingatan. Dari sekian banyak hal tak penting yang kurindukan, aku menemukan ingatan tentang sebuah kafe. Mungkin seharusnya kafe itu juga menjadi hal yang sama tak pentingnya. Sampai aku terdampar di tempat itu, di sebuah kota.

Kafe itu memang sedikit berkesan, tanpa pintu, tanpa jendela, hingga siapa saja yang datang bisa masuk dari arah mana saja. Tempat duduknya berkerangka besi, dibalut dengan jalinan rotan yang membentuk sebuah kursi. Mejanya bundar seperti umunya sebuah meja.  Di sudut kafe itu ada air mancur kecil yang kadang menyemburkan air hingga gemericiknya menenteramkan. Di tempat itu, waktu berjalan dengan cepat.

Aku mulai sering mendatanginya. Bersama saudara, teman, kekasih, atau juga datang sendiri. Tetapi, memang lebih sering datang sediri. Tempat yang awalnya asing lama-lama menjadi seperti seorang sahabat yang selalu menyambut hanga setiap kedatangan. Dengan cappuccino panas dan sekeping biskuit cokelat. Kafe kemudian menjadi semacam tempat peziarahan.

Bersama siapa saja, kafe tetap menjadi spesial. Bahkan, duduk sendirian di tempat seperti itu tak pernah menjadi teror. Justru ada keintiman. Sangat intim. Bisa seperti keintiman pendosa dengan tuhannya; ”Malah, bagiku, kafe sudah menjadi rumah ibadah yang membebaskan kita dari seluruh perasaan susah. Terus terang, setiap kali aku ke kafe, aku seperti tengah melakukan pengakuan dosa! Ha-ha…”[1]

Kafe menjadi semacam altar dengan lampu-lampu temaram yang menggantikan lilin-lilin. Tak ada koor penyanyi gereja yang kadang menyanyat hati. Hanya alunan musik mendayu-dayu, bisa jazz, pop, atau juga dangdut. Maka, aku lebih menyukai kafe daripada altar gereja. Aku tak pernah lagi bersimpuh di bawah rosario. Memohon, menangis, meminta pengampunan. Sebagai gantinya, aku pergi ke kafe, duduk dan minum kopi.

Ketika aku bertemu dengan malam membosankan, kafe lagi-lagi menjadi sahabat yang selalu menyambut hangat. ”….itu adalah satu-satunya cara untuk melarikan diri dari malam konvensional dengan cahaya putih yang payah, sementara lilin sederhana saja sudah menyediakan cahaya kuning dan oranye yang menawan.”[2] Begitulah, hari-hariku kebanyakn habis di kafe. Hanya duduk dan minum kopi, atau juga tak jarang ditemani rokok dan roti bakar. Kalaupun akhirnya kafe mempertemukan aku pada Norah, aku hanya bisa katakan itu hanya sebuah kebetulan.

Pada sebuah petang, Norah datang dengan begitu anggunnya. Dengan langkah santai dia masuk kafe dan duduk di salah satu sudutnya, di dekat tempatku duduk. Seketika bau harum menyerang hidung. Sejuk. Rambutnya tergerai panjang ke pundak. Posisi duduknya memang memungkinkan baginya untuk melihat apa yang aku tulis di selembar kertas. Meskipun aku tak yakin dia bisa membaca seluruhnya, nyatanya dia memang tertarik dengan tulisanku.

”Hanya tulisan dari kekosongan pikiran,” kataku.

Dia tersenyum sambil melirik ke kertas yang aku pegang.

”Mana mungkin dari pikiran kosong ada kata-kata semacam itu. Kosong berarti tidak ada apa-apa,” kata perempuan itu, kemudian memanggil waiters untuk memesan sesuatu.

Dia memesan cappuccino.

Setelah waiters itu pergi, dia berkata, ”Boleh aku lihat?”

”Apa?”

”Tulisan itu…”

Aku ragu. Atau lebih tepatnya tidak mau. Tapi ada seperti tangan gaib yang menuntun tanganku untuk mengambil potongan kertas itu dan memberikan pada perempuan itu. Pesanannya datang saat tangannya yang putih menerima kertasnya. ”Terima kasih,” kata perempuan itu, kepada waiters yang kemudian berlalu.

Dia membaca. Bibirnya yang ranum bergerak pelan. Kulitnya putih, alisnya tidak terlalu tebal, hidungnya juga tidak terlalu pesek…..em, aku tak bisa menggambarkan bentuk wajahnya dengan jelas. Lagipula itu tak perlu, biarkan aku saja yang menikmati wajahnya di petang yang hangat ini.

