Malam Guy Fawkes

Rainy-Day-City-Lights

Cerpen Agus Budiawan

Surabaya, November 2010

Musim gugur tiba dengan begitu cepat. Di luar udara bertiup cukup kencang dan tentu saja dingin menggigil. Orang-orang masih terlihat lalu lalang di jalanan sekitar Hamilton Drive. Tubuh-tubuh yang terbungkus mantel itu, melesat cepat seperti terbawa sapuan angin. Dan aku hanya menghela napas: rasanya malas keluar dari ruang berpenghangat ini.

Pada musim gugur seperti ini, hawa di Guildford bisa turun ke angka -5 derajat sampai -7 derajat Celsius pada akhir Desember dan berlanjut ke awal Januari. Kenangan akan kehangatan tanah air pun sekilas menyita pikiranku. Pada bulan-bulan seperti ini, biasanya tanah Indonesia dilembabkan hujan yang sering turun. Meskipun dari kabar yang aku terima kemudian, musim di bumi garuda menjadi tak menentu.

Matahari yang berselimut awan lingsir ke barat. Cahayanya yang redup membuatku berpikir akan lebih menyenangkan jika  tetap tinggal di penginapan. Untuk sekadar bermalas-malasan sambil menikmati secangkir teh hangat. Ya, andai saja aku tak punya janji dengan Keats sore ini. Lepas tengah hari yang lalu –sebelum aku pulang dari universitas naik bus– ia menawarkan sebuah pertemuan. Ia memintaku datang ke Town Center Guildford. Tanpa berpikir panjang, aku pun mengiyakan.

Aku merapatkan mantel yang kukenakan setelah keluar dari apartemen. Sekitar 15 meter, halte bus berdiri kukuh. Aku harus menunggu sekitar sepuluh menit sebelum bus datang dan membawaku menuju High Street di pusat kota. Dari Hight Street, aku kemudian mengambil jalan memutar, yang akan menuntunku ke sebuah jembatan. Di bawahnya, mengalir sungai jernih yang entah di mana bermuara.

Dari kejauhan aku melihat Keats duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang daun-daunnya sebagian gugur.

”Maaf, sudah membuatmu menunggu.”

”Oh, tidak apa-apa, duduklah.”

”Di luar bergitu dingin. Harusnya kamu mengajakku ke kafé.” Aku lihat Keats seperti merasa bersalah.  Tapi, sebelum dia angkat bicara, aku buru-buru berkata, ”Kamu tampak serius sekali. Aku cuma bercanda.” Meskipun perasaan bersalahnya tidak sepenuhnya hilang, aku lihat dia sudah mulai merasa sedikit lega.

”Aku dengar kamu sempat bertemu Abbie?”

”Iya. Dia gadis yang merana. Waktu itu tanpa sengaja aku melihatnya duduk sendiri di bangku Taman Guildford Castle. Dia tak senang jika aku mengganggunya. Sepertinya dia sedang ingin sendiri.”

”Lalu?”

”Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku biarkan dia sendiri.”

Keats terlihat sedih mendengarnya. Matanya yang hitam cokelatan menatap sungai. Dia seperti ingin menerawang kedalamannya. Dia lalu membungkukkan badannya yang tinggi. Tangannya menopang dagu. ”Dua minggu yang lalu ayahnya meninggal. Dia begitu terpukul kurasa,” gumam Keats.

Perihal kematian ayah Abbie, aku sudah mengetahuinya. Tapi, aku membiarkan dia melanjutkan kata-kata berikutnya. Karena aku yakin untuk itulah dia mengajakku bertemu sore ini. Tapi, aku rasa bukan perkara kematian itu yang membuat Abbie akhir-akhir ini terlihat lebih senang menyendiri. Aku tahu, Abbie sudah bisa menerima kepergian ayahnya.

Selanjutnya apa yang aku sampaikan ini adalah seperti apa yang Keats ceritakan padaku dulu. Saat kami bertemu untuk pertama kali di universitas.

***

Seperti biasa, setiap Minggu pagi aku selalu menyempatkan diri untuk bersembahyang di gereja St. Ivory. Sejak kecil aku selalu diajak ayahku pergi ke gereja itu. Sampai sekarang hal itu sudah menjadi kebiasaan yang masih kujaga dengan baik. Seperti biasa pula, mataku selalu tak kuasa berpaling dari seorang gadis yang betah berlama-lama menekuri altar. Ia berdiri dengan bertumpu pada lutut, sementara kedua tangannya menjalin doa. Ia menekuri inri dan puluhan lilin yang menyala. Meskipun begitu, perlu waktu cukup lama bagiku untuk memberanikan diri berkenalan dengannya.

