Ketika PAYUNG Tak Lagi TEDUH (?)

KONTROVERSIAL dan angkuh. Mungkin itulah gambaran yang disematkan beberapa orang kepada Is alias Mohammad Istiqamah Djamad, ”mantan” vokalis Payung Teduh. Wajar karena mungkin dia pernah menegur penonton yang ngerumpi saat konser serta mencurahkan kegerahannya lantaran ada artis yang meng-cover dan mengomerisalkan lagunya.

Namun, di balik tampang yang sangar dan tingkah yang sedikit gahar di atas, Is adalah napas utama dalam lagu-lagu cinta Payung Teduh yang bisa membuat hati perempuan meleleh. Kontras.

Sejak 2007 Payung Teduh memberikan keteduhan bagi para insan yang sedang jatuh cinta, menanti cinta, atau juga putus cinta. Lagu-lagu Payung Teduh yang memang kebanyakan diciptakan Is memang cocok di segala suasana.

Yang sedang galau mungkin akan memilih Resah. Kata Aziz Kariko atau “Comi”, satu personel Payung Teduh, lagu Resah sebenarnya bercerita tentang kematian. Galau nggak tuh! Yang lagi mencari pacar mungkin bisa mendengarkan lagu Kucari Kamu, setelah dapat pacar ganti ke lagu Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan atau Berdua Saja.

Begitu sudah nyaman dan yakin, di-Akad-in aja. Lagu yang dirilis setelah Lebaran 2017. ”Habis Lebaran, ya udah Akad. Insya Allah orang rame nikah,” kata Is perihal Akad sebagai single album ketiga Payung Teduh dalam wawancara di kanal Beritagar ID.

Akad pun seakan menjadi lagu wajib untuk meminang kekasih. Kalau diterima bisa menikmati lagu Tidurlah bersama. Tapi, kalau ditolak, kembali lagi deh ke Resah. Itu namanya hidup.

Ya, ibarat toko serba-ada, Payung Teduh punya lagu-lagu berkualitas yang bisa dipilih sesuai kondisi dan situasi. Namun, yang pasti, hampir semua lagu Payung Teduh pas sebagai teman ngopi, kala hujan berguguran di luaran sana. Teduh.

Terkhusus Akad, lagu ini memang booming tahun ini. Cover-an Akad pun bertebaran di YouTube. Bahkan, ada artis alumnus ajang pencarian bakat yang mendulang rupiah dari meng-cover Akad. Parahnya, cover-an Akad mampang di iTunes tanpa izin empunya yang asli sebelum akhirnya di-takedown setelah diprotes Is. Kelas.

Komentarnya pun menuai pro-kontra.

“Kalau nggak ada kasus ini, saya nggak tahu kalau semua cover itu ilegal, bahkan di YouTube,” tegas Is.

Tak lama setelah itu, Is menyampaikan pamit kepada Payung Teduh dan fans. Kepergian Is banyak dikaitkan dengan perkara cover-cover-an tadi. Ada juga yang mengatakan Is pamit karena tidak cocok lagi dengan rekan-rekannya, Alejandro Saksakame, Comi Aziz Kariko, dan Ivan Penwyn.

Namun, terlepas dari segala prasangka itu, ternyata ada yang lebih substansial di balik kepergian Is. Orang menyebutnya idealisme.

Bagi Is, Payung Teduh sudah dieksploitasi demi keuntungan ekonomi semata. Sebagai manusia, Is tidak munafik. Uang dan popularitas memang penting, tetapi tidak yang paling penting. Seiring dengan meningkatnya popularitas, jadwal manggung semakin tak terbendung. Itulah memang tujuan setiap musisi. Terkenal dan banyak uang.

Enak memang. Namun, Is lelah dengan semua itu. Dan lagi-lagi itu karena idealismenya merasa diusik. Semangat awal didirikannya Payung Teduh sebagai ”musisi jalanan” yang sosialis semakin tergerus.

”Main musik bagi saya nggak melulu begini (tentang popularitas), tapi lebih ke produksi karya. Sementara Payung Teduh semakin tereksploitasi gila-gilaan. Dan itu membuat saya lelah.”

— Is —

Is menjelaskan, Payung Teduh awalnya memilih jalan sendiri (indie) agar bisa mengatur sendiri semangat, kreativitas, dan spirit. Industri musik membuat pria kelahiran Makassar, 24 Januari 1984, itu lelah. Semangatnya adalah membawa musik kembali ke rumahnya, nature.

Dia ingin kembali bermusik dengan siapa saja dan kapan saja, tanpa terkekang jadwal dan pemodal. Dia ingin mengembalikan fungsi sosial dan jati diri Payung Teduh. Menghibur anak-anak di lokasi bencana, menggalang donasi, dengan lagu. Semua diatur sendiri. Bermusik untuk kemanusiaan. Hal-hal itu tak bisa didapat lagi di entertainment industry atau show business. 

Serupa nakhoda, Is membawa kapal berlayar hingga memasuki zona popularitas dengan bergelimang uang dan kemapanan, namun melenceng dari peta rencana. Ketika tersadar dan ingin mengembalikan kapal ke ”jalan yang benar”, sang nakhoda tak kuasa. Maka, ia memilih turun di pulau terdekat dan membiarkan kapal itu melanjutkan pelayaran dengan nakhoda baru.

“Ini bukan tentang permusuhan atau nggak cocok lagi. Tapi lebih ke, secara musical journey udah enough with this.”

— Is —

Berhenti di tengah menanjaknya popularitas tentu tidak mudah bagi seorang musisi. Namun, Is memiliki pilihan sendiri. Bagi dia, idealisme tidak bisa ditukar dengan popularitas dan hedonisme. Tentu tidak banyak musisi yang berani mengambil jalan seperti Is.

Pria 33 tahun itu memang masih bernaung di bawah Payung Teduh sampai kontraknya habis akhir tahun ini. Namun, setelah itu, dia akan kembali menjadi burung yang mengepakkan sayap selebar-lebarnya, bersama alam bebas.

“Prestasi itu, kalau menurut saya, sebuah hal yang menunjukkan kualitas hidupnya semakin naik dan apa yang dilakukan semakin berguna.”

– Is —

 

Pada akhirnya, tanpa Is, akankah Payung Teduh tetap teduh?

Jakarta, 2017

Advertisements

About this entry