Museum Nasional, Cermin Peradaban Indonesia

MESKI terdapat patung gajah di depan gedung ini, percayalah bahwa ini bukan kebun binatang. Karena itu, Anda juga tidak akan menemukan tunggangan gajah atau tidak bisa memberi makan gajah. Namun, dari patung itu, tercetuslah nama Museum Gajah. Letaknya di Jalan Medan Merdeka Barat, Nomor 12, persis seberang Tugu Monas, Jakarta Pusat.

Museum Gajah adalah nama beken dari Museum Nasional Indonesia. Patung gajah kecil dari perunggu itu merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Raja Rama V) –Raja Siam– untuk pemerintahan Kota Batavia. Patung itu adalah cenderamata saat sang raja berkunjung ke Batavia pada tahun 1871.

Selain patung gajah, di depan gedung baru Museum Gajah, berdiri gagah seni berjudul Ku Yakin Sampai di Sana karya Nyoman Nuarta. Karya Nuarta telah menghiasi banyak kota. Karya lain Nuarta yang mempercantik Jakarta adalah Patung Arjuna Wijaya di dekat Monas.

Dari luar, Kompleks Museum Gajah terlihat sangat megah, dengan gaya klasisisme. Aliran klasisisme muncul di Eropa sekitar tahun 3000 SM sampai abad ke-17 dan ke-18. Bangunan bergaya klasisisme tersebar di Eropa, dan Indonsia pada masa kolonial. Aliran ini biasanya mengacu pada Romawi dan Yunani.

Karena itu, tidak heran jika tampak pilar-pilar silinder besar pada konstruksi bangunan depan Museum Gajah, terutama di Taman Arkeologi di bagian dalam gedung. Berbagai arca yang dikumpulkan dari Jawa, Bali, hingga Sumatera dan Kalimantan tertata rapi di area taman tersebut.

Museum ini menyimpan banyak koleksi benda kuno dari seluruh Nusantara. Antara lain, arca-arca kuno, prasasti, dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasi dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga. Pada 2006, total koleksi Museum Gajah mencapai 140.000 buah buah.

Karena koleksinya begitu banyak, Museum Gajah disebut sebagai yang terlengkap di Indonesia. Namun, di antara jumlah itu, yang bisa dilihat pengunjung hanya sepertiganya. Termasuk kerajinan tekstil, keramik, nekara, miniatur rumah adat, hingga kerajinan dari perunggu.

Menurut saya, yang paling menarik di museum ini adalah ruang etnografi. Bisa dibilang, ruangan ini adalah miniatur budaya Indonesia yang begitu beragam. Di sini terdapat kerajinan dan benda-benda yang berkaitan dengan adat suku tertentu. Yang paling mencolok adalah seperengkat gamelan serta wayang dari Jawa dan Bali.

Secara garis besar, Museum Nasional terdiri atas dua bangunan. Yakni, bangunan A yang merupakan bangunan asli dan berdiri sejak 377 tahun lalu. Yang kedua adalah bangunan B yang baru diresmikan pada 2007. Di gedung A, dipamerkan barang-barang sejarah, prasejarah, arkeologi Hindu dan Buddha.

Lalu, di gedung B, isinya lebih lengkap. Ada ruang pameran tetap, auditorium, pameran khusus temporer, ruang pameran tetap empat lantai. Selain itu, ruang manusia lingkungan, ilmu pengetahuan teknologi dan sistem ekonomi, organisasi sosial dan pola lingkungan, serta ruang khasanah untuk keramik dan emas. (*)

Jakarta, 2016

Advertisements

About this entry