Hujan Bulan Juni

3d9014f8d2151784c167cf2cf4deda7d

Cerpen Agus Budiawan

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono–

 

Hujan di bulan Juni selalu getir bagi Abinaya. Dia merasa hujan bulan Juni telah mencuri orang yang begitu dicintainya. Tepatnya memang bukan hujan di bulan Juni, tetapi pertengahan hingga akhir Mei. Tetapi, Abinaya selalu merasakan kegetiran justru ketika memasuki bulan Juni.

Abinaya merasa selalu cemburu pada hujan bulan Juni yang begitu tabah. Rintiknya begitu teguh menyimpan rindu. Sementara dia selalu ingin bertemu dengan kekasihnya, sekadar diam beberapa lama sambil menikmati kopi di kedai pinggir jalan. Hanya sedikit obrolan, dan diam menjadi semacam pertautan doa yang tak putus-putus.

’’Kau ingat hujan bulan Desember?” tanya Abinaya. Dia memang sering hilang ucap ketika bersama kekasihnya. Dia hanya lebih suka diam-diam memperhatikan kekasihnya ketika menyesap kopi, saat sedikit mengelap wajahnya dengan tisu, atau ketika melihat rintik hujan yang jatuh di luar kedai.

’’Hujan selalu menyenangkan,’’ jawab Venta.

Setelah itu, yang lebih banyak berbincang adalah rintik hujan dan pohon berbunga di seberang jalan di depan kedai kopi.

Abinaya selalu merasa tidak bisa keluar dari dirinya sendiri, dari pikirannya. Sekeras apa pun dia mencoba, hanya kegagalan yang terus membuatnya merasa tak pantas untuk siapa-siapa, kecuali dirinya sendiri. Dia pun hanya bisa menyalahkan diri sendiri ketika di suatu hari Venta memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

’’Sebaiknya kita sudahi sampai di sini,” kata Venta di waktu yang lain, di kedai kopi.

’’Aku akan mencoba,’’ kata Abinaya.

’’Sampai kapan?’’

Abinaya diam.

’’Aku sudah memberimu banyak kesempatan, tapi apa?” kata Venta. ’’Aku sudah capek,’’ lanjutnya.

Tidak ada yang salah. Abinaya hanya menginginkan Venta. Dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama kekasihnya. Dia ingin dirinyalah yang bisa membahagiakan kekasihnya. Dia hanya ingin mencintai Venta sepenuhnya, setulusnya. Dia ingin merasa dibutuhkan walaupun cuma sedikit.

Sedangkan Venta adalah perempuan bebas. Dia tidak ingin terikat, bahkan oleh waktu. Dia adalah perempuan karir yang tak hanya ingin fokus pada satu hal. Kalau bisa, dia ingin meraih segalanya dalam satu pekerjaan.

’’Kita begitu berbeda, bahkan dalam cinta,’’ kata Venta.

’’Tidakkah perbedaan ini bisa saling melengkapi?’’

’’Yang ada justru saling menyakiti.’’

Abinaya selalu cemburu pada hujan bulan Juni yang begitu bijak menghapus jejak-jejak keraguan. Bahkan, ketika dia sebenarnya ingin berkata tidak ingin berpisah pun, dia ragu. Bukan soal ragu antara mencintai atau tidak mencintai.

Tetapi, Abinaya ragu apakah dirinya pantas untuk menahannya terlalu lama. Dia ragu apakah sanggup melihat orang yang dicintainya berbahagia dengan orang yang itu bukan dirinya. Abinaya percaya, cinta dan manusia sama-sama bisa mati. Tapi, mengubur cinta tak semudah mengubur jasad manusia.

’’Kadang aku tak suka melihatmu tertawa karena orang lain,’’ kata Abinaya suatu ketika.

’’Kalau begitu, kamu harus bisa membuatku tertawa melebihi mereka.’’

Abinaya ingin membuat kekasihnya bahagia. Tetapi, rintik hujan ternyata lebih menarik bagi kekasihnya.

’’Jika kamu mencintaiku, tentu kamu juga bahagia jika melihatku tertawa. Meskipun yang membuatku tertawa bukan kamu,’’ protes Venta.

’’Iya, tapi…”

’’Itu bukan cinta.”

Abinaya hanya bisa diam. Terkadang perasaan paling dalam memang sulit diungkapkan. Begitulah. Abinaya pun harus rela orang yang dicintainya pergi untuk ditemukan oleh lelaki lain yang bisa mencintainya dengan cara yang benar, setidaknya menurut Venta.

Abinaya akan menunggu hujan bulan Juni dan membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Dia merasa kini menjadi lebih muda baginya. Kini, saat sudah tak bersama lagi, Abinaya bisa merasakan kebahagiaan saat melihat perempuan yang dicintainya bahagia karena orang lain. Jika itu bukan cinta, lalu apa?

 

Jakarta, 17 Mei 2015

 *Based puisi Sapardi Djoko Damono ’’Hujan Bulan Juni’’


About this entry