Fragmen 14: Seperti Pagi di Kota yang Entah

CIMG0482

PAGI Dia lewati tanpa secangkir kopi dan surat kabar pagi. Lagipula, Dia tak perlu berita pagi. Karena berita apa yang akan keluar hari ini, Dia sudah tahu sehari sebelumnya. Dan, Dia merasa cukup dengan itu. Pagi ini juga Dia lewati tanpa kepul asap rokok yang memenuhi ruangan. Begitulah, pagi berjalan dengan hambar, seperti hari-hari sebelumnya.

Di pagi seperti ini, orang-orang sudah mulai bersiap. Mereka beraktivitas layaknya manusia dan kaum pekerja. Tapi, di ruangan itu, terbaring di atas kasur tipis, Dia masih mencoba memejamkan mata. Sisa kantuk tengah malam pergi entah ke mana. Dia benci pada mata yang memerah, tapi masih enggan terpejam. Perutnya memang masih belum kosong, penuh dengan mi instan, makanan sehari-hari sehabis jaga malam. Tapi, mulut Dia masih pahit sisa rokok dini hari. Dia tetap berusaha mengatupkan kedua matanya.

Pagi akan selalu berjalan seperti itu, sebelum akhirnya Dia tertidur dan bangun di siang hari karena kegerahan. Udara panas Jakarta memang tak cukup hanya dilawan dengan kipas angin. Tapi, Dia tak punya pilihan. Dia tak perlu pindah tempat yang lebih nyaman dan mahal. Atau membeli AC yang otomatis akan membengkakkan biaya sewa. Dia harus berhemat. Lagipula apa susahnya kepanasan? Maka, Dia bangun saat matahari benar-benar sedang mengangkang di atas Jakarta.

Dia memang bisa menikmati panas Jakarta sebagaimana Dia menikmati mi instan yang baru diangkat dari rebusan air. Dan, Dia bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri. Dalam mangkuk yang menampung sebuah kota, kota harapan. Ketika panasnya Jakarta tiba-tiba berubah sendu dengan awan kelabu yang membumbung di pucuk-pucuk gedung. Lalu, hujan temurun menggaris-garis, bersama butiran-butiran es yang terpental di atas genting-genting dan berserakan di gang-gang sempit.

Menikmati hujan, Dia duduk di kursi plastik kusam di dalam kamarnya. Sejauh mata memandang, Dia seperti melihat tabir kelabu dengan siluet gedung-gedung tinggi. Hujan mewujud tirai yang menyelimuti. Dia hanya bergumam, ’musim mudah sekali berubah’. Ya, seperti hati perempuan, musim di kota ini begitu cepat berubah.

Kebon Jeruk, 22 April 2014


About this entry