Pesan Yang Tak (Pernah) Sampai

1

#cerpen ini kembali saya upload untuk seorang teman di sudut kota terjauh#

Cerpen Agus Budiawan

Surat Pertama

Sering aku membayangkan kau menuntunku pada sebuah jalan kecil yang kedua sisinya diapit hamparan taman hijau dengan bunga berwarna-warni. Dan ketika kita melewati jalan yang berbatu dan licin oleh gerimis yang turun begitu saja itu, tanganmu akan lebih cepat bergerak untuk menangkapku ketika aku sedikit terpeleset dan akan tergelincir. Seakan tak kau biarkan sedikit pun luka menggores tubuhku. Aku juga sering membayangkanmu menemui aku. Dan dengan tanganmu, kau hancurkan tembok yang sengaja didirikan untuk memisahkan dua jenis manusia yang ingin menyatukan hati seperti kita, lalu membawaku pergi. Bukan demi untuk membuktikan cintamu padaku. Sama sekali bukan. Tetapi, hanya untuk mengajari aku bagaimana caranya memberontak.

Sejak awal aku menaruh rasa padamu, aku lebih senang hidup dalam lamunan. Pertemuan antara kita sangat jarang sekali. Itu pun hanya sebatas bertukar salam dan senyum.Apalagi yang bisa aku lakukan? Aku toh hanya bisa mencuri pandang wajahmu dari sela-sela tumpukan botol air mineral pada sebuah rapat anggota. Karena tidak mungkin aku mendekatimu dan membelai rambutmu. Bisa saja aku dianggap wanita sundal yang tak tahu malu. Atau bisa juga seluruh anggota rapat membacakan dalil-dalil bahwa mendekati zina adalah perbuatan dosa secara bersama-sama dengan sorot mata tajam. Seakan-akan yang mereka lihat bukan aku, tetapi seperti melihat setan. Aku bukannya tak berani. Tapi, waktu itu aku masih terlalu lugu untuk mengabaikan petuah ayah yang selalu dihunjamkan ke telingaku ketika aku melakukan sedikit kesalahan yang bisa membuatnya malu. ”Kamu harus menjaga kehormatan ayah-ibumu serta pesantren ini. Mengerti?!” Aku tahu. Ayahku adalah sejenis manusia yang gila akan kehormatan. Dan aku muak dengan itu.

Memikirkan bahwa mungkin kau sedang tak berdaya menungguku di balik tembok-tembok itu, aku membayangkan daun-daun cemara yang tumbuh di dekat tembok itu berubah menjadi pasak-pasak beton. Kemudian jatuh dan menghancurkan penghalang itu. Lalu, bukan hanya kita yang bisa bebas bertemu dan pergi kamana saja yang kita mau, tetapi akan banyak hati yang menyatu dan berbahagia. Bagi seorang pecinta seperti aku, setebal apa pun tembok itu, sekuat apa pun pagar yang terbuat dari baja kualitas terbaik pun, tak akan mampu meghalangi cinta yang ingin menyatu dengan hatimu. Tapi, aku juga tak bisa terlalu sombong. Kenyataannya adalah aku tak bisa menemuimu lebih sering. Aku takut tak bisa terbiasa denganmu karena pertemuan yang terlau jarang. Entah rasa apa yang akan kau alamatkan ke hatiku. Yang bisa aku yakini sekarang adalah kau juga mencintaiku. Mungkin kau akan menganggap cintaku ini adalah cinta yang tak mungkin. Terserah apa katamu nanti.

Tentu kau tahu, dan memang kau pandai dalam hal ini; bahwa membayangkan sesuatu sama saja menjadikan diri kita seperti Tuhan yang bisa menuntun kehidupan kita menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tapi, ketika sejenak saja kita lengah dan sadar, baru kita tahu bahwa itu hanya sia-sia. Karena kita tak bisa membuat takdir baru dalam garis takdir yang sebenarnya. Meskipun kita juga tak tahu mana takdir yang sebenarnya. Kita hanya bisa sedikit saja merubahnya. Itu pun jika kita mampu. Kata-katamu itu sudah menyatu denganku. Tapi, aku tetap lengah dari kenyataan, dan terus hidup untuk sekadar membayangkanmu…

 

Balqis berhenti menulis, dadanya terasa sesak menahan air mata yang malah jatuh di hatinya. Menangis dalam hati memang terasa lebih menyakitkan. Tapi, Balqis sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi wanita yang kuat. Dia tak ingin ayahnya mengetahui atau mendengar isak tangisnya. Tipe orang seperti ayah Balqis adalah seorang ayah yang akan merasa menang dalam sebuah perselisihan ketika mengetahui lawannya menangis.

