Street Photography Kembali Ngetren

IMG_0123

”Ide dari pop art adalah semua orang dapat melakukan segala hal. Begitu natural, kita semua berusaha melakukannya,” –Andy Warhol.

Andy Warhol adalah ”nabi” pop art. Kutipan itu diambil dari bukunya, In His Own Words. Apa yang dikatakannya itu terbukti saat ini. Seni fotografi bukan lagi monopoli segelintir orang. Kamera telepon atau kamera digital yang makin murah membuat semua orang bisa memotret.

Teknologi foto digital inilah yang membuat fotografi jalanan kembali marak di dunia, termasuk Indonesia, belakangan ini. Tentu saja, fotografi jalanan tidak hanya dihasilkan oleh kamera amatir. Fotografer profesional dengan kamera SLR juga kerap melakukannya. Tapi, kamera ponsel dan kamera saku digital membuat salah satu bagian dari seni foto ini belakangan begitu diminati.

Di Indonesia, akhir-akhir ini muncul beragam komunitas fotografi jalanan dan bahkan ada komunitas yang mengkhususkan diri menggunakan kamera telepon untuk membidik foto jalanan. ”Salah satu rencana kegiatan mereka adalah akan mengadakan Jambore Street Photography Indonesia di awal Juni nanti,” ujar Safir Makki, fotografer yang turut mendirikan Kelas Lawson, komunitas ruang belajar dan berbagi ilmu fotografi.

Rony Zakaria, fotografer profesional yang sering menjadi mentor dalam pelatihan fotografi jalanan, mendukung populernya fotografi jalanan di negeri ini, selain karena demokratisasi kamera, juga lantaran makin banyaknya referensi yang tersedia tentang topik tersebut, baik melalui internet maupun buku. Banyaknya juru foto di dunia yang secara khusus membikin blog tempat menaruh karya fotografi jalanan membuat transfer ilmu itu semakin mudah.

Salah satu juru foto dunia itu adalah Bertrand Meunier dari Prancis. Meunier didatangkan oleh Institut Francais Indonesia (IFI) dari Prancis ke Jakarta untuk menggelar foto halanan ”Hub Side Down” di Salihara. Pameran selama dua pekan lebih itu dibuka pada Sabtu kemarin dan akan ditutup dengan sebuah diskusi bertema ”Jakarta dan Fotografi Jalanan”. Kali ini dia akan memamerkan 67 foto yang diambil dari Hong Kong, Bangkok, Tokyo, dan Jakarta.

Semua foto diambil Meunier secara spontan dan merekam kehidupan manusia di ruang publik. Ini merupakan ciri fotografi jalanan (street photography). Konsep fotografi jalanan, menurut Meunier, adalah teknik pengambilan foto yang jujur dan spontan. Ia mengistilahkan dengan banalitas, yaitu suatu hal yang sangat biasa. ”Ini perbedaannya dengan fotografi jurnalistik dan estetik yang mengutamakan keluarbiasaan dan keindahan gambar,” kata dia setelah menghabiskan semangkuk soto Betawi.

Fotografi jalanan sebenarnya sudah muncul lama. Menurut Oscar Matuloh, kurator Galeri Jurnalistik Antara, Joseph Nicephore Niepce –orang yang pada 1826 berhasil mencetak foto permanen pertama– justru memulai fotografi dengan fotografi jalanan. ”Karena objeknya ada di jalanan, yang diambil dari balkon lantai dua.” Henri Cartier-Bresson, fotografer Prancis yang dikenal sebagai bapak jurnalistik, juga turut mengembangkan fotografi jalanan.

Di Indonesia, salah satu fotografer yang giat berkarya di jenis fotografi jenis ini adalah Erik Prasetya, 56 tahun. Belakangan, Erik menghimpun hasil pemotretannya di Jakarta selama 20 tahun dalam buku Jakarta Estetika Banal. Menurut dia, fotografi jalanan adalah pemotretan kehidupan manusia di ruang publik yang dilakukan secara spontan. Hasilnya sangat wajar dan tidak dibuat-buat. ”Dari hasil pemotretan ini biasanya membentuk suatu pola khusus yang bisa diartikan,” katanya pada Rabu lalu.

Pola khusus itu, kata Erik, biasanya baru muncul setelah pemotret mengambil gambar berkali-kali untuk mendapatkan momen terbaik. Perulangan diperlukan, karena fotografer tidak memiliki latar belakang mendalam tentang objek dan tidak pula merencanakan untuk memotretnya. Fotografer jalanan juga diharapkan memotret secara diam-diam, dalam pengertian subjek yang difoto tak sadar dipotret, dan dilarang menyunting hasil pemotretannya. Dengan cara itu, kata Erik, fotografer akan mendapatkan emosi subjeknya. Emosi ini, menurut dia, bukan cuma pada manusia, tapi juga bisa muncul dari satu bangunan atau suasana.

