Ketika Kojrek dan Ponju Makan di HANAMASA

hana

Jakarta sudah mulai sore saat Kojrek memacu motor Mio milik temannya. Sebut saja nama teman itu Ponju. Ponju yang seorang wartawan hari itu ada janji dengan sebuah komunitas yang akan diliput. Dan, komunitas itu meminta ”COD-an” di Restoran Hanamasa di kawasan Blok M.

Ketika mendengar ”Hanamasa”, Kojrek langsung terpikir isi dompetnya. Maklum, selama ini doi seringnya makan di warteg atau warmindo (warkop). Maka, sebelum meluncur ke tempat janjian, Kojrek dan Ponju mampir dulu di warteg dekat kosan.

”Ngeri, bosssss… Makanan Hanamasa mahal-mahal,” ujar Ponju saat itu.

”Gampang, kita kenyangin aja ni perut di warteg,” saran Kojrek. ”Nanti di sana kita pesen minuman aja.”

”Siiiippp….masyukkkk!?” Ponju setuju.

Kojrek pun pesan nasi satu (soalnya di warteg di Jakarta bisa dikasih nasi setengah porsi kalau gak bilang ”nasi satu”). Ponju juga harus mengisi perutnya. Jadilah mereka makan dengan lahap sambil diselingi obrolan-obrolan tidak penting. Tetapi, tetap saja itu menjadi basa-basi yang menyenangkan bagi mereka.

Setelah kenyang dan mengisap rokok sebatang, Kojrek dan Ponju tancap gas. Aman, lalu lintas di sekitar Jalan Palmerah masih normal. Begitu juga ketika melintas di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan. Namun, lalu lintas menjadi seret ketika melintas di depan Senayan City. Dan, kondisi seperti itu memanjang sampai ke Blok M.

Kojrek dan Ponju belum pernah ke Hanamasa di kawasan Blok M. Jadi, ketika sampai di wilayah Blok M, mereka masih harus mencari restoran yang dimaksud. Setelah ketemu, mereka masih harus menunggu calling-an komunitas yang akan diliput Ponju.

Sambil menunggu, Kojrek dan Ponju ngadem dulu di Taman Ayodya, masih di sekitar Blok M, kawasan Kebayoran Baru. Mereka sudah mulai bosan, tetapi komunitas yang akan diliput Ponju masih belum menghubungi. Jadi, mereka mencari tempat ngadem lagi. Mereka pun masuk ke Mall Blok M. Motor juga diparkir di mal ini. Namun, tidak lama kemudian, si komunitas tersebut menghubungi.

Dengan perasaan waswas memikirkan harga minuman, dan akan pesan minum apa, Kojrek dan Ponju berjalan ke Hanamasa yang tidak jauh dari Mall Blok M.

”Sekilas, jika dilihat dari luar, bangunan restoran itu tidak seluruhnya mengusung arsitektur Jepang. Tetapi, masih ada sentuhan keindonesiaannya,” nilai Ponju sok wartawan (eh, tapi dia memang wartawan).

Berjalanlah Kojrek dan Ponju menuju pintu Restoran Hanamasa. Di dekat pintu, ada dua perempuan memakai Yukata. Meskipun ada di dalam, keduanya terlihat karena pintunya terbuat dari kaca. Mereka pun membuka pintu ketika Kojrek dan Ponju berada dekat sekali dengan pintu. Senyum dua perempuan itu mengembang sambil mengucapkan selamat datang dengan menunduk seperti orang Jepang.

IMG_0650

”Ternyata orang Indonesia, bro….!” bisik Kojrek ke Panju setelah memasuki restoran.

”Iyalah, Jhon. Masak orang Jepang di sini nguli! Minimal jadi bos-lah!kata Ponju yang memang wartawan.

”Ya, ya.”

Setalah di dalam restoran, Ponju pun bertemu dengan anggota-anggota komunitas yang akan dia liput. Ponju bersalaman dengan mereka, dan Kojrek pun mengikuti. Kojrek dan Ponju berusaha duduk dengan senyaman mungkin. Setelah mereka duduk, datanglah seorang pelayan perempuan yang lumayan cantik. Kali ini perempuan itu tidak memakai Yukata, melainkan seragam biasa. Dia menyalakan alat pemanggang dan rebusan air.

Setelah itu, ”Pesan apa?” tanya pelayan tadi.

”Minumannya apa aja, Mbak?” sahut Ponju.

”Ada jus stroberi, mangga, semangka, melon, sirsak, dll.”

”Saya jus stroberi aja, Mbak?” pilih Ponju, dan si pelayan tadi mencatat.