Balqis menaruh pena dan kembali meneliti tulisannya dari awal; seakan-akan takut ada satu atau dua kalimat yang terlewat dari tulisannya. Dia membaca sangat cepat seakan-akan dia telah hafal seluruh isi surat itu dan yakin bahwa tak ada satu pun kata penting yang terlewatkan. Setelah dia benar-benar yakin, dia lalu melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam sebuah amplopcokelat. Setelah merekatkan ujungnya dengan lem dan mencantumkan namaserta alamat yang dituju. Dia kemudian menyerahkannya kepada petugas pondok untuk kemudian diantarkan ke kantor pos terdekat. Balqis menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya pelan-pelan seakan beban yang ada di dadanya ikut keluar pelan, bersama hembusan napasnya. Sejenak dia merasa lega dan berharap Suseno cepat membalas suratnya.

Surat Pertama

Aku melihatmu cemberut saja waktu itu. Bukannya aku tak tahu apa yang bergejolak dalam hatimu. Aku cukup pandai untuk membaca matamu. Ketika akan balik ke pondok, dengan malu-malu kau bertanya. ”Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku katakan padamu. Tapi, aku tak sanggup bersembunyi dari tatapan mata-mata nyalang dari orang-orang di sekitar kita. Dalam pertemuan rapat anggota itu, aku sengaja untuk tetap menunduk. Bukan karena takut tak kuat manahan keinginan untuk bercumbu denganmu. Sama sekali bukan. Bahkan, untuk berpikir saja aku tak berani. Aku hanya takut untuk bercermin. Karena setiap melihatmu, aku merasa seperti sedang melihat diriku di cermin matamu.

Perbedaannya sangat jauh, Balqis. Kau adalah air jernih yang ditampung pada sebuah belanga, yang terbuat dari kaca bening, dan ditaruh pada sebuah ruangan di rumah seorangterhormat.Sedangkan aku hanya seekor ikan nila. Yang jika aku berenang di dalam airjernih dengan wadah yang indah itu, setiap orang yang melihatnya akan membicarakan kalau seharusnya ikan itu tak berada di sana. Atau, buang saja ikan itu ke got. Dan mereka pun akan setuju seharusnya yang berenang di situ adalah ikan lain yang lebih indah. Aku bukan orang yang dengan mudah menggigil hanya karena direndahkan. Sama sekali bukan. Hanya saja aku tak mau kau ikut terendahkan karena aku.

Bayak orang yang mengatakan, jika cinta tanpa sadar telah megikat hati manusia satu sama lain, mereka akan mengatakan cinta lebih penting daripada materi dan kehormatan. Tapi, tidak denganku, Balqis. Aku memang jatuh cinta padamu. Tapi, aku tidak menjadikan cinta sebagai segala-galanya. Kita tetap butuh materi dan kehormatan utuk menghidupi serta menjaga keutuhan keluarga kita kelak. Aku belum berani memintamu. Karena aku sadar yang aku punya sekarang baru rasa cinta yang masih aku jaga dengan baik. Dan aku tak mau membawamu diam-diam lewat pintu belakang rumahmu. Aku akan membawamu sebagai pengantinku lewat pintu depan, dengan diiringi lambaian tanganorang tuamu dan tangis kebahagian. Semoga aku tak terlambat.

Tentu kau ingat pertemuan terakhir kita sebelum kau pergi bukan? Waktu itu kutanyakan padamu tentang bagaimana kau bisa keluar dari pondok. Aku pun tersenyum senang meihatmu tampak merona seraya menjawab, ”Seperti yang dulu. Ada rapat pengurus di luar. Kau sendiri? Kebohongan apa lagi yang kau buat?” Tanyamu kemudian.Kau memandangku sebentar dan cepat-cepat memalingkan pandangan ke arah padang rumput hijauh yang terhampar di depan kita. Kau tersenyum.

