Requiem for a Tower

MAs-shadow-on-beach

Aku berkenalan dengan maut di sepotong dini hari. Saat itu seperti biasa aku belum bisa tidur menjelang Subuh. Suara marbut dari masjid-masjid dan surau lewat pengeras suara terus bertalu-talu untuk membangunkan setiap orang bersiap salat Subuh.

Saat itulah, di depan kamarku, aku melihat sesosok tubuh meringkuk. Wajahnya tertutup rambut yang terurai, hitam legam dan bergelombang. Baju yang ia kenakan adalah baju terusan seperti gamis, hitam dan menyembunyikan. Saat aku mendekatinya, sebelum sampai kepadanya, dia mengangkat kepala.

Perasaan takut yang dari tadi mencekik perlahan luntur setelah melihat parasnya. Ia perempuan yang ayu, kulitnya putih, hidungnya mancung, garis matanya tegas, dan bibirnya yang mungil terkatup rapat. Tetapi, seperti ada rahasia yang begitu dalam ketika kutatap matanya. Aku seperti mengenal mata itu, tetapi di mana dan mata siapa aku benar-benar tidak tahu.

”Apa kau bidadari yang tersesat?” kataku.
”Aku adalah mautmu.”
”Jangan bercanda. Gadis secantik kamu.”

Aku memang selalu mendapat dan banyak membaca cerita tentang maut. Baik dari film atau internet. Di situ, maut digambarkan sebagai sosok berpakaian serba hitam dengan wajah menyeramkan. Sosok tinggi besar itu juga selalu dikatakan membawa Scythe untuk menghabisi nyawa manusia yang sudah waktunya menemukan keabadian.

Tapi, meski pakaiannya perempuan itu serba hitam, ia tidak menyeramkan, tetapi memesona. Lagi pula, perempuan itu juga tidak membawa Scythe. Lalu, aku akan percaya kalau dia mautku? Mungkin dia mengatakan itu untuk berjaga-jaga agar aku tak mengganggunya.

”Maut lebih indah dari apa pun,” kata perempuan itu.
”Bodoh kalau aku percaya.”
”Begitulah manusia. Mereka hanya percaya pada gambaran, pada
rekonstruksi, daripada kenyataan.”

Pagi harinya, saat matahari mulai terbit di antara gedung-gedung tinggi kota ini. Aku melihat tubuh seorang lelaki yang tertidur lelap di kamarnya. Sedangkan perempuan yang mengaku sebagai mautku sudah tidak ada di depan kamar. Tidak lama kemudian, terdengar kegaduhan di kamar lelaki itu. Beberapa warga berdatangan dan berusaha mendobrak pintu kamar. Setelah berhasil, tubuh lelaki itu digotong dan dimasukkan ambulans. Aku melihat lelaki yang dinyatakan meninggal itu tersenyum bahagia. Tanpa
sadar, aku pun tersenyum, persis seperti senyumnya.

Di kejauhan, lamat-lamat Requiem for a Tower mengalun…

Jakarta, 5 Mei 2015

(Ilustrasi: pinkgazelle)


About this entry