Surat dari Rapel Valley

CIMG0538

Di sebuah perpustakaan kota, yang sering lengang,
aku berusaha mencari buku-buku lama. Tapi, tanpa sengaja
aku menemukan surat ini:

”Akan aku gambarkan sedikit tentang Rapel Valley. Ini adalah tempat yang indah. Jelas kau tak bisa melihat keindahannya sebagaimana aku melihatnya. Tetapi, bayangkan saja tanah yang subur, di daerah pegunungan.”

”Bayangkan hamparan perbukitan, rumput-rumput, serta pohon-pohon hijau, lengkap dengan bebunga. Di sini juga banyak tanaman anggur. Anggur pegunungan. Bayangkan saja anggur yang dijual di minimarket, supermarket, atau yang dijual di pinggir jalan. Tetapi, itu tidak akan sama. Cukup bayangkan saja.”

”Banyak hari aku lewati dengan menghirup udara pagi di beranda rumah. Sering juga aku memandang senja yang lindap di perbukitan. Itu tak pernah terlewatkan. Saat seperti itu tak akan berjalan tanpa sebotol red wine Frontera.”

”Kau tahu? Anggur itu dibuat pabrik di belakang rumah, Frontera Shiraz. Ah, kau pasti tak tahu. Kau harus ke sini. Lupakan kopi yang sering kau minum di kedai pinggir jalan atau gang-gang sempit. Minumlah red wine di sini. Dari tempat pengolahannya langsung. Tak ada yang lebih nikmat dari ini. Sungguh.”

CIMG0538

”Aku tahu, kau pasti mengataiku terlalu cerewet. Aku juga tahu, saat aku terlalu banyak bicara, kau akan mencubit pipiku. Kalau aku masih terus bicara, kau akan kecup keningku. Dan jika aku masih saja bandel dan cerewet, kau akan begitu saja melumat bibirku dengan bibirmu. Saat itulah aku baru bisa diam.”

”Tanpamu, di sini aku sibuk bermain dengan matahari, air, dan angin pegunungan yang berembus di Rapel Valley. Aku harap kau segera datang dan minum anggur bersamaku. Kata orang, untuk bisa menikmati anggur, kau harus meminumnya dengan gadis cantik. Apa aku tidak cukup cantik untuk menemanimu minum anggur hingga kau tak kunjung datang?”

”Meskipun kutenggak sendiri anggur-anggur ini, aku selalu membayangkanmu ada bersamaku. Minum bersama di depan perapian. Di atasnya kita bisa memanggang apa saja. Bisa daging domba, sapi, atau apa saja untuk menemani minum kita.”

”Pada saat seperti ini, aku berharap malam tak segera berakhir. Dan kita terus berbincang tentang apa saja. Semoga kau lekas datang.”

Rapel Valley, 1883


About this entry