”Tidak ada” jawabku. Dan kau merasa heran,lalu menatapku seakan-akan meminta jawaban bahwa aku tak melakukan sesuatu seperti yang kau pikirkan.

”Benar.”

”Untuk apa kau lakukuan itu, Mas?” Tanyamu, heran.

”Tinggal satu minggu lagi, Balqis. Dan kau tahu. Aku tak punya alasan yang kuat agar aku bisa keluar ketika nanti kau akan berangkat. Dan aku akan menyesal tak bisa melihatmu.” Mendengar itu, air mukamu berubah murung, lalu sedikit bergumam. ”Iya, satu minggu lagi.”

Setelah itu,kita diam. Hanya ada suara angin dan kicau burung yang menggema di telinga kita. Seakan-akan di dunia ini yang ada hanya suara angin dan burung-burung saja yang bisa kita dengar ketika hati dan pikiran sedang menanggung beban yang tak mampu jika hanya salah satu dari kita saja yang menanggungnya.

”Mas…,” katamu, memecah keheningan. ”Sampai kapan kau akan menganggap aku sebagai adikmu?Apa tak ada sesuatu yang ingin kau katakan sebelum aku pergi?” tanyamu, berharap.

Mendengar pertanyaanmu itu, aku tetap terpaku pada hamparan rumput hijuah yang dimataku kini tampak mengihitam akibat jilatan api di musim kemarau yang menghanguskan. Kata yang hendak dengan paksa aku keluarkan untuk memenuhi harapanmu pun ikut tertelan kembali ke dasar hatiku. Dadaku terasa sesak.

”Kau sudah tahu. Ayahku sengaja memindahkan aku karena ketakutannya kepadamu. Karena hubungan kita yang semakin dekat ini. Tidakkah kau ingin memberiku kepastian agar aku bisa merasa tenang di tempat yang jauh. Yang tak akan memungkinkan lagi jika suatu ketika aku igin bertemu denganmu seperti ini.”

”Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, aku ingin memberitahumu tentang sesuatu…”

”Apa?”

”Mimpi.”

”Mimpi?”

”Iya, mimpi yang sama. Dan sering menganggu tidurku. Aku sering terbangun dari tidurku karenanya. Aku bermimpi sedang berdiri di tepi sungai yang airnya mengalir begitu tenang dan jernih. Hingga aku bisa melihat ikan-ikan sedang mencari makan di permukaan. Dalam pikiranku terlintas sebuah rencana untuk membuatkanmu sebuah sampan agar kita bisa mengarungi sungai itu sampai ke muaranya. Tentu kau tahu, muara adalah tempat berkumpulnya semua harapan dan cita-cita.

Tapisayang, setelah sampan selesai kubuat dan akan mendorongnya ke sungai, arus yang tadinya tenang dan meneduhkan berubah menjadi arus bergemuruh yang bisa menenggelamkan. Batu-batu besar yang tadinya tak ada pun kini seakan bermunculan dari dasar sungai dan membuat arus semakin mengerikan. Kita pun akhirnya hanya bisa menatap nanar sungai itu dan membayangkan di mana muaranya. Dan kita pun pergi dari sungai itu tanpa satu kata pun…”

”Kau tahu pertanda apa itu, Mas?”

”Entahlah. Aku cuma berharap, kau bisa cepat selesai dan kembali ke sini agar aku bisa dengan mudah menemukanmu dan membawamu pergi.”

Pertemuan terakhir itulah yang menyiksaku sampai saat ini, Balqis. Cinta yang tak terungkapkan lebih menyakitkan daripada kehilangan. Merasa kehilangan adalah milik orang-orang yang pernah memiliki. Tapi, aku sudah merasa kehilangan sebelum aku sempat memuilikimu…

 

Suseno berhenti menulis. Dia terpejam sebentar untuk menata hati dan memantapkan niat untuk mengirimkannya kepada Balqis. Perasaannya bergemuruh. Seperti mendung dijilat halilintar. Mengungkapkan sebuah perasaan yang begitu sensitif membuatnya merasa lebih menegangkan dibandingkan suasana sedang dihadapkan pada sebuah persidangan dengan posisi sebagai terdakwa dengan bukti lengkap yang memberatkan.