IMG_0298

Karena memotret secara diam-diam, fotografer jalanan menghadapi masalah etik: seberapa jauh dia boleh memotret? Bukankah orang yang dipotret berhak menolak untuk difoto? Perkara ini selalu muncul di berbagai ruang diskusi para fotografer jalanan di luar negeri. Rony Zakaria mengakui bahwa hak fotografer untuk memotret juga sama dengan hak orang lain yang berada di luar sana. ”Tapi, apabila mereka merasa terganggu (difoto) dan mengatakannya kepada saya, tentu saya akan stop,” katanya.

Etika fotografer sangat bergantung pada juru foto. Menurut Erik, setiap area sosial di dunia adalah ruang publik. Fotografi jalanan tidak menangkap dan menceritakan latar belakang sosial sebuah objek, melainkan hanya menangkap emosi yang terpancar saat itu, sehingga sah-sah saja untuk memotretnya.

Sedangkan Oscar Matuloh menilai fotografer jalanan tetap harus menghormati objek yang mereka ambil secara etis. Setidaknya dengan mengetahui kode etik yang ada pada fotografi jurnalistik. Sebab, dalam kode etika fotografi jurnalistik, sudah tercantum beberapa hal yang berlaku umum terkait dengan etika pengambilan gambar. Masalahnya, tak semua fotografer jalanan ini adalah jurnalis, sehingga mereka tak terikat dengan kode etik tersebut.

Pertimbangan lain dalam perkara kode etik ini adalah soal motivasi, karena setiap fotografer punya motif berbeda saat memotret. ”Kalau saya, fotografi jalanan hanya untuk memuaskan keingintahuan saya. Ketika saya menemukan hal yang menarik dan kemudian saya tidak mencoba memotretnya, hal tersebut bisa membayangi saya beberapa hari. Ada keingintahuan yang ingin dipuaskan terus-menerus,” katanya.

Rony pernah menghadapi masalah saat memotret di jalan. Orang yang dipotretnya marah. Mungkin, kata dia, pada hari itu mereka sedang bad mood, sedang tidak enak badan, atau memang tidak difoto saja. ”Ketika orang itu berkeberatan difoto secara eksplisit, tentu saya akan mengerti dan tidak memotretnya. Namun saya hampir tidak pernah meminta izin ketika memotret di ruang publik,” katanya.

Tapi Rony menegaskan bahwa fotografer mesti pandai menempatkan diri, membuat nyaman sekelilingnya, dan tetap tenang memotret. Dia mengingatkan agar fotografer menentukan sendiri batas etikanya. ”Misalnya, saat menodongkan lensa di depan muka seseorang hanya sepuluh sentimeter, tentu dia akan terganggu,” katanya.

Karena itu, memakai kamera yang tidak terlalu ”mengintimidasi”, seperti kamera telepon atau kamera saku, lebih disarankan. Dengan kamera seperti itu, subjek kadang tak sadar dirinya dipotret. Jika memang yang dicari adalah kebanalan, hasil yang tak semaksimal kamera DSLR tidak jadi masalah.

Salah satu pemecahan lainnya adalah hukum atau aturan yang jelas mengatur perkara ini. Aturan yang paling ketat terjadi di Prancis. Di sana seorang juru potret dapat diseret ke pengadilan bila mengambil hambar seseorang tanpa izin orang yang bersangkutan. Tapi fotografer jalanan tetap diperbolehkan mengambil foto siapa pun di Prancis untuk kepentingan proyek dokumenter. ”Bila dia dapat membuktikan bahwa foto itu dipergunakan untuk membuat suatu proyek dokumenter, si juru foto tidak dapat dituntut,” kata dia.

Kalau menimbang hukum yang ada, kata Rony, Indonesia masih longgar dalam hal pemotretan, terutama untuk ruang publik. ”Kita cenderung masih bebas untuk memotret apa pun selama di ruang publik dan selama kita menggunakannya untuk kepentingan nonkomersial,” kata fotografer penerima banyak penghargaan yang telah memotret di berbagai negara ini. Rony juga punya cerita lucu ketika berada di Kota Marrakesh, Maroko. Di sana dia memotret seekor keledai, dan tiba-tiba ada orang yang berteriak, ”Jangan foto keledai saya! Dia tidak suka difoto!”

Seni dalam Genggaman

Ada sebuah foto di laman utama fotografi Sidewalkers.asia pada pekan lalu. Foto berjudul Untitled karya Indra Rizkiawan itu berupa sebatang pohon mati di dalam pot dengan latar belakang lukisan tembok bergambar kupu-kupu, ilalang, dan bunga-bunga liar. ”Itu semacam pengukuhan bahwa foto saya akhirnya bisa masuk ke galeri tersebut,” kata pria 33 tahun itu. Sidewalkers.asiaadalah galeri fotografi jalanan yang menampilkan karya terpilih fotografer Indonesia.

Indra membuat foto itu pada Februari lalu dengan kamera telepon pintarnya, iPhone 4S. Ia menangkap objek tersebut ketika menjenguk kerabatnya di sebuah rumah sakit di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. ”Kalau pakai kamera SLR, mungkin bisa dimarahi,” kata moderator situs Indonesia Street (Mobile) Photography (ISTRIE) ini. Kamera SLR yang disebut Indra adalah jenis kamera yang memiliki berbagai pengaturan dan biasa dipakai fotografer profesional.

