Mimpi dalam Mimpi

2805834C00000578-3061005-The_images_were_taken_on_the_beach_at_Lulworth_Cove_Dorset-a-2_1430327529296

Kadang, di setiap pagi, aku berharap berangkat tidur dan bangun sudah berada di tempat berbeda. Namun, aku tetap saja terbangun di atas kasur bau apak, di dalam kamar yang pengap, dan barang-barang tak penting yang berserakan. Sementara di luar, matahari sudah pecah di atas langit Jakarta.

Terkadang, mimpi memang mengabulkan inginku. Ia membangunkanku di suatu tempat asing, membawaku melakukan perjalanan tanpa arah, dan mempertemukanku dengan orang-orang baru yang tak terkira. Wajah-wajah yang kadang kukenal, tapi bisa sekejap berubah menjadi wajah yang begitu asing.

Di situ, kadang aku menyadari telah terjebak dalam mimpi: mimpi yang sama, yang berulang. Tetapi, aku akan tetap dipaksa hidup di dalamnya sebelum kokok ayam atau barang tertentu jatuh ke lantai. Kegaduhan akan membangunkanku dan menyadarkanku bahwa tubuhku masih di sini, di tempat yang sama.

Saat terbangun itu-lah, aku merasa telah terbebas dari mimpi-mimpi semu yang menarikku begitu saja. Tetapi, kadang, aku bisa merasakan dalam kehidupan nyata tentang apa yang terjadi dalam mimpi-mimpi yang lain. Misalnya, aku melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang pernah aku kunjungi dalam mimpi. Bedanya, dalam mimpi aku tak pernah tahu nama tempat itu. Tetapi, dalam kehidupan nyata, aku tahu sedang berada di mana.

Atau, aku bisa bertemu dengan seseorang yang menjadi asing dalam mimpi, dan berubah begitu kukenal dalam kehidupan nyata. Namun, di situ aku bisa menemukan persamaan antara mimpi dan kehidupan nyata. Yaitu, orang yang sebelumnya aku kenal, dengan tiba-tiba bisa berubah menjadi orang yang begitu asing. Deja vu?

Mungkin ini deja vu, atau mungkin saja benar apa yang dikatakan Edgar Allan Poe: ‘‘All that we see or seem is but a dream within a dream.”

Barangkali, aku, kami, kita, dan kalian selama ini hanya mimpi dalam mimpi, yang berulang-ulang, yang tak pernah kita sadari. Sampai kita menemukan kehidupan abadi yang dijanjikannya: mati. Anyone can plot a course with a map or compass; but without a sense of who you are, you will never know if you’re already home. (*)

Mei, 2015

Ilustrasi Foto: Christina O’Gorman-Mervyn O’Gorman


About this entry