Setelah mencantumkan namaserta alamat yang dituju, dia menyerahkan surat itu kepada pengurus pondok dengan ongkos kirim untuk kemudian diteruskan ke kantor pos. Dia menata hati kembali dan mencoba menghilangkan prasangka buruk atas jawaban Balqis sesudah membaca suratnya itu. Dia meras lega karena telah berhasil mengungkapkan isi hatinya seperti yang pernah dipertanyakan oleh Balqis kepadanya pada pertemuan terakhir itu. Meskipun hanya melalui perantara surat.

*****

Surat Kedua

Aku tak tahu kenapa tak kau balas suratku, Mas. Sudah lebih dari dua bulan kukirim pesan untukmu. Apakah pesan itu tak sampai? Atau kau benar-benar tak menaruh perasaan terhadapku sedikit pun. Sehingga surat yang hanya sekali kau baca, lalu kau remas-remas dan kau buang ke tong sampah?

Mas, satu minggu yang lalu ada sebuah keluarga terhormat menurut pandangan ayahku memintaku untuk anaknya yang pertama. Orang terhormat itu adalah pemilik pondok dimana sekarang aku tinggal. Ayahku sangat antusias dengan pinangan itu. Sudah aku katakan pada suratku yang pertama. Ayahku adalah seorang ayah yang gila akan kehormatan. Dan, dengan menikahkan aku dengan anak orang terhormat itu, kedudukan sosial dan kehormatan ayah akan semakin bertambah. Dia tak hanya akan mengawinkan aku dengan anak orang terhormat itu. Tapi, mengawinkan pondok ayahku dengan pondok orang terhormat yang sudah tersohor itu.

Aku merasa muak dengan kepentingan-kepentingan yang mengekordibelakang perjodohanku itu. Mereka mungkin akan membuat sebuah koloni besar yang berisi orang-orang yang gila akan kehormatan. Tanpa rasa kemanusian, ayahku memintaku untuk mengorbankan cintaku kepadamu untuk kehormatan keluarga ayah, dalihnya. Sejak itu aku terus berpikir apakah seorang anak dilahirkan hanya untuk dikorbankan? Memang dalam hal dilahirkan kita tak bisa memilih. Tapi, untuk hidup, kita berhak memilih apa yang terbaik untuk diri kita. Hanya saja aku sedih. Setiap orang tua menganggap diri mereka selalu lebih tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Dengan alasan mereka sudah hidup lama di dunia ini. Dan sudah sering merasakan manis, asam, dan asinnya kehidupan ini. Tanpa pernah memikirkan bagaimana jika mereka berada di posisiku seperti sekarang ini.

Aku bilang percuma. Percuma berdebat dengannya. Yang ada pada akhirnya aku akan menjadi anak durhaka di matanya jika sedikit saja aku menjawab. Jika legenda Malin Kundang memang benar-benar ada, maka aku akan berdoa agar kejadian itu terjadi juga padaku. Aku akan lebih senang hidup sebagai seonggok batu yang tak pernah bisa merasakan apa-apa.  Tapi, sebelum aku benar-benar menjadi batu, ada satu hal yang sangat mengganjal di hatiku. Tentang perasanmu kepadaku. Apakah kau mencintaiku, Mas? Aku ingin kepastian…

 

Hampir bersamaan dengan kata terakhir yang dia tulis itu, air mata Balqis menetes mengenai tulisannya dan menjadikannya sedikit kabur. Dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk menahan agar air matanya tak jatuh. Tapi,toh dia tetap wanita biasa yang tak bisa menjadi sekuat batu.

Untuk yang kedua kalinya dia memberikan surat itu kepada petugas pondok dan menaruh harapan sangat tinggi pada balasan Suseno.

Surat Kedua

Apa aku terlalu banyak bicara hingga membuatmu bingung untuk membalas suratku? Aku mohon kau maklum, Balqis. Aku sudah terlalu lama diam. Padahal, sebenarnya banyak sekali yang ingin aku katakan padamu. Tapi, aku takut kau bosan. Dan, ternyata memang kau bosan hingga tak mau membalas suratku. Atau kau sudah terlalu lama menunggu jawabanku atas pertanyaan yang kau berikan padaku pada pertemuan yang terakhir itu. Dan, akhirnya kau merasa putus asa? Aku harap kau tak begitu. Karena yang aku kenal darimu adalah sifat pantang putus asamu.

