SITI, Perempuan dalam Tragedi

6348_Featured-Image-Juni-2015-628x250

’’Mas percaya surga?”

’’Saya percaya laut. Laut bisa memberikan kebahagiaan.”

Kurang lebih, dua baris percakapan singkat antara Siti dan Bagus di atas begitu penting dalam film SITI. Itu seakan menjadi frame, untuk memulai dan mengakhiri cerita tragis perempuan pesisir. Laut di sini disimbolkan sebagai ’’kebahagiaan’’. Tidak heran, sebagai keluarga kecil di Parangtritis, laut seakan menjadi ladang penghidupan.

Bagus, sebagaimana lelaki lain di kawasan pesisir, menyandarkan hidup pada laut sebagai nelayan. Sebelum akhirnya tragedi menimpa Bagus. Kapal yang dibeli dari uang pinjaman berlayar sendiri ke samudera tak bertepi. Sementara itu, si nelayan rapuh kembali ke tepi dengan lunglai, hilang harap, dan menderita stroke. Dia hanya bisa tergolek di bilik sempit di dalam rumah reot yang terbuat dari jalinan bambu.

Mengambil visual hitam-putih di keseluruhan film, Eddie Cahyono –sang sutradara– seakan ingin menegaskan kesuraman hidup kaum pinggir dengan segala keterbatasannya. Siti dihadirkan sebagai perempuan lugu yang harus berjualan peyek jingking di Parangtritis pada siang hari dan menjadi pemandu karaoke pada malam hari. Siti harus seorang diri menghidupi anak dan mertuanya, sekaligus menyekolahkan anaknya. Belum lagi dia dibebani utang kapal suaminya yang belum lunas.

Di sisi, dapat dilihat bahwa Siti digambarkan hidup di dua dunia berbeda. Pada siang hari, dia seakan memegang kontrol atas diri sendiri. Sedangkan pada malam hari, dia menjadi ’’objek’’ yang didominasi dunia laki-laki. Dalam kondisi seperti itu, Friedrich Engels mengatakan bahwa status perempuan jatuh karena adanya konsep kekayaan pribadi (private property). Kekayaan pribadi di sini bisa diwakili oleh Gatot, polisi yang suka menyambangi tempat karaoke. Gatot diam-diam menyukai Siti dan ingin menikahinya. Bahkan, dia rela memberikan uang secara cuma-cuma untuk perempuan yang dicintainya itu.

Karena keadaan, Siti di sini sedikit goyah dan ’’menyerah’’ kepada Gatot yang digambarkan dalam adegan singkat di kamar mandi tempat karaoke. Kegiatan produksi yang semula bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri berubah menjadi keperluan pertukaran (exchange), kata Friedrich Engels. Laki-laki mengontrol produksi untuk exchange dan sebagai konsekuensinya mereka mendominasi hubungan sosial.

Di sisi lain, Siti adalah manifestasi dari kaum perempuan Jawa yang ’’tunduk’’ pada laki-laki. Dia digambarkan sebagai perempuan yang setia kepada suami –meski dalam satu titik dia bisa goyah. Dia merawat suaminya dengan tabah meski di dalam hatinya ada bara yang sedikit demi sedikit membakar hatinya.

Siti juga menjadi ’’corong’’ perempuan Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran di satu sisi, dan –karena keterpaksaan– sekaligus menabrak nilai-nilai itu sendiri.

Nilai keluhuran ditularkan Siti kepada anak semata wayangnya, Bagas, yang masih SD. Bagaimana dia mengajari anaknya untuk tidak meladeni teman-temannya yang mengajak berkelahi dan mengajarkan pentingnya pendidikan. Sampai dalam adab terkecil pun diperhatikan –sebut saja saat makan.

Alih-alih menonjolkan ke-gender-an, film yang diproduksi pada 2014 ini justru menonjolkan sosok Siti sebagai perempuan tangguh yang hidup di dua ruang sekaligus, yakni ruang publik dan ruang privat (Harijani 2001:20). Menurut Hubies, peran perempuan dapat dilihat dari perspektif dalam kaitannya dengan posisinya sebagai manajer rumah tangga, partisipan pembangunan, dan pekerja pencari nafkah.

Berdasar penjelasan di atas, Siti ingin membuktikan bahwa perempuan bukanlah sosok lemah yang bisa didominasi kaum laki-laki. Dia adalah manusia bebas yang ingin terbang dengan sayap dan kepakan sendiri. Namun, dunia pembatas perempuan bukan hanya laki-laki, ada juga garis nasib.

Yang terakhir ini tidak bisa dilawan siapa pun, termasuk Siti. Pada akhirnya, kepasrahan menjadi pilihan setelah perjuangan yang dilakukan terbentur garis Tuhan yang disebut nasib. Dengan restu sang suami –yang akhirnya berbicara untuk pertama kali setelah lama membisu ketika tahu istrinya bekerja di tempat karaoke–, Siti meneguhkan hati untuk melangkah setapak demi setapak menuju kebahagiaan yang abadi, menuju laut. (*)

Tentang Film Siti:

Produser: Ifa Isfansyah

Sutradara: Eddie Cahyono

Penulis: Eddie Cahyono

Pemeran: Sekar Sari, Bintang Timur Widodo, Titi Dibyo, Ibnu Widodo, Haydar Saliz

Produksi: 2014

Rasio gambar: 1.33:1 (4:3)

Warna: HP

Bahasa utama: Jawa

Bahasa lainnya: Indonesia

Pencapaian:

  • Official Selection Singapore International Film Festival 2014
  • Best Performance for Silver Screen Award at Asian Film Category Singapore International Film Festival 2014
  • Official Selection International Film Festival Rotterdam 2015
  • Official Selection Udine Far East Film 2015

IMG_0277

-Agus Budiawan-

Kineforum Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 8 Juni–11 Juni 2015


About this entry