”Abbie.” Begitu gadis itu memperkenalkan diri setelah terlebih dulu aku memperkenalkan diriku, ”John Keats.”[1]

Abbie gadis pendiam. Aku kira umurnya masih 19 tahun waktu itu. Sejak perkenalan itu, kami sering bertemu. Pertemuan kami memang kebanyakan di gereja. Tapi ketika ada waktu luang, aku pun mengajaknya berjalan-jalan. Guildford Castle adalah tempat favoritnya.

Dari gereja, kami akhirnya jatuh cinta. Bibit-bibit itu tertenam dan bertunas dengan sendirinya. Seperti perkiraanku, ada bibit yang juga bertunas di hatinya. Ia menerima cintaku. Dan kami pun berpacaran. Cinta adalah berterus terang. Maka Abbie mulai bercerita tentang keluarga dan masa kecilnya yang sangat singkat –yang saat itu masih tinggal di London. Sebelum mampu mengingat banyak hal, ia dan keluarganya pindah ke sebuah kota kecil di County Surrey yang damai. Orang sekarang mengenal kota itu sebagai Guildford. Ia tinggal di sana sampai sekarang.

Guildford memang telah menjadi kota yang mampu menarik orang-orang yang ingin mencari kedamaian hidup. Jaraknya tidak terlalu jauh dari London, bisa ditempuh selama empat puluh menit dengan naik kereta Soutwestrain dari Stasiun Waterloo. Sebagaimana Abbie dan keluarganya, aku dan keluarga adalah warga pendatang dari kota lain di selatan London, Reading.

Hal yang paling ia ingat –dan sekiranya itulah yang hanya bisa diingat Abbie kecil waktu itu– adalah Malam Guy Fawkes[2]. Saat itu perayaan diadakan di tepi Thames River dan Big Ben. Ia tak pernah sedikit pun melupakannya. Setiap bulan November, ribuan orang memadati lokasi-lokasi yang mengadakan perayaan Malam Guy Fawkes. Tak terkecuali Abbie.

Kilau kembang api berwarna-warni di tengah malam yang dingin memang menjadi hiburan kanak-kanak yang tak mungkin bisa dilupakan Abbie. Bukan hanya itu. Ibu Abbie juga meninggal pada malam itu. Ibunya ditabrak oleh seorang pengendara mabuk. Setelah kejadian itu, ayahnya mengajak Abbie meninggalkan London. Ayahnya ingin menjauhkan kenangan buruk itu dari Abbie.

Kenangan Abbie kecil membuat aku simpati. Sejak saat itu aku merasa harus melindunginya. Benar-benar melindunginya. Aku merasa mendapat tambahan semangat dan selalu tak sabar menunggu Minggu pagi selanjutnya. Atau menunggu waktu luang untuk menghabiskan sore di Guidford Castle Park. Atau bisa juga di pinggir sungai di sepanjang Town Center. Jika sedang ingin suasana yang lain, kami biasa berlama-lama di kafe di sepanjang Castle Street.

”Apa kamu ingin berlibur di musim panas nanti?”

Aku bertanya kepada Abbie yang sedang menikmati teh di hadapanku –yang hanya dipisahkan meja kecil dengan sebatang lilin. Batangan kecil itu ditancapkan di tengah buket kecil dengan bunga warna-warni.

”Aku selalu menantikan musim panas, lalu pergi ke Swan Valley. Jauh di dataran Australia sana.”

”Australia?”

”Ya. Ayah dulu melamar ibu di tempat itu, di tengah-tengah perkebunan anggur.” Abbie tersenyum saat mengenang romansa percintaan ayah dan ibunya.

”Tapi…”

”Tidak, Keats. Aku tak hendak memintamu melamarku di sana. Atau mengajakmu minum anggur. Kalau untuk itu, aku bisa memintamu di sini,” kata Abbie sambil memegang tanganku yang terkapar di atas meja.

”Aku hanya ingin menyaksikan sendiri tempat itu. Aku ingin menyaksikan kembali ayah dan ibu bersepeda. Menghirup kenangan yang mungkin masih berserakan terbawa angin di sana. Atau menghabiskan hari dengan berlayar di Sungai Swan.”

”Abbie…”

”Tidak, Keats. Aku tidak menuntutmu membawaku ke sana. Aku hanya ingin. Dan keinginan tidak selamanya harus ditunaikan. Kadang keinginan itu akan abadi menjadi keinginan. Dan aku tak akan menyesal.”

Aku pun bangkit dari tempat duduk. Aku kemudian mendekat pada Abbie. Lalu kucium keningnya yang tamaram oleh cahaya lilin yang berpendar. Abbie begitu bahagia kala itu.  Aku pun mengajaknya kembali ke masa lalu, masa perkenalan di gereja St. Ivory.

”Apa hanya aku yang berani mengganggumu dalam persembahyangan Minggu pagi itu?”

”Ya. Awalnya perkenalan itu sangat menggangguku.” Abbie tersenyum.

”Lalu?”

”Lalu? Kau dengan penuh percaya diri berlagak seperti sastrawan terkenal memperkenalkan dirimu.”