Balqis, di sini, sambil terus mendalami pelajaran, aku sudah memiliki rencana membuka sebuah usaha setelah selesai nyantri. Sebuah usaha yang tak begitu memalukan bagi ayahmu untuk menerimaku menjadi menantunya. Tapi, aku masih belum terlalu yakin. Kita sama-sama tahu seperti apa ayahmu. Maaf, aku tak hendak mengatakan ayahmu materealistis atau gila kehormatan. Tapi, kenyataannya aku hanya orang rendahan dengan cita-cita tinggi hendak mempersuntingmu. Meskipun aku tahu sebenarnya itu tak masalah bagimu.

Dan seperti yang aku janjikan padamu sebelumnya, aku akan membawamu keluar dari rumah melalui pintu depan, dengan diiringi lambaian dan tangis haru orang tua karena anak gadis satu-satunya telah aku ambil dari mereka. Untuk itu, aku harap kau bisa menentukan hari baik kapan keluargamu bisa menerima kedatanganku untuk memintamu. Jangan lagi kau tak membalas suratku ini. Wassalam…

 

Dengan perasaan penuh harapan, Suseno mengakhiri tulisannya dan langsung menyerahkannya kepada petugas pondok untuk kemudian diteruskan ke kantor pos. Dia merasa cemas.

*****

Pada Sebuah Ruangan

Di tempat lain, di sebuah ruangan, di salah satu sudut komplek pesantren tempat Balqis belajar, yang cahaya lampunya sedikit redup karena usia yang sedikit tuamembuat ruangan itu menjadi remang. Di ruangan itu hanya ada satu orang yang sedang duduk di belakang meja kerjanya. Di hadapan orang berwajah remang itu, tergeletak empat surat dengan amplop berwarna cokelat. Dia membolak-balik keempat surat itu untuk meyakinkan matanya apakah masih cukup awas untuk membaca alamat yang dituju, serta nama pengirim yang tertera di kedua sisi keempat surat tersebut.

Dia menyulut sumbu lilin dengan korek api untuk membuat penerangan agar bisa lebih mudah membaca isi surat-surat itu. Lama dia menekuri tulisan demi tulisan dari dua manusia yang sedang menghadapi permasalahan besar itu. Entahlah, apa yang dipikirkan oleh seseorang berwajah remang itu hingga cahaya korek api menangkapnya menagis. Dalam hatinya, dia merasa bersalah. Tapi, dia tak bisa apa-apa. Dia dihadapkan dua pilihan yang membuatnya terpaksa harus memilih untuk tak berbuat lalai. Atau dia akan kehilangan pekerjaannya.

Dia tak pernah tahusudah berapa kali dia membaca surat-surat itu. Yang pasti ketika dia merasa bersalah, dia akan menuju ruangan itu dan menguncinya dari dalam. Di dalam ruangan remang itu, yang hanya ada dia seorang,kembali hanyut dalam surat-surat itu. Setelah selesai membaca dan air matanya belum benar-benar kering, dia akan memasukkan surat-surat itu ke dalam laci dan menguncinya rapat-rapat,lalu bergegas menuju ke sebuah tempat di seberang jalan yang tak jauh dari pondok.

Dia berjalan melewati gang-gang kecil pada sebuah perumahan sederhana di lingkungan pondok dengan menunduk. Dia tak akan menghiraukan setiap santri yang mengucapkan salam padanya dengan senyum terkesan dipaksakan. Dia berlalu begitu saja menuju sebuah tempat dengan bau kembang yang sangat khas; kembang kamboja. Dia sudah hafal diluar kepala makam mana yang akan dia ziarahi. Dia harus melewati bebapa pasang batu nisan  sebelum sampai pada sepasang nisan yang dia tuju. Dia langsung bersujud di depan makam itu dengan bercucuran air mata. Di tempat itu mungkin sudah beribu kali dia bersujud memohon maaf karena dialah surat yang Balqis kirim atau yang seharusnya Balqis terima tertahan dalam laci kerjanya. Dia sangat menyesal atas surat yang tak sampai itu. Dan, memang tak akan pernah sampai.

Surabaya, 14 November 2009


About this entry