Ketika Bunga Edelweis Dijual di Mal

IMG_20150315_215212

Beberapa hari yang lalu, saya asyik jalan-jalan ke mal bersama bokin (baca: kekasih dalam bahasa slank Jakarta). Setelah nonton bioskop, kami ingin mencari sesuatu sebagai hadiah ulang tahun seorang teman. Kami pun memasuki satu kios aksesori. Di sana, benda-benda cantik seperti boneka, miniatur tokoh kartun, gelang, kalung, bonek kucing China, hingga satu benda yang begitu menarik perhatian saya dijual.

Di sebuah rak kaca yang dekat dengan pintu masuk, saya melihat bunga kering berwarna cokelat muda yang ditaruh dalam sebuah gelas kecil. Batang bunga-bunga itu diikat menggunakan pita warna-warni. Untuk menambah kesan cantik, beberapa mililiter pasir putih dimasukkan ke dalam gelas. Gelas itu pun dilukis dengan tulisan-tulisan romantis. Tidak sampai di situ. Gelas kecil dan bunga itu dibungkus dengan plastik bening, lalu diletakkan di tempat yang mudah dilihat orang.

edelweiss ranu kumbolo, 01 agustus 2013

(Foto pribadi: Gunung Semeru, Jawa Timur, Tanggal 01 Agustus 2013)

Saya sedikit kaget, kini bunga edelweiss dijual di mal! Bunga yang memiliki nama latin anaphalis javanica atau javanese edelweiss itu memang menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan pendaki di grup-grup pencinta alam di media sosial. Apalagi kalau bukan tentang kelestarian bunga abadi itu yang kian terancam.

Penyebabnya, tidak sedikit pendaki gunung tak bertanggung jawab yang dengan entengnya memetik bunga edelweiss sebagai oleh-oleh. Sebenarnya ini bukan hanya perkara pendaki profesional atau bukan. Tetapi, dalam peraturan pendakian ditegaskan bahwa memetik bunga edelweiss atau menebang ekosistem vegetasi apa pun dilarang.

Pada 2012, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memperkirakan edelweiss akan punah dalam tempo lima hingga sepuluh tahun mendatang. Namun, saat ini ada berita yang mengklaim bahwa edelweiss di Bromo dinyatakan punah.

Menyandarkan hidup pada bunga abadi, 1 januari 2009

(Foto pribadi: Gunung Bromo, Jawa Timur, Tanggal 01 Januari 2009)

Edelweiss sebagai primadona pegunungan memang menjadi ”penggoda” nomor wahid bagi pendaki yang tak kuat iman untuk memetiknya. Alternatif lain, mereka yang malas mendaki ke ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) –di mana bunga edelweiss banyak tumbuh– hanya akan membeli di toko online. Miris memang, belakangan bunga langka tersebut diperjual-belikan di toko-toko online. Sebut saja http://www.bukalapak.com dan http://www.pricearea.com. Di http://www.bukalapak.com bermacam-macam karangan bunga edelweiss dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp 50 ribu–Rp 85 ribu.

IMG_5542

Semakin menggiurkannya bunga abadi ini, semakin banyak juga pihak yang memanfaatkannya. Selain sebagai oleh-oleh yang “membanggakan” setelah melakukan pendakian, edelweiss memang memiliki nilai ekonomis yang cukup menggiurkan. Lalu, apakah ini akan terus berlanjut? Jika iya, mungkin beberapa tahun ke depan pendaki hanya akan melihat puncak yang tandus tanpa senyum si cantik edelweiss.

Tempat Paling Indah untuk Memuja Edelweiss

Sebagai primadona di ketinggian, keberadaan edelweiss tentu menjadi objek yang paling diburu. Ada beberapa tempat di mana pendaki bisa menikmati senyum si cantik edelweiss. Antara lain, di Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani).

(Alun-Alun Mandalawangi di Gunung Pangrango. Foto: agua-hotel.com)

(Alun-Alun Surya Kencana di Gunung Gede. Foto: alidesta.wordpress.com)

(Tegal Alun di Gunung Papandayan. Foto: http://www.wiranurmansyah.com)

(Plawangan Sembalun di Gunung Rinjani. Foto: travel.detik.com)

 


About this entry