Semeru, Wajahmu Kini

IMG_6479

Antara Desember 2012 sampai Agustus 2013, saya tiga kali mendaki Semeru. Antara bulan dan tahun itu juga, saya masih bisa merasakan dan melihat kealamian gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Ia seperti gadis dengan kecantikan alami tanpa make-up dan aksesori yang dipaksakan. Entahlah, pertama mendaki Semeru, saya merasa jatuh cinta kepadanya, seperti jatuh cinta kepada perempuan yang memesona, dengan tampil apa adanya.

Sampai akhirnya saya harus bekerja di Jakarta. Meski begitu, kerinduan saya pada Semeru tetap menyala. Tepat 1,5 tahun tinggal di Jakarta, saya pun memutuskan untuk menjenguk Semeru lagi. Ada ekspektasi yang begitu besar saat saya menempuh perjalanan jauh ke perbatasan Malang-Lumajang, tempat ia menunggu dalam balutan kabut dan angin dingin yang selalu menjaganya dalam rimba.

IMG_6503

Menyusuri lekuk tubuhnya, selangkah demi selangkah, memberikan kebahagiaan tersendiri, rindu yang tertunaikan. Namun, ada hal yang mengganggu saat saya singgah di pos-pos Semeru. Kealamian Semeru sedikit demi sedikit dipaksa hilang demi kepentingan segelintir pihak. Semeru berada dalam ancaman komersialisasi. Alih-alih menjaga keindahan, kealamian, dan kebersihan Semeru, beberapa pihak ­–tidak terkecuali pendaki yang tidak bertanggung jawab– justru merusaknya.

Pedagang-Pedagang Semeru

Tak disangka, ternyata di Semeru banyak pedagang yang berjualan. Saya di sini tidak menyalahkan mereka sebagai sumber masalah menumpuknya sampah di Semeru. Sepengatahuan saya, mereka justru lebih bisa menjaga kebersihan Semeru daripada pendaki sendiri. Para pedagang yang memang seluruhnya adalah warga setempat, Ranupani, selalu membawa satu karung untuk tempat sampah.

IMG_6274

Di satu sisi, mereka tidak bisa disalahkan bila akhirnya berjualan di beberapa sudut Semeru. Mulai pos 1, 2, 3, 4, Ranu Kumbolo, Cemoro Kandang, Jambangan, Kali Mati, bahkan di dekat Arcopodo. Di antara mereka, ada porter yang bila sedang tidak menerima tamu (sebutan untuk pendaki yang memakai jasa mereka) akan mengisi waktu kosongnya dengan berjualan. Ada juga warga yang kesehariannya menjadi petani kemudian memanfaatkan kondisi itu dengan berjualan sebagai pekerjaan sampingan untuk sekadar menambah penghasilan.

Untuk pedagang Semeru ini, saya sempat ngobrol panjang lebar dengan salah seorang pedagang yang biasa berjualan di Kali Mati. Nama beliau sengaja saya rahasiakan. Beliau bercerita tentang sejarahnya bisa sampai banyak pedagang di Semeru.

Beliau tidak tahu persisnya kapan, tetapi seingat beliau adalah sekitar akhir 2014 atau awal 2015. Ada beberapa rombongan pendaki yang mengeluh kehabisan logistik ketika mendaki. Hal itu diketahui pihak TNBTS. Kemudian, pihak TNBTS mengadakan pertemuan dengan warga setempat untuk membicarakan masalah tersebut. Akhirnya, dibentuklah kelompok pedagang Semeru. Namun, mereka tidak memiliki nama resmi perkumpulan.

IMG_6325

Awalnya, saya pikir berdagang adalah inisiatif warga sendiri untuk mencari penghasilan tambahan. Namun, ketika saya bertanya lebih jauh, ternyata mereka dikoordinir oleh pihak TNBTS. Karena itulah, setiap pedagang akan mematok tarif yang sama untuk jenis makanan, minuman, atau rokok yang dijual. Contohnya, semangka atau gorengan. Satu potong gorengan atau satu iris semangka dihargai Rp 2.500. Untuk nasi bungkus, harganya Rp 15.000 dengan lauk satu telur dadar dengan sedikit mie goreng. Harga yang sama akan ditawarkan pedagang untuk jenis minuman seperti Aqua, Pocari Sweat, Ale-Ale, hingga rokok.