Dia mengernyitkan alisnya setelah membaca. Melirikku dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Aku tercenung. Dia sudah kembali memandang kertas di tangannya saat aku membalas senyumnya. Dia membaca pelan, ”Tuhan turut menangis karena trauma itu menyakitimu; tetapi semua itu diizinkan-Nya untuk membentukmu supaya tumbuh menjadi seperti Kristus!”[3]

”Aku sudah lama tidak ke gereja,” katanya sambil mengembalikan kertasku.

Aku menerimanya dengan diam, sambil mencoba mengartikan wajahnya yang mendadak sayu.

”Aku justru lebih menyukai tempat ini.”

“Sering datang ke sini?”

“Lumayan sering. Kamu bagaimana?”

”Lumayan juga.”

”Begitu ya…”

“Iya…”

Aku berharap ada sesuatu yang dia katakan tentang tulisan yang sudah dia baca. Tapi sudah tak ada kata-kata lagi sampai dia pergi. Dia hanya membalasnya dengan senyum saat kukatakan ”Sampai bertemu lagi”. Pada pertemuan pertama itu aku dan dia belum tahu nama. Hanya ada percakapan singkat, dan juga senyuman.

Keesokan harinya aku kembali ke kafe, tapi tidak melihatnya. Hari berikutnya dan berikutnya lagi aku juga tak melihatnya. Apa dia kali ini lebih suka ke gereja daripada kafe? Dan itu karena dia membaca tulisanku? Kalau memang begitu aku juga senang. Tetapi pada hari berikutnya, entah hari keberepa, yang pasti itu cukup lama, aku melihatnya lagi. Dari kejauhan dia sudah tersenyum saat melihatku, dan aku melihatnya.

Dia berjalan agak tergesa dan langsung memesan sesuatu. Dia kemudian berjalan ke arahku.

”Sedang bersama seseorang?” tanyanya, sambil menunjuk kursi di depanku, dipisahkan meja bundar.

”Iya. Aku sedang bersama seseorang.”

Raut wajahnya memancarkan sedikit kekecewaan mendengar jawabanku. Dia mengangguk kecil dan matanya mulai mencari tempat duduk di sekelilingnya. Hari itu pengunjung memang sedang ramai. Bisa dibilang hanya di mejaku yang sepi. Satu meja dengan empat kursi dan hanya satu yang terisi, yang kini sedang aku duduki.

”Aku becanda. Aku sendiri.”

Mendengar itu ada kelegaan dari tanda napas panjang yang dia tarik dalam kemudian dia hembuskan cepat. Mungkin rasa lega, bisa juga kesal karena kupermainkan, kenal nama pun belum. Hanya percakapan kecil di sebuah petang.

”Jadi, aku boleh duduk di sini?”

”Iya.”

Dia duduk, meletakkan tas kecil di atas meja. Tidak lama kemudian pesanannya datang. Secangkir cappuccino. Jadi, kini di maja ada dua cangkir berisi cappuccino. Punyaku yang sudah agak dingin dan punya dia yang masih mengepulkan asap.

”Ada sesuatu yang bisa kubaca lagi?” tanyanya sambil meniup minumannya dan kemudian menyeruputnya.

”Sesuatu yang bisa dibaca?”

”Iya. Kita mulai bicara setelah kamu menulis.”

”Kamu ingin aku menulis apa?”

”Hehe…jika aku yang meminta tentu aku sudah tak penasaran dan malas membacanya lagi.”

”Apa kamu jenis perempuan yang selalu penasaran?”

”Tidak juga. Aku hanya ingin membaca tulisanmu hari ini.”

”Oke…”

Aku mulai menulis, selesai, dan memberikan kepadanya.

”Kalau boleh tahu siapa namamu?” Dia membacanya pelan, lalu tersenyum.

”Kalau tidak boleh bagaimana?” katanya, manis sekali.

”Terpaksa aku memintamu meninggalkan kursiku.”

”Kursimu?”

”Ya. Siapa yang cepat itu akan menjadi miliknya.”

”Apa kamu ingin menggodaku?”

”Tidak. Aku cuma ingin tahu namamu.”

Kalaupun dia tak mau menyebutkan namanya aku tak akan menyuruhnya pergi. Hanya orang bodoh yang tidak mau ditemani ngobrol perempuan seperti dia. Tak apalah tanpa nama. Aku bisa memanggilnya apa saja. Tapi akhirnya dia memperkenalkan namanya, Norah.

”Sekarang kamu,” kata Norah.

