Pelukis dan Kekasihnya

women-in-the-dark-life-wanvisa-klawklean

Cerpen Agus Budiawan

Kubila menatap kosong pada kanvas pucat yang tersandar pada easel kusam: berdiri ringkih memunggungi bingkai jendela. Palet sudah meringkuk di sudut kamar. Cat minyak yang semburat di tembok seakan mewujud lukisan abstrak yang mungkin lebih indah dari karya-karya yang pernah dihasilkan Kubila, yang tak pernah selesai.

Sebentar-sebentar, mata Kubila berkelana ke luar jendela yang menganga di hadapannya. Seperti lorong waktu yang bisa membawanya ke mana saja. Di luar sana, atap rumah perkampungan terlihat begitu sumir. Dan di kejauhan, bayangan-bayangan hitam dari gedung-gedung kota seperti sosok raksasa, muncul dari kegelapan yang entah.

Kubila menghela napas. Ia melirik pada kanvas, palet, dan cat yang meleleh, lalu kepada perempuan di belakangnya. Kubila melihat perempuannya tidur lelap, seperti putri tidur yang sedang menunggu ciuman seorang pangeran.

Kubila kemudian memungut rokok yang tergeletak di atas meja, menyulut, mengisap dalam-dalam, lalu menghamburkan asapnya ke udara. Di matanya, asap itu seperti membentuk wajah-wajah orang yang menertawakannya. Wajah-wajah orang yang mencibirnya sebagai pelukis yang selalu gagal menelurkan karya berkualitas. Ia tertawa, lalu mengisap rokok lagi dalam-dalam, lalu menghamburkan asap ke kanvas di depannya.

’’Aku akan bungkam mereka,’’ gumamnya.

Kubila mulai menggoreskan rokoknya ke kanvas, berkali-kali, hingga tembakau dan sedikit cengkih gogrok ke lantai. Ia mengambil puntung rokok lainnya di asbak dan kembali melukis. Ia terus melukis sampai abu di asbak tumpas. Ia tertawa. Ia bangkit, mundur beberapa langkah, mengamati, lalu mengangguk-angguk.

’’Ahh…’’ terdengar suara perempuan, lirih.

’’Kau bangun.’’

’’Aku bermimpi ada pelukis yang bunuh diri melompat dari jendela kamarnya.’’

’’Kau pikir aku akan bunuh diri? Tidak sebelum aku membungkam mereka.’’

’’Tunjukkan itu kepada mereka. Mereka akan bungkam.’’

’’Ini memang sempurna!’’

’’Kau bercanda. Mereka bungkam karena tidak ada gunanya mengomentari lukisan semacam itu.’’

Tahu sedang digoda, Kubila secepat kilat menerjang tubuh Azzquerra yang tergolek di sofa. Kubila memeluk erat dan menciumi bibir merah perempuannya. Tidak lama, Azzquerra melepaskan diri dari lilitan ular yang mulai garang itu.

’’Aku memilihmu bukan tanpa alasan,’’ kata Azzquerra. Dia lalu bangkit dari kursi, mengambil sebotol bir yang termangu di atas meja berantakan. Isinya tinggal sedikit memang. Dia meminum sekali tenggakan panjang, lalu bersendawa.

’’Ada rokok yang tersisa?’’ tanya Azzquerra.

Kubila melirik puntung rokok yang berserakan di lantai. Azzquerra tahu, hanya itu yang tersisa malam ini. Dia berjalan mendekati easel dan lukisan legam karya kekasihnya. Dia menunduk, memungut puntung rokok, kemudian menyulutnya. Azzquerra mengamati lukisan kekasihnya.

’’Ini bukan karya seni, tapi amarah,’’ katanya. ’’Kau harus mulai lagi dari cinta. Seperti dulu…’’

Azzquerra kembali ke sofa, luruh dalam pelukan Kubila.

’’Aku pernah melukis cinta, tapi malah diremehkan.’’

’’Kenapa mereka yang lebih kau pikirkan. Bukankah aku jatuh cinta padamu karena perempuan dalam lukisanmu?’’

 

Kubila bertemu dengan Azzquerra dalam sebuah pameran sederhana. Pameran khusus pelukis-pelukis pendatang baru dan amatir. Mereka disebut amatir karena karya-karyanya tidak pernah menembus galeri ternama, sehingga label ’’amatir’’ disematkan sekenanya. Di antara karya-karya yang dipajang di gedung taman budaya yang dibiarkan tak terawat itu, lukisan Kubila memang lebih disorot, bukan karena nilai artistik atau teknik sapuan kuas atau gradasi cat. Tetapi, portrait perempuan dalam karya Kubila itu dituding meniru karya-karya seniman kubisme legendaris, Pablo Picasso.