Foto1102

Pengguna kamera telepon yang berukuran kecil itu membuat fotografer tidak terlalu kentara ketika mengambil gambar. Apalagi sekarang orang memotret berbagai objek dengan dengan kamera telepon sudah menjadi pemandangan umum di mana-mana. Ini adalah salah satu hal penting dalam kegiatan fotografi jalanan, yang umumnya memotret objek secara diam-diam untuk mendapatkan foto kegiatan manusia yang alamiah.

Selain itu, kamera telepon lebih cepat dan mudah dioperasikan siapa pun. Itu sebabnya, banyak fotografer memutuskan untuk menggunakan kamera telepon buat memotret. Komunitas mereka pun tumbuh di mana-mana, seperti iPhonesia dan Kofipon (Komunitas Fotografi Ponsel) serta komunitas di tingkat daerah, seperi Mobile Photography Banjarmasin.

Namun komunitas-komunitas itu tak mengkhususkan diri pada fotografi jalanan. Ini berbeda dengan ISTRIE, yang sejak berdiri pada April 2012 memang memusatkan perhatian pada fotografi jalanan. Komunitas ini berdiri atas gagasan beberapa fotografer profesional, seperti Prass Prasetio, Zoelcholid, Bamos, Erik Mahendra, dan Akbar Makarti. Dari mailing list mereka, tercatat jumlah anggota mereka kini mencapai 222 orang. Mereka juga telah melansir buku elektronik The Archive: From The Two-Thousand-Thirteen Camera Rolls yang memuat sekitar 80 foto karya anggotanya.

Fotografi jalanan mulai naik pamor lagi dalam lima tahun terakhir, bersamaan dengan perkembangan pesat teknologi telepon pintar dan kamera digital. Oscar Matuloh menyarankan agar jenis fotografi ini disebarluaskan di kalangan pengguna telepon pintar atau peranti komunikasi lainnya yang berkamera. ”Daripada mereka selfie, kan lebih baik street photography,” ujarnya.

Menurut Oscar, kamera yang bagus di telepon pintar kebanyakan dipakai untuk mengabadikan foto sang pemilik (selfie). Hal ini sangat disayangkan, karena kecanggihan teknologinya bisa menjadi kekuatan yang lebih menyentuh dengan membuat fotografi jalanan. Tapi, untuk masuk ke aliran fotografi jalanan, memang ada beberapa konsep dasar yang perlu dipahami. ”Mengungkap situasi yang terjadi senatural mungkin, spontan, dan sedikit pengolahan digital,” kata Benny Nur Susanto, salah satu pendiri Sidewalkers.asia.

Meskipun kamera telepon dianggap lebih cepat dan mudah, ada sejumlah kekurangan yang belum bisa diatasi oleh teknologi saat ini, misalnya memotret objek dari jarak jauh, yang dapat dilakukan dengan lensa tele pada kamera SLR. Tapi, bagi Indra, kekurangan itu justru menjadi tantangan. Memotret tanpa tele justru butuh keahlian, dan di situlah ”seninya” fotografi jalanan. ”Kalau ada tele, siapa pun bisa mengambil momen yang terjadi dari jauh,” katanya.

Ada pula masalah shutter lag, jeda waktu dari pertama tomblok ”klik” ditekan hingga kamera merekam gambar. Kamera telepon belum bisa mengatasi soal jeda waktu ini. Tapi Benny memperkirakan bahwa beberapa tahun lagi masalah ini bisa diatasi, karena kini pun sudah ada beberapa kamera di telepon seluler yang memiliki shutter lag yang semakin kecil. Untuk saat ini, shutter lag bisa diakali dengan kejelian memotret, yakni bagaimana fotografer dapat mengambil gambar pada waktu yang tepat.

Ukuran dan kualitas gambar juga punya masalah bagi kamera telepon, karena banyak kamera hanya menghasilkan gambar berukuran kecil dan kadang kala kabur. Ini bermasalah bagi fotografer, yang biasanya ingin fotonya dicetak dalam ukuran besar. Untuk itu, fotografer perlu memilih telepon dengan kemampuan kamera yang memadai. Indra menyarankan, agar hasilnya laik cetak, setidaknya orang perlu kamera 5 megapiksel. Jenis ponsel iPhone 4S seperti punya Indra punya kamera 8 megapiksel. ”Semakin besar pikselnya, semakin bagus, karena lebih jelas,” ujar dia. Bagi yang tak ingin dicetak, misalnya hanya ingin dibagi di sosial media, tak ada masalah soal besarnya piksel ini.

Para pengguna telepon seluler berkamera biasanya juga suka menjadikan sosial media, seperti Facebook dan Twitter, sebagai ajang pameran foto mereka. Tapi, bagi fotografer jalanan, sosial media adalah ajang ”pembantaian” dan silaturahmi. Ketika fotonya diunggah di sana, sang fotografer harus siap melapangkan dada selebar mungkin, ”Karena dia mungkin akan mendapat kritik keras,” kata Benny. (*)

Tempo, 25 Mei 2014

Foto: Agus Budiawan
Lokasi: Bundaran HI-Kota Tua Jakarta


About this entry