Resonansi Hujan II

image

Jakarta yang basah. Lampu-lampu jalan berpendar keluh. Angin sesekali berlenggak-lenggok centil; mengajak dedaunan menari. Padahal, malam sudah jauh turun, meringkuk di pelukan detak waktu yang pergi.

Angin dini hari terasa melankoli memang. Harus kuterjemahkan seperti apa gerimis kali ini? Lalu, kelebat tanya; gerimis kali ini, hanya rintik dengan resonansi yang tak terartikan…

***

ADARA terlihat melamun. Ia bersandar pada punggung kursi. Ia baringkan kedua telapak tangannya di atas meja. Di antara dua tangannya yang seperti lunglai tak bertenaga, secangkir kopi iseng sendiri. Coffee latte yang permukaannya bergambar kembang hati masih utuh bentuknya. Ia perlu memalingkan wajahnya ke kanan untuk melihat dunia di balik jendela. Sedang di luar hujan masih saja turun.

Adara tak pernah ingat sejak kapan ia menyukai kopi. Tetapi, mencintai hujan? Ia bisa mengingatnya dengan mudah. Ia jatuh cinta pada rintik sejak diceritai oleh mamanya tentang hujan dan peri-peri yang menjinjit keranjang. Konon, keranjang-keranjang itu dirajut dari pelangi. Mamanya bilang, peri memakai keranjang indah itu untuk membawa air dari bumi; air mata.

”Air mata?” tanya Adara kecil. Raut wajah polosnya tampak kebingungan.

”Iya, peri-peri itu akan memetik air mata orang-orang yang berbahagia,” jawab mamanya.

”Lalu, Ma?”

”Setelah itu, hujan akan turun. Peri ingin membagi kebahagiaan kepada semua orang,” kata mamanya sambil membelai rambut Adara.

”Ceritai aku tentang pelangi, Ma?”

”Jika Adara melihat pelangi, itu tandanya peri-peri sedang menari dengan mengayun-ayunkan keranjangnya.”

”Lalu, Ma?” tanya Adara penasaran. Mata mungilnya pun terpaku pada bibir, mata, dan wajah mamanya yang begitu ekspresif ketika bercerita.

”Hujan adalah tanda cinta dari peri-peri, tanda kebahagiaan…”

”Lalu, apa lagi, Ma?”

Mamanya pun terus bercerita sampai Adara terlelap.

Adara tak pernah puas dengan satu cerita. Bisa dibilang, ia tidak bisa tidur sebelum diceritai mamanya. Kadang keinginan Adara membuat mamanya harus berpikir keras. Karena ia tidak mau cerita selain tentang hujan. Dan Adara tahu mana cerita yang sudah diceritakan dan mana yang belum. Ia tak mau lagi diceritai tentang peri-peri yang membawa keranjang pelangi.

”Di negeri di atas awan sana,” mamanya mulai bercerita di malam yang lain. Adara pun menajamkan pendengarannya, memperjelas pandangannya.

”Ada dewi bernama Aldora. Dewi Aldora mimiliki sayap kelabu yang mampu mendekap bumi,” mamanya melanjutkan cerita.

Sayapnya terbentang antara timur-barat dan utara-selatan. Bulu-bulunya adalah jalinan mata air-air mata bagaikan kristal. Adara semringah saat mamanya merentangkan tangan seperti burung yang terbang. ”Jika Dewi Aldora berbahagia, dia akan mengepakkan sayapnya.”

”Lalu, Ma?”

”Hujan pun turun…” kata mamanya sambil memperagakan air yang turun dari langit dengan kedua tangannya.

Begitulah Adara kemudian jatuh cinta pada hujan. Bahkan, sampai ia dewasa dan tahu bahwa cerita-cerita mamanya hanyalah dongeng. Tak ada peri yang menyulam keranjang dari warna-warni pelangi. Tak ada peri yang memetik air mata. Tak ada juga Dewi Adlora dengan sayap-sayap air kristal. Tetapi, ia tetap mencintai hujan.

”Kamu melamun, Ra?”

Suara lelaki membuyarkan lamunan Adara. Arthan, nama lelaki itu, duduk di hadapannya yang hanya dipisahkan meja cokelat kecil. Adara tersenyum setelah menyadari dari tadi tak mengacuhkan teman lelakinya itu. Untuk saat ini hujan di luaran sana ternyata lebih menarik perhatiannya.

Lelaki di hadapannya membalas dengan memperlihatkan senyum yang sama saat mereka pertama kali bertemu, beberapa bulan yang lalu. Seperti itulah awalnya mereka bertemu; saling bersapa senyum, di antara garis-garis hujan di sebuah halte di sudut kota. Sejak perkenalan itu, Adara tak pernah menggerutu pada jam keberangkatan bus yang selalu terlambat.

