Hanya Secarik Surat Pendek (2)

requiem_for_a_dream_by_dariakuznetsova-d5vd2j3

Untuk Engkau yang Entah

Sudah seminggu lebih mulutku pahit. Tak sekali pun mencecap manis-pahitnya kopi. Saya juga tidak bisa bersantai sambil membakar rokok seperti biasanya. Tidak tahulah, batuk jahanam ini sudah seminggu lebih masih betah bersarang di tenggorokanku. Rasanya ingin kusayat batang leherku, dan menemukan makhluk apa yang bersarang di dalamnya. Tapi, rupanya aku masih terlalu penakut untuk melakukannya. Jadi, saya hanya bisa mendamprat batuk sialan ini.

Kau bisa saja menganggap batuk semacam virus biasa yang tak perlu dihiraukan. Tapi, perlu kau tahu, virus itu begitu menyebalkan. Bahkan, persoalan remeh seperti batuk ini membuat gusar pikiran George Herbert. Mungkin kau tak kenal siapa George Herbert. Dia adalah penyair ternama Inggris kelahiran Wales 3 April 1593 dan berangkat pada tanggal 1 Maret 1633. Kalimatnya singkat saja. ”Love and a cough cannot be hid.”

Bagi  Herbert sekalipun, cinta ‘love’ dan batuk ‘cough’ seakan menjadi dua kata penting. Atau kalau boleh berangan-angan, mungkin dia menulisnya karena sedang jatuh cinta sekaligus jengkel dengan batuk yang mengganggunya (atau juga sedang jengkel dengan kekasihnya?). Bedanya, dia menuliskannya dalam satu kalimat simpel, sedangkan aku menuliskan surat pendek ini.

Baiklah, cukup kabar saya di kota ini baik-baik saja, hanya memang sedikit batuk. Sebagai penutup, saya kutipkan sepenggal puisi Herbert:

sweet day, so cool, so calm, so bright
the bridal of the earth and sky
the dew shall weep thy fall tonight; for thou must die

Jakarta, 22 Desember 2014

(Ilustrasi: “Requiem for a Dream” karya DariaKuznetsova) 


About this entry