Hanya Secarik Surat Pendek (1)

smh-1-1995-jakarta-night-life

Untuk Engkau yang Entah

Jakarta malam ini, masih seperti malam-malam yang lalu. Tak ada hal menarik yang bisa kukabarkan padamu tentang Jakarta. Ia hanya kota tua yang selalu bersolek untuk menyembunyikan tubuhnya yang rapuh. Gedung-gedung tinggi yang jelita dengan warna-warni lampunya yang centil, adalah kamuflase sempurna. Sementara tubuhnya rapuh, digerus waktu dan debur ombak di pesisir. Punggungnya mulai retak memanggul beban yang tak terukur.

Tentu, kau di sana -yang juga entah di mana- setiap hari melihat Jakarta dari layar kaca televisi. Di sana akan kau lihat cerita-cerita politis, sadistis, atau bahkan ironis. Kau bisa lihat itu pada berita-berita kriminal, atau beragam talk show. Mungkin kau juga bisa melihat Jakarta yang yang romantis menjurus melankolis dari sinetron-sinetron cengeng lain. Kau pun bisa saksikan kehidupan miskin rakyat pinggiran kota dalam reality show. Atau, bisa juga kau lihat kehidupan glamor orang-orang perlente dalam gosip infotainment. Kau bisa lihat wajah-wajah Jakarta hanya dari layar kaca.

Di sini kau bisa berjalan-jalan -siang atau malam- untuk melihat manusia-manusia modern yang dilahirkan dan dirawat kota ini. Kau akan melihat wajah-wajah tak terduga. “Apa fenomena aneh yang kita temukan di kota besar, semua yang perlu kita lakukan adalah berjalan-jalan sekitar dengan mata terbuka. Kawanan hidup dengan monster yang tidak bersalah,” kata penyair Prancis Charles Baudelaire.

Cukup lihat, dan begitulah wajah Jakarta. Jadi, untuk saat ini aku tak perlu kabarkan apa-apa dari sini. Kau cukup tahu, saya sehat selalu. Nanti disambung lagi…

Jakarta, 22 Desember 2014

(Ilustrasi: Lukisan “Jakarta Night Life” karya Heprasyana)


About this entry