”Hujan deras begini bus belum juga datang,” seorang lelaki menawarkan sebuah percakapan basa-basi. Adara kemudian tahu lelaki itu bernama Arthan dari perkenalan basa-basi pula.

”Memang sudah biasa begini, bulan Desember…” sahut Adara sambil menatap jauh menerobos hujan.

”Mau ke mana, Mbak?”

Percakapan basa-basi itu pun terus berlanjut. Kadang suara mereka terdengar jelas, tapi sering terdengar samar, kalah oleh suara hujan yang jatuh di atap halte. Entah berapa lama mereka berbincang. Yang jelas, mereka sudah merasa cukup dengan saling menyebutkan nama, meski setelah beranjak tak ada keinginan untuk mengingatnya sekalipun. Hanya sebuah nama.

Obrolan mereka berhenti saat bus yang ditunggu Adara datang. Sementara Arthan harus berpindah halte untuk mendapatkan busnya. Dia hanya lelaki yang singgah untuk berteduh dari hujan yang menderas. Dia tak merisaukan kepergian perempuan itu. Adara juga tak berat meninggalkan lelaki yang masih berdiri di halte; menakar sebaris hujan. Mereka seperti ingin meyakinkan diri; percakapan di sebuah halte hanyalah ritual pengusir kebosanan dalam penantian.

”Kopinya jangan dicuekin, keburu dingin,” kata Arthan, lalu tersenyum.

Adara juga tersenyum. Ia sedikit membenarkan posisi duduknya, lalu meraih cangkir yang masih hangat. Ia tiup kembang hati yang kemudian menjadi sedikit bergelombang, lalu diminumnya perlahan. Adara merasa sedikit hangat. Ruangan kafe yang berpendingan udara memang terasa lebih dingin dengan hujan yang turun. Musik terus mengalun.

Pada hari yang lain lagi mereka kembali bertemu di halte yang sama. Arthan tentu sengaja singgah. Obrolan kembali menjadi kesibukan mereka sambil menunggu bus. Pada hari-hari berikutnya mereka kembali saling bertemu. Dan sampailah mereka bersama di kafe itu.

”Waktu aku kecil,” kata Adara memecah keheningan.

Arthan mulai menatap Adara dengan diam, menunggu perempuan di hadapannya melanjutkan cerita.

Adara pun mengulang cerita yang pernah diceritakan mamanya. Tentang peri-peri yang membawa keranjang pelangi, peri-peri pemetik air mata, dan tentang Dewi Aldora yang bersayap hujan. Ia agak ragu menceritakan hal konyol itu kepada lelaki yang duduk di hadapannya. Tetapi, ia tidak ingin malam berjalan dengan kesunyian. Maka, ia ceritakan apa saja yang terlintas di pikirannya saat itu. Namun, Adara kemudian tersenyum senang ketika Arthan ternyata menyimak ceritanya dengan wajah serius.

”Hanya dongeng sebelum tidur di masa kecil,” kata Adara menutup ceritanya.

Arthan kembali tersenyum, meraih cangkir kopinya, meminum, lalu mencecapnya untuk menemukan rasa yang tersembunyi dalam seduhan kopi.

”Kamu nggak punya dongengan masa kecil?” tanya Adara.

Lelaki yang tadinya masih menunduk itu pun mendongak, melihat kedua mata Adara yang berbinar. Namun, ia tak sanggup menatapnya lama-lama. Ia kembali menunduk pada cangkirnya, meletakkannya di atas meja, lalu mulai bercerita.

”Mamaku tak pandai bercerita seperti mamamu,” Arthan mulai bicara. ”Tapi, waktu kecil aku suka mengejar matahari di pagi hari.”

Adara mempertajam pendengarannya, menjernihkan pandangannya. Ia seperti Adara kecil yang sedang mendengarkan dongengan mamanya. Apalagi hujan di luar memang membuat suara lelaki di hadapannya sedikit terdengar lirih. Jadi ia harus benar-benar mempertajam pendengarannya dan menjernihkan pandangan untuk membaca gerak bibirnya.

”Pernah berhasil?” Adara merasa pertanyaannya tidak penting.

”Tidak pernah, yang ada aku sering terjatuh, lutut berdarah-darah.”

”Hmm…”

”Aku hanya bilang mengejar layang-layang.”

”Apa?”

”Jika mama bertanya, aku hanya bilang mengejar layang-layang.”

”Tentang luka itu?”