Lalu, bagaimana sistem pembagian upahnya? Menurut beliau, setiap seminggu sekali, seluruh penghasilan pedagang Semeru akan dikumpulkan kepada pihak TNBTS, kemudian dibagi rata untuk semua pedagang. Pedagang dengan penjualan terbanyak akan mendapat pendapatan berupa bonus yang nominalnya dirahasiakan.

Di satu sisi, mereka tentu sah-sah saja berjualan di wilayah mereka sendiri. Namun, di sisi lain, keberadaan mereka tentu menghilangkan kealamian Semeru sebagai wisata alam liar dan pendakian. Hanya, di sini saya tidak ingin menghakimi para pedagang Semeru itu benar atau salah. Yang pasti, banyak pendaki yang merasa terbantu dengan keberadaan mereka. Pendaki yang kehabisan logistik bisa benapas lega karena bisa membeli di sepanjang jalur pendakian.

Saya pun bisa memaklumi usaha mereka berjualan di Semeru. Bahkan, saya merasa kagum kepada mereka. Berdasar cerita pedagang di Kali Mati yang saya temui tadi, setiap hari beliau harus memikul dagangannya yang bisa saja beratnya menyamai atau bahkan melebihi barang-barang bawaan para pendaki. Setiap hari beliau naik dari Ranupani sekitar pukul 5 pagi dan sampai di Kali Mati sekitar pukul 9 menjelang siang. Bila barang bawaan lebih berat, beliau biasanya baru sampai di Kali Mati pukul 10–11 siang. Beliau baru turun ke Ranupani sekitar pukul 2 siang, saat seluruh pendaki sudah turun dari Mahameru.

IMG_6453

Jika melihat perjuangan lelaki yang kira-kira sudah berusia hamper 50-an tahun itu, hati pendaki mana yang tidak tergugah –kecuali mereka yang skeptis. Jadi, menurut saya, harga seiris semangka atau satu biji gorengan Rp 2.500 tentu tidak ada apa-apanya, dibanding dengan perjuangan mereka.

Satu hal lagi yang membuat saya malu, yaitu saat saya melihat beliau dengan senang memungut uang receh Rp 200 yang tercecer di sekitar lapak dagangannya. Beliau lalu tersenyum kepada saya dengan berkata, ’’200 rupiah juga uang, Mas. Rezeki.’’ Mungkin kita –atau bahkan saya sendiri– menganggap uang 200 rupiah tidak ada apa-apanya. Tapi, bagi mereka yang pandai bersyukur, sekecil apa pun rezeki yang didapat, mereka akan tersenyum. Begitu juga pedagang di Kali Mati tersebut.

Saya mendapat pelajaran berharga (lagi) dari lelaki sederhana itu di belantara Semeru. Mereka yang tak jarang dipandang sebelah mata dan dianggap menghilangkan kealamian Semeru, namun di sisi lain keberadaan mereka juga dibutuhkan. Jadi, terserah saja bagaimana kita menyikapinya.

Batas Pendirian Tenda di Ranu Kumbolo

Satu hal yang paling mengecewakan saya saat sampai di Ranu Kumbolo adalah lokasi pendirian tenda di pinggir ranu. Pihak TNBTS ternyata memasang sekat berupa tali rafia di sepanjang bibir sungai untuk memberikan batasan tegas lokasi pendirian tenda. Pendaki dilarang mendirikan tenda di area sungai yang tidak ditumbuhi rumput. Saya sendiri selama mendaki Semeru tak pernah mendirikan tenda di area itu, tetapi sedikit ke atas di tanah yang ditumbuhi rumput. Mungkin sebelumnya banyak pendaki yang mendirikan tenda tepat di bibir sungai sehingga peraturan dan batas tersebut dipasang.

