Fragmen 15: Si Mata Mungil dan Lampion

lampion buah tangan rahmiyati jahja

Si mata mungil terus menyusuri keramaian di sebuah jalan di Chinatown. Tangan kirinya erat memegang tangan kanan si lelaki. Pandangannya terus tertuju ke atas; pada sekumpulan lampion –merah, kuning, jingga. Ia seperti melihat malam bertabur bulan. Matanya membeliak, bibirnya menyungging senyum.

Si mata mungil telah jatuh cinta pada bulan sejak kanak. Saat teman sebaya memelihara ikan maskoki atau kura-kura mini, ia ingin menjaring rembulan dan menaruhnya di dalam akuarium di sudut rumah. Bisa ditebak, ia tak pernah berhasil. Sebagai gantinya, ia menangkap kunang-kunang yang kebetulan lelah terbang. Ia anggap itu rembulan yang jatuh diterpa angin malam.

Beranjak dewasa, si mata mungil jatuh cinta lagi untuk kesekian kali; pada bulan –merah, kuning, jingga– yang menggantung di atas setiap langkahnya. Ia tersenyum, ada binar seperti rembulan di matanya. Ia terus berjalan, dan pegangan tangannya semakin erat. (*)

Jakarta, 07 November 2014

(Foto: pkk-kabgorontalo)


About this entry