Membongkar “Harta Karun” Friedrich Silaban, Sang Arsitek Masjid Istiqlal

FRIEDRICH Silaban. Barangkalai ada yang masih asing dengan nama itu. Namun, bagi Anda –khususnya orang Jakarta– yang pernah mengunjungi Masjid Istiqlal, beliau adalah arsitek masjid termegah di tanah air tersebut. Pada 7-24 November 2017, ”harta karun” Silaban dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta.

Begitu memasuki ruang pamer, pengunjung disuguhi ornamen dan interior minimalis yang artistik. Barang koleksi dan karya Silaban ditata sedemikian rupa hingga membuatnya seperti galeri seni, yang bernilai tinggi. Di ruang utama yang dominan berwarna putih, dipajang foto-foto pertemuan Silaban dengan tokoh-tokoh penting, termasuk Bung Karno. Ada pula buku catatan, artefak, hingga sketsa yang disimpan di balik kaca.

Di ruang pamer kedua, yang dominan dengan warna hitam, sketsa rancangan Silaban untuk Masjid Istiqlal dari beberapa sisi ditampilkan. Pembagian ruang antara hitam dan putih, menurut saya, tidak menyimbolkan apa-apa. Hanya bentuk artistik. Di situ pula terdapat quote Silaban tentang awal pembuatan Masjid Istiglal.

Quote-quote Silaban memang banyak menghiasi dinding ruang pamer. Ruang hitam dan putih, seakan menjadi kata pengantar pameran bertajuk Friedrich Silaban, Arsitek 1912-1984 itu. Ada pula foto besar dirinya bersama Presiden Sokarno. Senyum lebar mereka mencerminkan harapan masa depan yang cerah.

“Arsitektur kita membentuk diri kita. Saat kita memerlukan sesuatu untuk mengerti kembali ke–Indonesia–an kita, maka itu bisa dipelajari dari arsitektur kita,” kata Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Ahmad Djuhara dalam sambutannya sebagaimana ditulis di GNI.

Pameran ini dikonsep dalam lima fragmen. Fragmen pertama merupakan kisah sosok Silaban yang dibentuk dari latar belakang keluarga, pendidikan, pengalaman, dan peran yang diambil semasa hidupnya.

Kedua, interaksi Silaban dan Soekarno, termasuk yang memengaruhi rancangan maupun karya Silaban. Ketiga, rancangan Silaban, baik yang telah dibangun maupun yang tidak terbangun.

Keempat merupakan fragmen yang menggambarkan puncak karir Silaban, dalam hal ini difokuskan pada Masjid Istiqlal sebagai proyek monumental yang pembangunannya diselesaikan dalam waktu cukup panjang.

Fragmen terakhir menggambarkan dinamika dan kesulitan-kesulitan dalam bagian hidup Silaban setelah berakhirnya Orde Lama.

Dari Protestan untuk Islam

Pada tahun 1955, Preside Soekarno mengadakan sayembara membuat desain maket Masjid Istiqlal. Sebanyak 22 dari 30 arsitek lolos persyaratan.

Bung Karno sebagai ketua dewan juri mengumumkan Silaban dengan karya berjudul Ketuhanan sebagai pemegang sayembara itu. Karena itu, Bung Karno menjuluki Silaban sebagai By The Grace of God.

Terkait pembangunan Masjid Istiqlal, ada pernyataan Silaban yang juga ditulis dalam tembok pameran itu. Yaitu:

Pada 1961, penanaman tiang pancang baru dilakukan. Pembangunan baru selesai 17 tahun kemudian dan resmi digunakan sejak tanggal 22 Februari 1978.

Dikutip dari Kompas edisi 21 Februari 1978, enam tahun setelah Masjid Istiqlal selesai dibangun, Silaban mengatakan, “Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya.”

“Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid,” lanjutnya.

Hidup Silaban terbilang cemerlang dan gemilang. Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, dia hanya bersekolah di HIS Narumonda, Tapanuli, Sumatera Utara, dan Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik di Jakarta.

Penganut Kristen Protestan dan anak seorang pendeta miskin itu telah melahirkan berbagai bangunan modern pada masanya hingga kini menjadi bangunan bersejarah. Salah satu yang monumental tentu saja Masjid Istiglal.

Dari Protestan untuk Islam, dan persatuan. (*)

Jakarta, 2017

Advertisements

About this entry