Tak Ada yang Lebih Tabah dari Penonton Film ”Hujan Bulan Juni”

TAK ada penikmat sastra –terkhusus puisi– yang tak mengenal Sapardi Djoko Damono (SDD). Beliau bisa disebut sebagai Bapak Puisi Cinta Indonesia. SDD telah menggali kedalaman begitu curam, hingga ke relungnya, untuk menambang kata-kata yang melehkan hati siapa saja, lewat sajak-sajaknya.

Kita bisa menemukan banyak sajak cinta yang ditulis SDD. Dan yang paling fenomenal tentu saja puisi Hujan Bulan Juni (HBJ). Bahkan, kumpulan puisi dengan judul yang sama sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Terkhusus puisi utama yang dijadikan judul itu, telah diperkaya dalam bentuk novel, oleh SDD sendiri.

Bahkan, kita bisa menikmati HBJ dalam bentuk musik –musikalisasi puisi. Namun, dalam hal ini SDD punya pendapat sendiri. Pada medio 2016 –dalam Jakartanicus– Najwa Shihab pernah “menggoda” SDD bahwa HBJ begitu dalam hingga sangat ampuh untuk menaklukkan hati perempuan. Singkatnya, HBJ begitu populer di kalangan pencinta.

Sebagai penyair yang low profile, SDD menampik anggapan itu. Dia malah melontarkan isyarat bahwa tak ada orang yang akan mengenal HBJ jika saja Arie-Reda tak melantunkan puisi tersebut dalam bentuk lagu. Ya, mendengar lagu HBJ dari Arie-Reda memang memabukkan.

“Tidak mungkin puisi di pojok koran sore saat itu, yang tidak terkenal, ada yang membaca. Sekarang karena lagu itu, Anda mengenal saya.” Begitu kira-kira kata SDD. Najwa pun tersenyum manis, khasnya Najwa.

Puisi yang –kata SDD– ditulis hanya dalam waktu 15 menit itu pun seakan abadi. HBJ seolah-olah menjadi ratu cantik yang tinggal di menara masjid, eh menara gading, dengan kursi bertatakan berlian dan kelambu pelangi. Manis dan anggun.

“Mencintai dengan sederhana itu justru cara mencintai yang sangat tidak sederhana. Itu mustahil. Susah orang mencintai apa adanya,” kata Joko Pinurbo.

Ya, HBJ memang tidak sederhana. Meski banyak tafsir yang mencoba membedah maksudnya, tak ada yang bisa merogoh kedalamannya. Bahkan, novel dengan judul yang sama –yang ditulis oleh SDD sendiri– dengan tebal 138 halaman pun belum bisa mendekati ”kesucian” sajak singkat itu:

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Lalu, sampailah kita pada zaman now, di mana HBJ diangkat ke layar lebar oleh Reni Nurcahyo Hestu Saputra, berdasar novel dari judul yang sama, yang juga diangkat dari puisi dengan judul yang sama. Sesama memang nggak masalah, asal setia.

Magis sajak HBJ tentu bisa menyihir penikmat sastra untuk mengantre tiketnya. Jelas itulah harapannya. Menurut sinopsisnya, film itu bercerita tentang ……. cari sendiri lah di Google.

Film itu diputar pada 2 November lalu. Sebagai penikmat sastra, saya tak ingin ketinggalan untuk menonton film itu di hari pertama. Voila! Tak ada antrean panjang, berdesak-desakan, untuk membeli tiket film HBJ. Ruang bioskop pun sepi.

Tak apa, pikiran saya, mungkin di Jakarta ini populasi penikmat sastra mungkin hampir punah sehingga film yang diadaptasi dari karya adiluhung Hujan Bulan Juni pun sepi peminat. Saya mempersiapkan diri, dan hati, untuk menikmati film tersebut.

Namun, dari menit pertama, saya sudah dibuat bosan dengan narasi film dan dialog antar tokoh –dengan tokoh utama diperankan Adipati Dolken dan Velove Vexia– itu. Percakapan picisan, bahkan cenderung kekinian yang (maaf) murahan, menghantui hampir di setiap scene. Kebosanan semakin tumbuh subur di kepala.

Menurut saya, tanpa puisi-puisi SDD yang dijadikan bumbu, film tersebut sangat hambar. Alur dan kisahnya datar-datar saja, seperti tipikal sinetron-sinetron khas Indonesia. Ya, tak ada yang lebih tabah dari penonton film Hujan Bulan Juni. Bahkan, ketika menulis ini, saya pun membutuhkan ketabahan, untuk tidak menyinggung SDD.

Baiklah, akhirnya HBJ –sebagaimana kata SDD– melambung berkat lagu yang dibawakan Arie-Reda. Tapi, kemagisannya seakan dinodai film berdurasi 90 menit yang penuh anu itu.

Namun, sebelum film premier, SDD yang ikut ambil bagian sebagai ayah tokoh utama dalam film itu buru-buru memasang pagar, dengan pandangan sendiri. “Saya nggak pernah (memikirkan ekspektasi penonton). Itu kan urusan orang suka film seperti apa saja. Ini film yang agak berbeda dengan film yang lain. Ini menerjemahkan puisi ke dalam film, dan itu berhasil,” kata Sapardi dalam wawancara di gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jumat (27/10/2017).

Soal kemungkinan penonton membandingkan film dengan novelnya, SDD sudah memberikan rambu-rambu. “Justru lebih banyak hal yang menguntungkan. Novel terangkat dengan film-nya, film terangkat dengan novelnya,” kata SDD.

Tapi, jika melihat filmnya, justru film yang terangkat oleh novelnya, terutama puisinya.

Akhirulkalam —sebagaimana kata SDD– puisi, musik, dan film adalah karya yang berbeda-beda. Ada yang menjatuhkan, ada yang meninggikan. Sebagai karya yang berdiri sendiri-sendiri, Hujan Bulan Juni sebagai puisi adalah karya yang akan tetap fenomenal. Dan biarkan karya lain –yang mengadaptasi HBJ– jatuh bangun sendiri karena aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja.

Jakarta, November 2017

Advertisements

About this entry