Saya Pesimistis pada Film Romeo dan Rinjani

IMAG0680

Setelah film 5cm, pada 23 April mendatang akan dirilis film serupa dengan titel Romeo + Rinjani. Bagi pencinta alam atau pendaki gunung, film 5cm yang memilih setting Gunung Semeru memicu banyak polemik. Ada pro-kontra yang mengekor di belakang film garapan Rizal Mantovani dan dirilis pada 12 Desember 2012 tersebut.

Kaum pro menilai 5cm bagus untuk mengajak generasi muda mengenal alam Indonesia daripada sibuk ngemal atau terlibat dalam pergaulan bebas. Sebaliknya, kubu kontra menganggap film itu sama sekali tidak mendidik dan mengabaikan hal-hal yang menjadi pedoman dalam pendakian. Misalnya, persiapan kurang matang, menjadikan puncak gunung sebagai tujuan utama dengan mengabaikan keselamatan, dan tidak ada pesan kebersihan serta pelestarian gunung.

edelweiss ranu kumbolo, 01 agustus 2013

(Edelweiss di tepi Danau Ranu Kumbolo, Gunung Semeru)

Yang terakhir ini bahkan disebut sebagai pemicu kotornya Semeru sejak film 5cm dirilis. Tidak bisa dimungkiri, tingkat kunjungan memang membeludak setelah film tersebut beredar, tetapi tidak dibarengi dengan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga habitat bunga edelweiss. Sebentar lagi, film yang hampir serupa dirilis. Tidak tanggung-tanggung, Romeo + Rinjani mengambil setting di salah satu primadona pendaki Indonesia dan mancanegara, Gunung Rinjani!

Keindahan Gunung Rinjani bisa dibilang lengkap. Jika kita mendaki lewat jalur Sembalun, padang savana hijau yang luas terhampar akan memanjakan mata. Bila melewati jalur Senaru, kita akan dirindangi pepohonan dan vegetasi lainnya.

rinjani 8-12 juni 2013 (3)

(Pemandangan amazing di jalur Sembalun, Gunung Rinjani)

Sebelum ke puncak singgasana Dewi Anjani, kita bisa menikmati Danau Segara Anak yang airnya kadang berwarna biru dan tidak jarang berwarna hijau. Hal itu dipengaruhi kandungan belerang yang memang tinggi. Meski begitu, ikan di danau itu bisa berkembang biak sehingga pendaki yang juga hobi memancing akan merasa menemukan surga.

Jika badan lelah setelah naik dan turun puncak, kita bisa menghangatkan tubuh di pemandian air panas alami di dekat Danau Segara Anak. Lengkaplah keindahan Gunung Rinjani. Saya sendiri mengunjungi Gunung Rinjani antara tangga 08 Juni 2013–14 Juni 2013.

Film 5cm vs Romeo + Rinjani

IMAG0680

Saya melihat ada beberapa persamaan di antara dua film ini. Pertama, dipilihnya gunung sebagai setting film. Saya dengan sadar mengatakan bahwa 5cm ingin mendompleng keistimewaan Gunung Semeru untuk menarik penonton. Terlepas dari film ini adaptasi novel dengan judul dan setting yang sama. Hal itu juga yang ingin dilakukan film Romeo + Rinjani dengan menyasar puncak yang bisa dibilang lebih prestise, Gunung Rinjani.

rinjani 8-12 juni 2013 (6)

(Pos II jalur Sembalun, Gunung Rinjani)

Mengeksplorasi keindahan alam Indonesia dalam film memang tidak salah. Yang salah adalah jika tidak ada pesan untuk menjaga dan melestarikannya. Untuk yang satu ini, berdasar pengalaman 5cm, sutradara Romeo + Rinjani tentu akan –dan seharusnya– memperhatikan aspek itu. Jadi, saya berharap, selain menonjolkan kisah percintaan, Romeo + Rinjani bisa menyelipkan pesan-pesan pelestarian.

Kedua, tokoh tambun sebagai objek penderita. Meskipun belum dirilis, berdasar artikel yang saya baca, film Romeo + Rinjani menghadirkan tokoh tambun yang diperankan Fico Fachriza (Stand Up Comedy). Saya kok berasumsi sosok Fico di sini akan mirip dengan tokoh Ian yang diperankan Igor Saykoji. Sosok kelebihan berat badan, sebagaimana lazimnya di kehidupan masyarakat, akan menjadi objek penderita sekaligus untuk menerima segala motivasi dalam pendakian. Motivasi dalam pendakian memang penting, tetapi semoga tidak terlalu lebay.

Ketiga, kredibilitas sang sutradara yang tidak ”kredibel” dalam film petualangan. Sebelum menyutradarai 5cm, Rizal Mantovani mengarahkan beberapa film yang tidak masuk dalam film bermutu. Antara lain, Taring (2010), Cewek Gokil (2011), Jenglot Pantai Selatan (2011), Pupus (2011). Tetapi, film Jelangkung (2001) adalah pengecualian. Dalam film itu, Rizal bisa dibilang cukup sukses.

(Pemandian air panas Gunung Rinjani. Banyak bule berendem Bro)

Di sisi lain, film Romeo + Rinjani diarahkan Fajar Bustomi, sutradara yang bahkan tidak ada di Wikipedia sehingga menyulitkan saya untuk menemukan rekam jejaknya. Hanya, saya tahu sebelumnya dia pernah menggarap film Remember When dan Kukejar Cinta ke Negeri Cina. Namun, menurut saya, film terbaru ini menjadi peluang bagi Fajar untuk serius menggarap film dengan backgroun kemegahan Gunung Rinjani. Meskipun saya pesimistis Romeo + Rinjani bisa menjadi film pendakian berkualitas, harapan untuk itu tetap ada.

Keempat, rumah produksi. Soraya Intercine Films sebagai dapur yang melahirkan 5cm bisa dibilang sudah memiliki nama dalam perfilman Indonesia. Beberapa film lumayan sukses di pasar. Sebut saja Eiffel I’m In Love dan yang paling fenomenal adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

(Danau Segara Anak dan Gunung Barujari dari Pos Plawangan Senaru)

Bandingkan dengan Starvision Plus yang menjadi bengkel pembuatan Romeo + Rinjani. Untuk selengkapnya lihat saja di Wikipedia dan sinetron-sinetron di televisi swasta kita. Dengan kredibilitas seperti itu, saya pesimistis film terbaru ini akan memenuhi ekspektasi penikmat dan pencinta pendakian.

Kelima, dompleng-mendompleng. Jika 5cm hanya mendompleng Mahameru, film Romeo + Rinjani ”menunggangi” dua kebesaran sekaligus. Yaitu, Gunung Rinjani dan popularitas Romeo dan Juliet dalam film Romeo and Juliet. Jelas ini strategi bak mata pisau. Di satu sisi, orang-orang di balik film ini tentu ingin menarik penonton dengan membawa bendera ala Romeo dan Juliet. Di sisi lain, akan banyak yang mencibir sebagai film numpang terkenal dengan judul tersebut.

 

Akhirnya, bagaimanapun bentuk, rupa, dan alurnya, semoga kehadiran Romeo dan Rinjani tidak merusak keindahan Gunung Rinjani sebagai gunung eksotik di tanah air kita tercinta. Salam lestari (*)

 

Maret 2015


About this entry