Marlina, Pembunuh Sederhana yang Mendapat Banyak Pengakuan

MARLINA, Si Pembunuh dalam Empat Babak bisa jadi akan dinobatkan sebagai film Indonesia terbaik tahun 2017. Sebelum mengudara di Indonesia, film ini mendapat beberapa penghargaan di level internasional.

Sebut saja penghargaan sebagai film dengan skenario terbaik pada Festival International du Film deFemmesde Sale (FIFFS) di Maroko edisi ke-11 dan meraih penghargaan Asian NestWave dari The QCinema Festival di Filipina. Kemudian, pemeran Marlina, Marsha Timothy, juga mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik dari Sitges International Fantastic Film Festival.

Tayang di bioskop Indonesia pada 16 November 2017, Marlina masih lebih populer ketimbang film senegara seperti Wage, Hujan Bulan Juni, Gasing Tengkorak. Film garapan sutradara Mouly Surya itu juga tidak kalah bersaing dengan film impor seperti Justice League, Chasing The Dragon, atau Paddington 2.

Sebelum tayang di bioskop Indonesia, Marlina telah memukau dunia di La Quinzaine des Réalisateurs (Forum Sutradara), kompetisi yang diselenggarakan paralel dengan Festival Film Cannes, Prancis, tahun 2017.

Eric Sasono, kritikus film yang sedang menempuh program doktoral di Inggris, memberikan ulasan tentang film Marlina. Dia membaginya dalam “tiga babak”, yaitu sensibilitas hukum, satay western?, dan kritik kontemporer.

Dari segi hukum, Eric menilai, sebagai perempuan di tengah budaya laki-laki yang ‘lebih unggul’, Marlina memiliki kesadaran hukum untuk melaporkan para perampok yang menguras hewan ternaknya, dengan dalih pelunasan utang suaminya yang telah mati.

Di sinilah letak kesederhanaan Marlina, menurut saya. Meski sadar akan hukum sehingga rela menempuh perjalanan jauh untuk melapor ke kantor polisi, sang tokoh utama tetaplah orang yang ”lugu”. Karena dia turut serta membawa kepala pimpinan perampok yang dia penggal sesaat setelah memperkosanya. Serta meracun empat perampok lain dengan perantara sop ayam.

“Ini tawanan saya,” kata Marlina saat ditanya Novi, temannya, soal kepala yang ditentengnya itu.

Begitu di kantor polisi untuk membuat laporan tentang perampokan dan pemerkosaan itu, Marlina baru sadar bahwa hukum tak pandang ”membunuh untuk membela diri”. Pembunuh tetap pembunuh, dan pelakunya harus dihukum.

Pada babak selanjutnya, Eric menyitir tulisan Maggie Lee, seorang kritikus, untuk majalah Variety. Di sini, Maggie mencoba menyandingkan Marlina dengan tokoh-tokoh koboi di film Barat. Ciri-cirinya, antara lain, absennya penegak hukum, perampok bergerombol, pembalasan dendam, dan tentu saja padang sabana, musik, dan kuda. Maggie menyebutnya satay Western.

Satay Western adalah istilah untuk upaya mengembalikan film untuk menjejakkan kaki di bumi Timur (baca: Indonesia) meski kental dengan aroma Western.

Pada babak terakhir, Eric melihat kentalnya kritik terhadap hukum dan birokrasi yang lelet. Hal itu tampak saat Marlina harus menunggu polisi bermain bola pingpong untuk bisa membuat laporan.

Begitu mendapat kesempatan untuk melapor, dia harus menunggu sebulan sampai alat untuk keperluan visum guna membuktikan dia diperkosa sampai. Sebagai bentuk perlawanan terhadap hukum yang seperti itu, Marlina dengan dibantu Novi yang sedang hamil 10 bulan akhirnya menuntaskan sendiri hukum itu. Novi memenggal kepala satu perampok yang tersisa saat memperkosa Marlina.

Rolling Stone, majalah terkemuka, menulis Marlina adalah simbol perlawanan. Ia membuktikan bahwa tak cukup waktu untuk hidup dalam ketakutan. Ia tak perlu menyerah dalam ketidakberdayaan.

Akar Ketimuran

Meski lekat dengan film koboi khas Barat, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak tetap berdiri di akar ketimuran, tepatnya budaya Sumba, Nusa Tenggara Timur. Hal itu tampak jelas pada logat dan bahasa yang dipakai, tradisi, pakaian, dan aksesori.

Kalung berbentuk rahim yang dipakai Marlina adalah simbol perempuan dari Sumba. Begitu juga kain ikat yang dipakai Marlina untuk memumikan mayat suaminya.

Dalam kepercayaan Marapu –agama atau kepercayaan masyarakat lokal Sumba– kain ikat yang diberi pewarna alami memiliki zat kimia yang bisa mengawetkan mayat. Posisi mayat yang didudukkan dan memegang dagu juga termasuk tradisi Marapu. Mayat juga tidak langsung dikubur.

Kepercayaan lain dari tanah Sumba adalah bayi sungsang, dalam hal ini dihantarkan oleh Novi yang hamil 10 bulan. Dalam tradisi setempat, ada kepercayaan bahwa bayi yang lama lahir berarti sungsang. Nah, ada kepercayaan bayi sungsang adalah akibat istri tidur dengan pria lain. Hal itulah yang membuat Novi ditinggal suaminya dalam keadaan hamil tua.

Dari serentetan kepahitan hidup janda Marlina yang sederhana –mungkin juga representasi kehidupan perempuan pada umumnya di wilayah timur Indonesia–, film ini diakhiri begitu manis dengan lahirnya anak Novi dan terbitnya matahari pagi di garis cakrawala sabana di tanah Sumba. Salut.

Jakarta, 2017

Advertisements

About this entry