”Apanya?”

”Huh, apa selain suka becanda kamu juga menyebalkan?”

”Panggil saja John.”

”Apa itu artinya bukan namamu?”

”Haha…memang bukan.”

Aku menyebutkan namaku. Dan dia tersenyum lega.

Sejak perkenalan itu aku mulai sering pergi ke kafe bersama Norah. Ada semacam kedekatan yang tak terbantahkan. Memang kami tidak selalu menghabiskan waktu bersama di kafe. Kadang aku mengajaknya nonton film ke bioskop. Aku suka film action, sementara dia suka film horor. Tetapi itu tak menimbulkan pertengkaran karena di satu hari kita bisa nonton film action, dan di hari lain nonton film horor.

Kalau sedang ada pameran lukisan kita juga pergi. Aku lebih tertarik dengan lukisan abstrak, dia lebih suka lukisan realis. ”Kamu memang abstrak!” katanya, mencoba menggodaku yang sedang asik menikmati sebuah lukisan di sudut galeri. Untuk membalasnya, aku hanya perlu mencubit pipinya, dengan lembut tentunya. Tapi tetap saja dia meringis seperti kesakitan, padahal cubitanku sangat lembut.

Kami memang banyak perbedaan. Tapi itu justru membuat kedekatan kami semakin indah. Kami bisa banyak berbeda, tapi untuk urusan cinta dan kafe, kami sehati. Kafe tetap menjadi tempat favorit yang sering kami datangi. Kalau akhirnya aku bertemu dengan Norah di kafe, itu adalah sebuah kebetulan yang indah. Tapi dia tidak setuju saat kukatakan pertemuan kami adalah kebetulan.

”Tuhan tidak bermain dadu,”[4] protesnya.

Dia memprotes. Baginya tak ada yang kebetulan. Aku mengiyakan. Selain aku suka senyum dan tawanya, aku juga suka saat melihatnya cemberut, protes. Bisa dibilang aku suka semuanya dari dia. Aku hanya tidak suka saat dia menangis.

”Jadi, Tuhan membawamu kepadaku?” tanyaku, sedikit menggoda.

”Mungkin.”

”Tuhan tidak bermain dengan kemungkinan.”

Merasa kata-katanya kubalikkan, dia meraih tisu, menekan-nekannya menjadi bulatan kecil dan melemparku dengan itu. Kami tertawa.

Itu beberapa tahun yang lalu. Kini Norah sudah pergi. Tidak pernah lagi menemaniku minum kopi di kafe itu. Sejak kepergiannya aku masih pergi ke kafe yang sama. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun. Tak ada lagi orang seperti Norah yang datang untuk sekadar membuat obrolan kecil lalu pergi tanpa meninggalkan sebuah nama. Kalaupun ada, sosok Norah tak akan pernah tergantikan. Tak pernah ada pengganti, yang ada hanya kebersediaan menerima yang baru atau tidak.

Setelah kepergian Norah, aku pun pergi meninggalkan kota itu. Meninggalkan kafe. Mungkin setelah kepergianku, kepergian kami, ada lelaki dan perempuan lain yang dipertemukan oleh sebuah kafe dan menorehkan banyak cerita. Bisa juga tak ada. Tapi bagiku, di kafe itu hanya ada satu kisah, tentang Norah. Aku masih bisa mengingat dengan jelas pertemuanku dengan Norah. Bukan hanya mengingat, bahkan pertemuan terakhir itu selalu datang di mimpi-mimpi gelisahku.

”Kamu bisa datang setiap hari ke kafe ini. Tetapi, kamu tidak selalu bertemu dengan orang yang ingin kau temui duduk manis di kafe ini.”

Waktu itu aku memang tidak menanggapi serius kata-kata Norah.

”Apa salah jika aku selalu berharap menemukanmu duduk manis saat aku datang ke kafe ini?”

”Tak ada yang salah. Kadang kita dituntut untuk memilih dan kita akhirnya terpaksa memilih sesuatu yang tidak kita inginkan. Atau menerimanya sebagai takdir.”

Saat itu aku mulai takut dengan kata-katanya. Selama bersama, Norah adalah perempuan periang, katanya mengalir indah di kejerniannya. Tetapi, pada pertemuan terakhir itu, sungguh tak pernah aku tahu kalau itu akan menjadi yang terakhir. Kata-kanya seperti lautan dalam, gelap, dan tak mudah ditebak.

”Seperti yang pernah kau tulis dulu. Mungkin aku akan sedikit berkorban untuk menjadi Kristus.”

”Saat itu aku hanya menulis. Tak ada yang serius.”

