surga di balik jendela

IMAG0124

Kau pernah berkata ingin menghancurkan setiap jendela yang mengurungmu. Kau ingin keluar -bebas- melihat surga di balik jendela. Kau tak suka dengan surga yang mereka ciptkan untukmu -di dalam dunia berjendela.

“Aku ingin keluar, menemukan surgaku, dan dirimu,” katamu.

“Kau harus mati dulu untuk melihat surga,” kataku.

Tapi, kau pun bergeming dan berkata, “Bagiku kini, apa bedanya hidup dan mati?”

Kau pun berkisah tentang surga -negeri di atas awan- dengan langit sebiru samudra dan tanah seputih awan. Sungai-sungai yang mengalir berwarna hijau, dedaunan ungu-merah-pink-oranye, dan angin adalah peri-peri yang mengepakkan sayapnya yang jingga.

“Lalu, bagaimana wujud manusia? wujud kita?” tanyaku.

“Mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan; menjadi samudra, sungai, pohon, bunga, peri, apa pun,” jawabmu yakin.

“Lalu, kau ingin menjadi apa?” tanyaku.

“Aku ingin tetap menjadi diriku yang mencintaimu.”

Dan, kau pun terus berusaha memecahkan setiap kaca jendela yang mengurungmu. “Aku ingin membangun sendiri surgaku,” gumammu.

Jakarta, 03 Agustus 2014


About this entry