”Yap…” kata Arthan, lalu meminum kopinya lagi. ”Kalau nggak begitu mama akan tertawa,” lanjutnya.

”Apa?”

”Kalau aku bilang mengejar matahari, orang akan menganggap aku gila sejak lahir.”

Adara dan Arthan saling bertatapan sejenak, lalu sama-sama tertawa.

”Bukannya semakin dekat, dia malah semakin tinggi,” Arthan merasa malu melanjutkan cerita yang tak penting itu. Tapi, toh dia tetap melanjutkannya setelah melihat wajah perempuan di hadapannya yang sendu. ”Sejak itu aku hanya memandanginya.”

Setelah itu senyap.

Lagu yang berasal dari sound entah di sudut yang mana mengalun pelan:

love like rain
can nourish from above
drenching couples with a soaking joy
but sometimes under the angry heat of life
love dries on the surface
and must nourish from below
tending to its roots keeping itself alive[1]

Satu per satu pengunjung kafe mulai meninggalkan kursinya. Lampu kuning keemasan yang menggantung di atas meja-meja masih berpendar. Hujan di luar mulai melukis sketsa embun di kaca jendela. Wajah-wajah gelisah terlihat di antara orang-orang yang menunggu hujan di luar sana. Satu-dua orang mengembangkan payung, menerobos tirai hujan, lalu hilang dari pandangan Adara.

Arthan mencecap kembali kopinya sambil sesekali mencuri pandang ke arah perempuan di depannya. Sementara Adara menekuri hujan. Kadang diam menjadi sebuah percakapan yang lebih intim.

”Apa kamu menyukai hujan, Ar?” tanya Adara, matanya tetap tertambat pada hujan.

”Aku rasa tak ada yang tak menyukai hujan?”

”Berarti kamu juga suka hujan?”

”Tidak salah.”

”Tapi, kamu juga menyukai matahari pagi?” Adara melirik lelaki itu sejenak, lalu kembali tertambat pada hujan.

”Tidak salah juga.”

”Kamu curang, seharusnya kamu pilih salah satu. Hujan dan matahari tak bisa bersatu…”

”Tapi, setelah hujan matahari bisa mencipta pelangi…”

Adara tersenyum. Tapi, pandangannya masih tidak rela berpindah dari hujan.

Lagu lain mengalun…

I’m singing in the rain
just singing in the rain;
what a wonderful feeling
I’m happy again
[2]

Kesunyian kembali menari-nari di ruangan yang semakin sepi. Semua pengunjung kafe satu per satu telah pergi. Kini hanya mereka yang masih setia menekuri detak waktu yang berderap. Tik tok, tik tok, tik tok. Di meja kasir, para pekerja sibuk berbenah. Meja-meja dan kursi-kursi yang berantakan sudah ditata rapi. Tidak lama lagi kafe tutup, sementara hujan masih saja turun.

Adara mengingat cerita mamanya, ”Peri-peri itu akan memetik air mata orang-orang yang berbahagia, lalu hujan pun turun. Peri ingin membagi kebahagiaan kepada semua orang.” Ia pun seperti ingin melesat ke luar, manari di bawah hujan, mereguk kebahagiaan. Namun, dia bukan lagi Adara kecil yang bisa bebas bermain hujan.

Ia melirik Arthan yang kini ikut memandangi hujan. Lelaki di depannya itu tak menyadarinya. Dia seperti sedang ingin membaca partitur yang ditulis butiran-butiran hujan.

Suara rintik di luar menggantikan obrolan mereka. Lagu-lagu yang mengalun berganti-ganti diselaraskan suara rintik menjadi sebuah orkestra mini yang menciptakan resonansi dengan sebuah tanda tanya. Mereka kemudian bangkit dari kursi, berjalan beriringan di antara meja, lalu membuka pintu. Dingin dan aroma hujan pun menyambut mereka.

Setelah pertemuan itu, mereka telah merancanakan sebuah pertemuan lainnya, di sebaris hujan.

Lagu di dalam kafe pun terus mengalun…

selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
di balik awan hitam
semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
menanti…
seperti pelangi setia menunggu hujan reda

aku selalu suka sehabis hujan
di bulan Desember
di bulan Desember

sampai nanti
ketika hujan tak lagi meneteskan duka
meretas luka
sampai hujan memulihkan luka[3]

 Jakarta, 17 November 2014

(Foto: Leonid Afremov)

————————————–

[1] Paulo Coelho, River Piedra I Sat Down and Wept

[2] Quotes by Arthur Freed

[3] Efek Rumah Kaca, Desember.


About this entry