“Iya, tapi dari tulisan itu aku mulai mencintaimu. Setidaknya kamu adalah lelaki yang memiliki sesuatu yang membuatku jatuh cinta. Aku tak tahu apa. Yang jelas aku jatuh cinta.”

”Ya. Aku juga merasakan yang sama. Kita akan bahagia.”

”Aku merasa sepertinya aku akan segera pergi.”

”Pergi ke mana. Tak akan lama bukan?”

“Tak tahu. Aku juga tak tahu akan pergi ke mana. Hanya saja aku merasa aku akan pergi, ke sebuah tempat, untuk berkorban, untuk menjadi Kristus.”

”Apa kamu akan menikah dengan orang lain dan meninggalkanku?”

”Entahlah, Tuhan tak pernah bermain dadu. Dia punya rencana sendiri.”

Aku tahu dia tak pernah punya rahasia. Selama bersama, dia selalu berbicara apa saja. Dia suka bicara dan aku suka. Karena itu aku menganggapnya tak pernah memiliki rahasia. Tetapi aku salah, setiap orang punya rahasia.

”Besok kalau kamu tak ada acara, kamu bisa menemukanku di sini.”

”Aku tak tahu. Sepertinya aku akan pulang beberapa hari. Ibu menyuruhku pulang. Ada hal penting katanya…”

”Baiklah. Setelah kembali kamu bisa menemukanku di sini.”

Saat itu dia tak berkata apa-apa. Hanya mengangguk. Setelah itu kami hanya diam. Menanti waktu. Dan tibalah saat dia minta diri. Pulang. Tetapi sebelum pergi dari kafe, dia mengajukan sebuah pertanyaan.

”Kamu akan mengenangku sebagai apa? Perempuan penyuka kafe dan cappuccino, atau perempuan yang jatuh cinta padamu?”[5]

Aku terpaku. Tak tahu harus menjawab apa. Norah begitu berbeda hari itu. Lama aku tak bisa menjawab. Mulutku seperti terkunci. Di pikiranku juga tak terlintas sedikitpun kata apa yang harus kugunakan untuk menjawab pertanyaannya. Tak ada. Segalanya serbarumit, apa yang terjadi dengannya? Apakah dia akan dipaksa menikah oleh orang tuanya? Dia kemudian pergi. Tanpa jawaban dariku. Aku menatap punggugnya. Jalannya seperti pipit terbang gontai. Sebagai burung, sayapnya sedang terluka.

Aku masih sering ke kafe. Dua hari, empat hari, masih belum ada kabar dari Norah. Sampai akhirnya di hari kelima ada kabar dari kota Norah bahwa dia telah meninggal. Sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Ada orang yang bilang itu murni kecelakaan. Ada yang bilang perempuan itu (Norah) sengaja menabrakkan mobilnya ke moncong truk kontainer karena dipaksa menikah dengan pengusaha tua dengan banyak wanita simpanan. Ada juga yang bilang Norah frustrasi karena orang tuanya akan bercerai. Tak ada yang tahu pasti kecuali Norah, dan Tuhan. Polisi akhirnya menyimpulkan itu murni kecelakaan. Keluarga Norah juga mengikhlaskannya sebagai kecelakaan. Kasusnya ditutup.

Aku hanya bisa berduka. Tak bisa berziarah ke makamnya. Aku justru pergi ke kafe di mana kita bertemu. Memesan kopi dan duduk di kursi yang sama bersama Norah; menziarahi kenangan.

Waiters datang membawa pesananku dan menyelipkan secarik kertas.

”Apa ini?”

”Beberapa hari lalu ada perempuan datang ke sini dan menitipkan ini.”

Sebuah kertas dengan tulisan dari tangan yang begitu kukenal. Dia masih menunggu jawabanku atas pertanyaannya yang lalu: ”Kamu akan mengenangku sebagai apa? Perempuan penyuka kafe dan cappuccino, atau perempuan yang jatuh cinta padamu?”

Aku benci dengan diriku. Karena aku menangis setelah membacanya. Lelaki memang makhluk paling cengeng. Entahlah aku harus mengenang Norah seperti apa. Saat ini aku hanya bisa mengenang Norah sebagai perempuan yang pergi. (*)

Jakarta, 18-19 Februari 2014

 


[1] Lihat ”Rendezvous”, karya Agus Noor

[2] Lihat ”Café Terrace”, Vincent van Gogh

[3] Lihat Al Kitab

[4] Lihat A. Einstein

[5] Lihat film ”My Blueberry Night”


About this entry