Azzquerra yang mahasiswa tingkat akhir jurusan desain visual di salah satu universitas negeri di ibu kota itu pun tertarik pada karya Kubila yang diberi judul Me tersebut. Bisa dibilang, hanya Azzquerra-lah yang antusias mengobrol dengan Kubila perihal sosok perempuan dalam lukisannya. Bagaimana ia melukis, dan bagaimana ia menilai karyanya sendiri.

’’Tidak sepatutnya pelukis menilai lukisannya sendiri. Narsis! Atau kepedean,’’ kata Kubila.

”Oke. Kalau begitu, siapa perempuan itu?” tanya Azzquerra.

’’Dia hanya perempuan dalam imajinasiku.’’

Sejak perkenalan itu, Kubila dan Azzquerra sering merencanakan pertemuan-pertemuan. Kadang di galeri saat pameran, tetapi lebih sering mereka bertemu di kedai kopi, atau sesekali di kafe.

Azzquerra pun tidak ragu memilihnya meski Kubila belum punya pekerjaan tetap. Kadang dia diminta mengecat rumah tetangga, mengantar ibu-ibu ke pasar, atau membantu tetangga membangun rumah. Apa pun dikerjakan. Tetapi, ketika tidak ada kegiatan apa-apa, dia akan mengurung diri di kamar, melukis.

’’Kamar seniman,’’ kata Azzquerra saat pertama menyambangi kamar Kubila di lantai empat di tengah perkampungan.

’’Selamat datang di dunia kemurungan,’’ kata kubila sambil merentangkan kedua tangannya.

’’Apa kau selalu melukis perempuan dalam imajinasimu?”

”Iya.”

”Termasuk imajinasi kotor?”

”Haha…tunjukkan aku lelaki mana yang tak punya imajinasi cabul?”

Azzquerra tersenyum, tersipu.

’’Aku juga mau dilukis. Tapi, jangan masukkan aku dalam imajinasi cabulmu.”

’’Kalau kau mau, tak perlu dalam imajinasi.”

Azzquerra tahu arah pembicaraannya.

”Kenapa harus perempuan dalam imajinasi?”

”Karena menurutku itulah yang ideal.”

”Tak ada perempuan nyata ideal yang kamu kenal?”

”Tidak akan pernah ada. Ideal hanya ada dalam dunia imajinasi.”

”Ya, tetapi tetap saja tidak nyata.”

Kubila dan Azzquerra pun terlibat dalam perbincangan panjang. Antara nyata dan tak nyata, antara imajinasi dan bukan imajinasi. Azzquerra memandang dunia inilah yang nyata. Perempuan yang bisa dipegang, dipeluk, dicumbu, itulah yang ideal. Namun, bagi Kubila, di dunia ini tak ada yang nyata. Sebagaimana ia berimajinasi, ia menghidupkan sosok perempuan dalam imajinasinya, lalu menghadirkan sosok lelaki. Setelah itu, imajinasi Kubila mempertemukan mereka, menumbuhkan cinta di antara keduanya.

Ya, itu tidak nyata, tetapi ideal menurut Kubila. Dan ideal tidak harus nyata. Kubila punya pendirian, jika ia bisa berimajinasi dengan menciptakan manusia-manusia dengan permasalahannya, bukankah dirinya, Azzquerra, atau orang-orang yang dianggap nyata ini bisa saja hasil imajinasi orang lain yang entah berada di dimensi keberapa.

 

’’Aku ingin keluar membeli rokok,” kata Kubila.

”Ya, kau butuh udara segar. Aku ikut bersamamu.”

Mereka pun keluar. Mereka harus menuruni tangga, lalu keluar menyusuri gang sempit sebelum sampai ke jalan utama. Mereka mampir ke kedai kopi. Kubila memesan kopi hitam-kental-pahit dan sebungkus rokok. Sedangkan Azzquerra meminta soft drink.

’’Dengar. Kamu harus memulai dari cinta lagi,” kata Azzquerra.

’’Aku bukan Picasso.”

”Ayolah, jangan begini. Ucapan mereka begitu kau pikirkan. Tapi, ucapanku?”

”Kamu senang aku disebut tukang jiplak?”

”Lalu kenapa jika bakat yang kau punya mengingatkan orang pada Picasso?’’

Kubila diam.

”Maksud kamu?”

