Merayakan Tahun Baru 2019 di Pantai Pasir Perawan, Pulau Pari

PADA hari kedua di Pulau Pari, setelah puas bermain dan bermalam di Pantai Bintang, kami bergeser. Pindah tempat. Kami ingin menghabiskan waktu dan merayakan pergantian tahun di tempat wisata yang menjadi primadona pulau ini. Yap, Pantai Pasir Perawan.

Sebagaimana saat menuju Pantai Bintang, kami juga berjalan kaki ke Pantai Pasir Perawan. Di sisi timur pulau. Waktu yang kami butuhkan sekitar 20 menit atau sekitar 10 menit dari Dermaga Pulau Pari.

Pantai ini menyajikan hamparan pasir putih yang bersih dan air yang cukup jerih. Kebersihan pantai ini sangat terjaga. Yang unik dari pantai ini, kita bisa menemukan gundukan pasir yang dikelilingi air laut. Di situ kita bisa bersantai di gazebo, bermain ayunan, atau berkeliling di antara pohon-pohon bakau saat air laut surut.

Untuk masuk ke pantai ini, pengunjung cukup membayar retribusi Rp 5.000. Bagi yang ingin camping seperti kami, biayanya sama dengan Pantai Bintang. Yaitu Rp 15.000 per orang. Di pantai ini sudah disediakan area untuk mendirikan tenda atau camping ground. Posisinya di sebelah kanan ketika kita mulai memasuki area pantai. Di antara pokok-pokok pohon rimbun.

Selain terkenal dengan keindahannya, Pantai Pasir Perawan juga memiliki sejarah atau mitos. Konon, dahulu kala, ada seorang gadis kecil yang menghilang di pantai tersebut. Hingga kini, gadis itu belum ditemukan. Ada yang menyebut gadis itu hilang dibawa burung gagak raksasa. Ada juga yang bilang gadis itu lenyap dibawa makhluk halus. Masih perawan.

Ya, namanya juga mitos. Boleh percaya, boleh tidak.

Pantai yang pertama kali dibuka pada akhir 2010 ini masih dikelola warga setempat secara swadaya. Meski dikelola sendiri oleh warga, fasilitas di pantai ini bisa dibilang lengkap. Di sepanjang pinggir pantai sudah banyak warung yang menjajakan makanan hingga suvenir.

Untuk toilet, kita diharuskan membayar Rp 2.000 untuk buang air kecil/besar dan Rp 5.000 untuk mandi. Sebagaimana di Pantai Bintang, air toilet di Pantai Pasir Perawan berasa payau. Bahkan terkadang berasa asin.

Di pantai ini, kita bisa berenang dengan aman karena ombaknya tidak besar. Pasirnya juga tidak berkarang. Kita bisa juga menyewa banana boat atau menikmati keindahan bawah laut dengan snorkeling. Pelancong pun bisa keliling hutan mangrove dengan menyewa kapal nelayan.

Saat ke pantai ini, kami hanya meniatkan untuk menikmati pantai, ikut merayakan pergantian tahun bersama pengunjung lain dan warga setempat, serta bermalam di tenda. Pada malam kedua di pulau, hujan mengguyur ramah. Mata masih bisa terlelap nyenyak.

Inilah cara kami menikmati liburan yang sederhana tapi istimewa. (*)

Pantai Pasir Perawan, Pulau Pari, 31 Desember 2018-1 Januari 2019

 

budiawanagus.wixsite.com/mysite

Advertisements

About this entry