Lalu, pelayan tadi menoleh ke arah Kojrek.

”Oh, saya jus sirsak aja, Mbak,” kata Kojrek sambil tersenyum.

Ponju dan beberapa anggota komunitas sudah mulai hidup dalam percakapan menarik seputar komunitas tersebut saat minuan yang tadi dipesan datang. Kojrek yang bukan wartawan, dan hanya ikut mengantar, hanya menjadi pendengar yang baik dan peminum jus yang enak.

Sekitar dua jam berjalan, interview pun selesai. Kini, tibalah waktu untuk makan-makan. Kojrek dan Ponju yang sudah kenyang makanan warteg sedianya ingin berpamitan pulang. Tetapi,……

”Ke mana, Mas, kok buru-buru? Makan dulu….” tanya pendiri komunitas tersebut. Sebut saja namanya Kinclong.

”Pulang dulu, Mas. Kami tadi sudah makan,” jelas Ponju.

Ealaaaaa…ini sudah telanjur dibayarin. Ayo makan dulu…” cegah Kinclong.

Mendengar itu, Kojrek dan Ponju saling menatap. Kesempatan, bro, makan di Hanamasa dan gratis! tis tis…! Kata Kojrek dalam hati. Ponju juga demikian. Mereka pun dengan semangat berjalan ke meja prasmanan dengan segala jenis makanan mentah dan buah-buahan.

”Woi, makanannya mentah semua cui!” kata Ponju kaget.

”Jangan-jangan ada daging babinya, bro!” kata Kojrek asal.

”Ngawur, ini sudah ada sertifikasi ‘halal’-nya, cui!” Jelas Ponju yang masih wartawan.

Tidak banyak bacot lagi, Kojrek dan Ponju pun memilih apa saja yang menurut mereka enak. Mulai cumi-cumi, udang, olahan dading sapi yang tipis-tipis seperti tempe, tahu, hingga bakso masuk ke mangkuk Kojrek. Ponju pun tidak kalah bermacam-macam. Ya, semuanya masih mentah dan harus dimasak sendiri.

”Enak di warteg, kita beli sudah matang siap santap!” protes Kojrek.

”Sekali-sekali makan makanan elite lah, cui, masak warteg-warmindo-warteg-warmindo. Kasian tuh perut!” celetuk Ponju yang hingga detik itu masih wartawan.

Kojrek hanya manggut-manggut. ….

*********

Sebentar, selagi menunggu Kojrek dan Ponju bingung masak sendiri dan merebus sendiri makanan mentahnya, sebaiknya simak penjelasan tentang Hanamasa berikut ini:

IMG_0667

Hanamasa Restoran merupakan restoran Jepang pertama di Indonesia bertaraf International dengan konsep Self-Service (masak sendiri, makan sendiri, bayar sendiri-tapi gratis juga bisa asal ada yang bayarin), serta perpaduan tradisionil khas Jepang dan Indonesia.

Hanamasa didirikan Yasiro Ono di Jepang. Saat itu Yasiro Ono adalah pedagang daging yang sukses. Dia kemudian mencoba mendirikan restoran dengan konsep Self Service. Restoran itu dinamai ”Hanamasa”. Hanamasa berasal dari bahasa Jepang. ”Hana” artinya ’Bunga’ dan ”Masa” artinya ’Terus Berkembang’. Jadi, Hanamasa artinya Bunga yang Terus Berkembang.

Setelah sukses, Yasiro Ono mulai mengembangkan usahanya ke luar Jepang. Antara lain Mongolia, Korea, Cina, tidak terkecuali Indonesia. Restoran Hanamasa pertama di Indonesia terletak di Jl. Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta.  Pada 1989, Hanamasa membuka cabang baru di kawasan Kelapa Gading, Jl. Boulevard Blk. RA1, No. 32-33, disusul daerah-daerah lainnya.

Hanamasa menyajikan menu utama YAKINIKU (makanan yang dibakar) dan SYABU–SYABU (makanan yang direbus) dengan beragam makanan pilihan mulai dari daging sapi, ayam, sea food dan sayuran segar yang diolah secara higienis. Dilengkapi dengan saus tradisional khas Jepang, seperti Saus Niku Tare (saus berwijen) dan Saus Soto Tare (saus tanpa wijen) untuk menambah citarasa masakan khas hanamasa yang enak dan lezat.

Bersambung…

********

IMG_0664

Eh, bentar! Lihat si Kojrek lagi makan di Hanamasa. Dia sibuk menaruh makanan mentahnya di atas panggangan.