IMG_6094

Selain bentangan tali rafia di sepanjang bibir Ranu Kumbolo, di situ juga dipasangi papan pengumuman berwarna kuning dengan tulisan berwarna hitam: BATAS PENDIRIAN TENDA. Belum cukup dengan itu. Di selter Ranu Kumbolo ternyata ada petugas TNBTS yang bersiaga di sana. Mereka akan menegur setiap pendaki yang dirasa akan melanggar peraturan. Seperti jika ada pendaki yang mengambil air atau mencuci alat masak di sisi depan Ranu Kumbolo. Dengan TOA, mereka akan menginstruksi mereka untuk mengambil air atau mencuci peralatan masak di sisi kanan atau kiri ranu. Petugas juga akan memberikan peringatan keras bila ada pendaki yang berfoto dengan naik ke atas pokok-pokok pohon cemara yang tumbang dan menjorok ke ranu.

Saya rasa peraturan-peraturan seperti itu tidak akan diberlakukan jika para pendaki bisa menjaga sikap masing-masing. Dengan begitu, pendaki lain yang memiliki persiapan matang untuk bertualang di alam bebas seperti Semeru dan tidak berkeinginan berbuat aneh-aneh di ranu tidak ikut dirugikan. Kini setiap pendaki seperti murid taman kanak-kanak yang terus dipantau guru dan dilarang ini itu. Lalu, ini salah siapa?

Toilet-Toilet Jorok

Pada awal pendakian saya tahun 2012, bertepatan dengan pemutaran film 5cm yang mengambil setting Semeru. Bekas keperluan syuting berupa toilet yang terbuat dari tripleks dan atap rerumputan di dekat selter Ranu Kumbolo masih berdiri. Saat itu, toilet tersebut sudah tidak digunakan lagi. Di situ terdapat WC jongkok dari porselen yang mampet dengan kotoran manusia yang kering, bercampur tisu basah, botol Aqua, dan sampah plastik lainnya. Baunya? Jangan ditanya lagi. Lalu, pada pendakian saya selanjutnya, yakni tahun 2013, toilet tersebut sudah dibongkar dan sudah lumayan bersih.

IMGP2352

Namun, saat saya kembali ke Semeru pada 28-28 Mei kemarin, ternyata dibangun toilet baru di tempat yang sama di mana toilet lama berdiri. Tapi, toilet itu kini dibangun menggunakan rangka besi dengan dinding seng bercat hijau. Bedanya, yang dipasang bukan WC jongkok dari porselen seperti dulu, tetapi berupa papan kayu yang diberi lubang, dan di bawahnya adalah tanah galian yang tentu saja lama-kelamaan akan penuh juga.

IMG_6362

Bukannya lebih baik, toilet seperti itu justru membuat kawasan Semeru menjadi semakin jorok. Kotoran bercampur tisu basah, botol Aqua, dan sampah lainnya berserakan di sana. Toilet seperti itu juga bisa ditemui di Kali Mati. Seandainya pendaki bisa lebih paham bagaimana bertualang di alam bebas, kondisi seperti itu mungkin tidak terjadi di Semeru. Bukankah lebih baik pendaki menggali lubang beberapa sentimeter untuk membuang kotoran, lalu menimbunnya lagi. Sehingga kealamian dan kebersihan Semeru tetap terjaga, tidak seperti sekarang. Lalu, siapa yang harus disalahkan?

 ***IMG_6473

Saat ini, seperti itulah kondisi Semeru, cinta pertama saya. Ia kini seperti perempuan yang ringkih, belepotan, dan bersedih. Kecantikan alaminya perlahan-lahan pudar. Kabut putih tak bisa menyembunyikan kesedihannya lagi. Udara dingin tak mampu melindungi lekuk tubuhnya lagi. Semeru, wajahmu kini.

                                                                                                            Mei 2015

 

 

 


About this entry