Merangkum Sejarah Panjang Kita di Museum Bank Indonesia

CORAK bangunannya tampak sama dengan beberapa gedung di sampingnya. Bergaya neo-klasikal. Namun, begitu memasuki lobi, ada kemewahan yang menyambut. Dan tentu saja hawa dingin dari mesin pendingin ruangan. Cukup mengusir gerah di luar sana. Museum Bank Indonesia Jakarta tampak ramai siang itu.

Museum Bank Indonesia (BI) hanya satu di antara sekian banyak museum sejarah di Jakarta. Museum BI berdiri kukuh di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Begitu memasuki lobi utama Museum BI, terdapat kaca patri mozaik yang artistik. Kaca itu dibuat seniman Belanda bernama Ian Sihouten Frinsenhouf dengan total 1509 panel kaca patri.

Di museum ini, kita bisa mendapat informasi tentang peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa Barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953. Ada pula informasi tentang kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, yang meliputi latar belakang dan dampak kebijakannya bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005.

Museum BI sudah bisa disebut sebagai museum modern. Beberapa informasi dikemas dan disajikan dengan teknologi modern dan multimedia. Seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama. Pengunjung bisa menikmati sejarah dalam bentuk audiovisual di ruangan yang mengusung konsep seperti teater mini. Menjelajahi setiap sudut ruangan museum ini seakan memasuki Indonesia di masa lalu.

Selain mulimedia, museum ini menampilkan patung-patung yang menceritakan kegiatan perbankan pada zaman Belanda. Ada juga dermaga lama di bilik Batavia tempo doeloe. Lalu, khazanah numismatik, kursi koin, pintu baja, dan ruang numismatik. Karena namanya Museum BI, tentu di sini banyak koleksi uang dari zaman dulu.

Museum ini tak ketinggalan memajang foto atau gambar para penjelajah asing yang singgah di Nusantara. Tak sekadar singgah, mereka juga memberikan pengaruh pada kolonisasi di Nusantara. Sebut saja Marcopolo (Italia, 1254–1324), Laksamana Cheng Ho (1371–1436), Afonso d’Alburquerque (Portugis, 1453–1515), Cornelis de Houtman (Belanda, 1565–1599), dan Sir Henry Middleton (Inggris, 1604).

Nah, di tengah-tengah bangunan ini, terdapat taman atau tempat terbuka yang ditumbuhi beberapa pohon. Taman ini terlihat asri dan fotogenik. Namun sayang, tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan itu. Diperlukan izin khusus, kata penjaga di museum tersebut.

Namun, Anda tidak perlu kecewa. Sebab, di belakang gedung, terdapat taman yang bisa dikunjungi siapa saja. Di halaman belakang juga terdapat musala yang tak kalah bagus.

Secara garis besar, di Museum BI ada tujuh ruang utama. Antara lain, Ruang Playmotion untuk simulasi permainan menangkap bayangan koin yang jatuh untuk para pengunjung sebelum masuk. Ruang teater untuk menonton film sejarah kebijakan BI dari masa ke masa.

Kemudian, Ruang sejarah untuk memampang sejarah BI peranannya dalam sejarah bangsa. Setiap cerita dirangkai secara detail dengan dilengkapi  film pendek, patung, dan barang barang yang dulu digunakan. Ruang perenungan hijau dulu digunakan sebagai tempat para pimpinan merumuskan berbagai kebijakan.

Lalu, Ruang emas moneter merupakan tempat mas murni yang pada masanya pernah berfungsi sebagai penjamin uang yang beredar di Indonesia terseimpan. Di ruangan ini terdapat pula uang dari berbagai negara. Ruang numismatik berisi koleksi uang yang beredar di Nusantara mulai dari berbagai bentuk dan jenis uang dari zaman kerajaan Hindu Budha, kerajaan Islam, kolonial hingga uang pasca kemerdekaan dan uang mancanegara. (*)

Jakarta, 2016

Advertisements

About this entry