”Mas, itu harusnya direbus,” kata salah seorang anggota komunitas sambil menunjuk panci yang airnya sudah mendidih.

”Hehe, iya, Mas. Mau coba hal yang beda,” kata Kojrek ngeles.

”Iya sih, tapi rasanya aneh,” lanjut orang tadi.

Kojrek diam dan terus makan, dan membalik-balik makanan di atas panggangan yang harusnya direbus.

Di seberang meja, Ponju hanya senyum-senyum sambil kesulitan mencomot makanan pakai sumpit. Cumi-cumi dan udang di atas penggangan sering meleset dari capitan Ponju. Kojrek yang masa bodo sibuk membalik-balik olahan daging sapi di atas panggangan juga. Seharusnya makanan itu juga direbus.

Kojrek masih bingung membedakan makanan yang harus dipanggang dan mana yang harus direbus. Ponju yang belum resign jadi wartawan juga bingung.

*******

Mari kita lanjutkan penjelasan mengenai Hanamasa:

“Ada juga saus ”Thai Suki” khas Thailand yang sangat segar dan lezat.Selain menu utama, ada menu tambahan, seperti: Chicken Wing, Burger, dan Sosis Goreng.Untuk hidangan pembuka dan penutup, tersedia aneka salad, jajan pasar, puding, buah es campur, juga minuman segar khas Hanamasa. Semua bisa Anda nikmati, dengan satu harga makan sepuasnya di HANAMASA. Dijamin puas dan yang pasti sehat!”

Penjelasan Tamat

********

IMG_0655

Ups! Kojrek dan Ponju sudah selesai makan. Mereka hanya makan semangkuk makanan. Mereka tidak nambah. Mereka juga melewatkan buah-buahan yang segar bugar. Sementara anggota komunitas yang lain sudah nambah dua sampai tiga kali.

”Kami pamit pulang dulu, Mas, Mbak, terima kasih,” kata Ponju yang sudah interview dan makan.

”Lho, gak nambah lagi? Ayo sikat semua!” timpal Kinclong yang tadi. Kojrek hanya senyum-senyum nyengir.

”Udah gak kuat, Mas. Tadi sebelum ke sini makan dulu,” terang Ponjul. Kojrek masih nyengir-nyengir aja.

”Oh, ya sudah. Terima kasih ya…,” sambung Kinclong.

Kojrek dan Ponjul bersalamn-salaman dengan anggota komunitas lain dan saling berucap ‘terima kasih’. Setelah selsesai, mereka berjalan menuju pintu keluar. Sial, dua perempuan yang tadi di pintu sudah tidak ada. Sekarang yang berdiri di dekat pintu adalah sekuriti restoran.

”Sial!” umpat Kojrek.

Keluar dari restoran, Kojrek dan Ponjul berjalan sambil senyum-senyum sendiri. Mereka pergi ke Mall Blok M untuk mengambil motor. Di atas motor, sambil meliuk-liuk di jalanan Jakarta yang padat, mereka terlibat perbincangan asik.

”Bro, itu bayar satu porsi jatahnya makan sepuasnya lho!” kata Ponju yang dibonceng Kojrek.

”Anying! Malu bro makan banyak! Padahal, ini perut masih muat!” sergah Kojrek sambil konsentrasi bawa motor.

wuzzzzzz…… motor nyalip mereka.

”Ya, paling tidak kita sudah ngerasain makanan Hanamasa! Hahahaha…” timpal Ponju yang gak mirip wartawan.

”Iya, tapi sayang sekali…..!!!” kata Kojrek agak keras.

bim bim…tet tet….tot tot….klakson mobil, bus, motor, bersahut-sahutan.

”Sayang kenapa cui?” tanya Ponju penasaran, layaknya wartawan, dan dia memang wartawan.

”Lihat dua perempuan pas kita masuk tadi gak, bro?” Kojrek mengetes ingatan Ponju.

”Ingat jelas! Emangnya kenapa, cui?” Ponju penasaran khas wartawan.

”Dua perempuan yang jaga pintu tadi orang Indonesia! Coba yang jaga minimal Maria Ozawa, Ameri Ichinose, atau Sola Aoi, pasti keren, bro!”

”Nggateli….!” celetuk Ponju.

Hahahahaha….mereka tertawa. Dan, motor terus meliuk-liuk mencari celah di kepadatan lalu lintas Jakarta di malam hari. Gedung-gedung tinggi terang-benderang dengan lampu berwarna-warni. (*)

manuskrip, 8 April 2014


About this entry