”Kamu berbakat dan bakat kamu mirip dengan pelukis besar.”

Kubila menyesap kopinya, lalu menyulut rokok.

’’Kesalahan kamu cuma dua. Pertama, kau dilahirkan jauh setelah Picasso menjadi terkenal dan melegenda. Kedua, kau dilahirkan di negara yang buta seni!”

’’Lalu?”

”Mengapa masih tanya. Dasar lelaki. Sudah tahu jawabannya masih harus ditanyakan lagi. Melukis lagi, dengan cinta. Lukisan yang membuatku jatuh cinta kepadamu, sekali lagi, berkali-kali lagi.’’

”Sekarang kau tak cinta lagi?”

”Jangan ngaco, tentu kopi hitam-kental-pahit itu tidak memabukkan bukan? Kau telah menjeratku begitu erat, tak bisa lagi aku lepas darimu. Hanya saja, dengan dirimu yang sekarang, aku seperti kehilangan dirimu yang dulu kukenal. Aku cuma ingin Kubila-ku yang dulu kembali. Itu saja.”

”Aku harus melukismu?”

”Tidak harus aku. Apa pun yang menarik buat kamu. Yang membuatmu tenang, dan melukis tanpa amarah.”

”Berarti aku memang harus melukismu.”

Azzquerra tersipu.

 

Kubila teringat pada suatu hari, ia tidak tahu kapan pastinya, tetapi itu tidak akan pernah ia lupakan. Saat itu, di sebuah kedai kopi di kota yang lain, ia melihat seorang perempuan muda yang akan menyeberang jalan. Beberapa kali Kubila melihat perempuan yang sepertinya karyawati di kantor tidak jauh dari daerah tersebut. Suatu hari, Kubila melukis perempuan itu. Dua hari setelah lukisan Kubila selesai, perempuan itu ditabrak angkutan kota yang sopirnya mabuk.

Di hari yang lain dan di tahun yang lain, Kubila jalan-jalan ke pantai saat merasakan kota semakin membosankan. Di sana, ia melihat perempuan muda yang berjualan es kelapa muda. Setelah kembali ke rumah kontrakan, Kubila melukis perempuan itu. Beberapa bulan kemudian, saat ia kembali ke pantai yang sama, ia mendapat informasi bahwa perempuan penjual es kelapa muda itu tewas tenggelam saat menolong seorang anak.

Sekali kejadian mungkin bisa dianggap kebetulan, tetapi jika terjadi dua kali maka lain ceritanya. Sejak saat itu, Kubila hanya akan melukis perempuan-perempuan dalam imajinasinya. Memang ia membayangkan wajah perempuan yang pernah ia temui dalam imajinasinya. Tetapi, ia akan mengubah wajah-wajah mereka sehingga menjadi sosok baru. Misalnya, untuk melukis kening ia akan membayangkan si A, hidungnya si B, bibirnya si C, dan seterusnya hingga terciptalah sosok perempuan baru. Kubila pun menceritakan itu kepada Azzquerra.

 

”Mulailah dengan melukisku,” kata Azzquerra.

”Kamu tahu risikonya.”

”Ayolah, kau manusia modern. Masak masih percaya dengan tahayul kuno seperti itu?”

”Perempuan-perempuan Picasso pun banyak yang meninggal setelah dilukis.”

”Kamu bukan Picasso dan tidak akan membunuh siapa pun. Kalaupun aku harus mati, setidaknya kamu menemukan cinta dalam setiap goresanmu.”

”Jangan bercanda soal maut.”

Setelah Kubila menghabiskan kopi hitam-kental-pahit miliknya dan Azzquerra menenggak habis soft drink-nya, mereka kembali ke rumah kontrakan. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan, menyusuri gang-gang sempit bau bacin. Sesekali tikus kembung muncul dari lubang selokan dan berlari mendahului mereka, lalu lenyap di lubang selokan yang lain.

Sesampai di rumah kontrakan, mereka bergumul di atas sofa bekas yang tetap terasa nyaman. Saat itu Kubila menumpahkan seluruh cintanya kepada Azzquerra yang rela kabur dari rumah dan meninggalkan kampus, hanya untuk Kubila yang dicintainya dan hidup serba sederhana. Azzquerra pun tidak keberatan. Dia hanya mengikuti kata hatinya, dan itu membahagiakannya.

Saat itu Kubila berjanji. Suatu saat ia akan melukis perempuannya, Azzquerra.

 

Jakarta, 2–9 Mei 2015

(Ilustrasi: Women In The Dark Life by Wanvisa Klawklean)


About this entry