”Hahaha…”

Aku dan Abbie sama-sama tertawa.

”Orang yang tidak banyak memiliki teman sepertiku memang akan sedikit sulit menerima kehadiran orang baru. Tapi kau berbeda,” lanjut Abbie.

”Hm. Rasanya kau perlu mengenal satu orang lagi. Dia sangat ramah. Aku yakin kau akan menyukainya.”

”Siapa?”

”Kalau kau berkenan, besok aku ajak kau ke taman University of Surrey. Dia mahasiswi di sana.”

Lalu, aku ceritakan pada Abbie tentang Amanda, mahasiswi S2 asal Indonesia. Aku ceritakan juga bagaimana berat perjuanganmu hingga bisa sampai di tanah kerajaan ini.

***

Begitulah Keats bercerita. Mungkin sekitar dua tahun yang lalu.

”Kamu juga perlu tahu, Amanda, meskipun Abbie terlihat masih kaku, tapi dia mengatakan sendiri kalau dia senang berkenalan denganmu.”

Sampai di situ Keats diam. Malam mulai jatuh di atas Town Center. Kiranya hal itu pula yang menyadarkan Keats untuk mengakhiri pertemuan ini. Tidak lama, lampu-lampu mulai menyala. Sinarnya berpendar dan memantul di permukaan sungai. Kilaunya membuat perasaanku tak terjemahkan. Keats menarik napas dalam kemudian melepaskannya pelan.

Meskipun Keats tak pernah bercerita tentang satu hal, aku sudah bisa mengetahuinya. Abbie cemburu kepadaku. Keats dan aku memang memiliki hubungan yang dekat. Teman-teman sampai mengira kalau kami memiliki hubungan spesial. Bahkan, ada berita yang berkembang bahwa Abbie menghindar bukan karena kematian ayahnya. Tapi dia tidak bisa melihat kebersamaan kami. Meskipun aku telah menjelaskan bahwa aku dan Keats tidak memiliki hubungan melebihi pertemanan.

”Maafkan aku Keats.”

”Maaf untuk apa?”

”Karena aku, kau dan Abbie menjadi seperti ini.”

”Bukan salahmu, Amanda. Abbie terlalu perasa dan keras kepala.”

Aku diam, hanya sedikit mengangguk. Keats pun demikian.

Setelah itu kami sepakat mengakhiri pertemuan. Aku dan Keats berpisah di taman itu. Aku kemudian mengambil jalan menuju High Street yang sudah mulai ramai. Lampu-lampu di sepanjang jalan pun sudah mulai menyala. Ritel-ritel mewah mulai menunjukkan kemilaunya dari kaca-kaca jendela. Aku terus melangkah menuju halte bus yang akan membawaku kembali pulang ke penginapan.

Di atas bus yang tak begitu ramai, pikiranku mengingat-ingat kembali cerita teman-teman tentang Keats. Bahwa dia telah diputuskan oleh Abbie. Aku tidak tega menanyakan hal itu kepada Keats. Tapi rupanya Keats juga tidak berkenan mengatakannya kepadaku. Jadi aku hanya diam. Ah, pantas saja mereka berdua terlihat begitu menyedihkan. Dan aku harap ini bukan sepenuhnya kesalahanku.

Sejak kematian ayahnya, Abbie menjadi penyendiri, seperti yang aku lihat di Taman Guildford Castle tempo hari. Tapi aku rasa, aku turut berperan atas perubahan perilaku Abbie. Kata Keats, sebelum Natal, Abbie akan berangkat ke Australia. Dia ingin tinggal di sana bersama neneknya. Yang aku tahu dari Keats, Abbie memutuskan untuk pindah karena tak memiliki siapa-siapa lagi setelah kematian ayahnya. Abbie pun tak kuasa menolak permintaan neneknya untuk tinggal di Australia.

Seperti keinginannya, Abbie sebentar lagi bisa bersepeda atau sekadar jalan-jalan di tengah perkebunan anggur. Bertemu dengan kenangan ayah dan ibunya. Abbie juga bisa segera berlayar dengan kapal pesiar menyusuri Sungai Swan Valley. Abbie telah memiliki banyak rencana dalam hidupnya. Tapi bagaimana dengan Keats?

Ingatanku pun kembali tersita untuk membayangkan ruang berpenghangat. Atau secangkir teh yang terkantuk di atas meja. Aku ingin segera sampai. Mungkin aku tak akan datang pada perayaan terakhir Malam Guy Fawkes esok malam. Sebab, paginya aku sudah harus meninggalkan Inggris. (*)

————————————–

[1] John Keats adalah nama tokoh yang diperankan oleh Ben Whishaw dalam film drama percintaan yang berlatar London pada tahun 1818, Bright Star, yang naskahnya ditulis oleh Jane Campion.

[2] Setiap bulan November di Britania Raya dilangsungkan perayaan api unggun dan kembang api yang disebut Malam Guy Fawkes.


About this entry