Gunung Lawu, Pendakian yang Belum Usai

BERAWAL dari keinginan yang kuat untuk segera melakukan pendakian, musim hujan pun tidak kami pedulikan. Awal Desember 2018 kami sudah memesan tiket kereta untuk pendakian tanggal 15-17 Januari 2019. Dari Stasiun Senen ke Solo Jebres. Tujuan awal kami adalah Gunung Merbabu via Gancik, Selo.

Namun, akhir Desember sampai awal Januari 2019 kami dibuat galau. Musim sedang pilek. Gunung-gunung diselimuti kabut tebal dan angin badai. Merbabu dan beberapa gunung lain pun ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan.

Kami pun harus mencari gunung alternatif. Pilihan jatuh pada Gunung Lawu yang bisa ditempuh sekitar 2 jam dari Solo Jebres. Sebentar lega, kabar buruk datang lagi. Semua jalur pendakian Lawu ditutup karena akhir Desember seorang pendaki hilang di gunung setinggi 3.265 mdl itu.

Sebelum hari keberangkatan, kabar baik datang. Jalur pendakian Lawu resmi dibuka. Kami pun memantapkan niat. Mendaki Lawu via Candi Ceto. Pagi tanggal 15 Januari, kami memulai pendakian. Setelah mengisi data diri dan membayar biaya Rp 15 ribu per orang, kami memulai pendakian.

Jika dibandingkan dengan jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang, jalur Candi Ceto dikenal memiliki view yang indah. Itulah alasan kami memilih jalur Candi Ceto.

Tanggal 15 Januari 2019 kami memulai pendakian. Saat menuju pos perizinan, kami melewati beberapa anak tangga untuk akses menuju Candi Ceto. Setelah beberapa meter meninggalkan pos perizinan, kami disambut Candi Kethek. Setelah itu, pendakian sudah benar-benar dimulai.

Perjalanan dari pos perizinan menuju Pos 1 (Mbah Ranti/1.600 mdpl) normal-normal saja. Kami tempuh sekitar 1 jam. Trek belum terlalu menyiksa, apalagi tenaga masih bisa dibilang full.

Jalur dari Pos 1 menuju Pos 2 (Brakseng/2.250 mdpl) tetap menanjak, bahkan minim trek bonus. Hanya, cuaca yang mendung ditambah rerimbun vegetasi membuat perjalanan kami tidak terlalu sulit. Kami membutuhkan waktu satu jam lebih untuk mencapai Pos Brakseng.

Setelah beristirahat di Pos 2 untuk mengembalikan tenaga, kami harus bersiap menempuh trek yang agak panjang untuk menuju Pos 3 (Comoro Dowo). Di sini motivasi kami semakin bertambah. Karena di Pos 3 ada sumber air yang berlimpah.

Setelah 2 jam perjalanan, kami pun sampai di pos sumber air tersebut. Kami menambah persediaan air untuk melanjutkan pendakian. Yang pasti, kami menyisakan sedikit waktu untuk beristirahat sambil menikmati perbekalan yang ada.

Tidak lama kemudian, kami melanjutkan perjalanan. Boto-botol yang mulai berkurang isinya mulai penuh lagi. Otomatis beban di punggung bertambah kembali. Namun, itu tidak menyurutkan semangat kami untuk terus menanjak.

Misi untuk mencapai Pos 4 (Penggik/Ondorante, 2.500 mdpl) dimulai. Awalnya, perjalanan lancar-lancar saja. Namun, belum sampai setengah jalan, hujan mengguyur. Ya, inilah risiko mendaki pada musim hujan seperti sekarang. Jaur pendakian yang berupa tanah menjadi licin. Dan percayalah, mendaki di trek yang licin bisa menguras tenaga berkali-kali lipat. Estimasi waktu 2 jam menuju Pos 4 pun molor berjam-jam.

Di tengah jalan kami harus membongkar kompor dan nesting. Masak mi instan. Kami harus mengisi perut yang kosong. Kalau tidak begitu, terpaan angin kencang saat perut kosong akan menumbangkanmu.

Setelah makan beberapa sendok mi instan, kami kembali melangkahkan kaki. Tertatih-tatih. Napas tersengal-sengal. Habis isya kami baru sampai di Pos 4. Kami pun mendirikan tenda di bawah gerimis malam di Gunung Lawu. Malam itu, hujan terus mengguyur sampai pagi tanggal 17 Januari 2019.

Musuh utama pendaki adalah mager, males gerak. Beranjak dari tenda terasa begitu berat. Apalagi di luar hujan terus turun. Angin berdesir kencang. Hawa dingin menjelma seperti teror hingga membuat kami hanya ingin bersembunyi di kehangatan sleeping bag, di dalam tenda, kembali tidur.

Kami pun diombang-ambing kebimbangan. Antara membongkar tenda untuk melanjutkan pendakian, tetap tidur sampai esok kembali turun, atau meninggalkan tenda dan melipir ke puncak dengan satu daypack. Opsi yang terakhirlah yang kami pilih.

Setelah makan, habis duhur, kami baru naik menuju Pos 5 (Bulak Peperangan). Trek yang licin sehabis diguyur hujan semalaman hingga siang menghambat laju kami melambat. Sepanjang perjalanan, angin kencang dan gerimis menemani. Tenaga pun semakin cepat terkuras.

Setelah melewati punggungan, kami sampai di Pos 5. Jalur di pos ini merupakan area terbuka dengan hamparan sabana yang dikelilingi pohon-pohon pinus. Setelah beristirahat sebentar dan foto-foto di pos dengan ketinggian 2.850 mdpl ini, kami melanjutkan niat untuk menuju puncak dan mampir sebentar di warung legendaris Mbok Yem di Hargo Dalem.

Namun, begitu tiba di Gupak Menjangan, saat kami berusaha mencari sumber air berupa kubangan, badai menerjang. Kabut tebal seperti tembok putih seperti bangkit dari tanah.

Kami pun menyiapkan beberapa botol kosong untuk mengambil air di kubangan Gupak Menjangan. Sayang, air di sana keruh. Niat mengambil air pun kami urungkan. Setelah turun, kami baru tahu bahwa di samping kubangan itu ada cekungan yang airnya bersih. Namun, saat itu kami tidak bisa melihatnya karena kabut begitu tebal.

Karena kabut semakin tebal dan badai semakin menggila, kami pun membatalkan niat untuk mendaki ke puncak Hargo Dumila hari itu. Apalagi, tanpa kami sadari, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 3 sore lebih. Belum lagi esok paginya kami harus turun untuk kembali ke Jakarta sore harinya.

Kami balik kanan, kembali berjalan menuju Pos 4 di mana tenda kami masih berdiri. Kami tidak menyesal gagal mencicipi nasi pecel di warung khas Mbok Yem. Kami tidak sedih gagal mencapai puncak Hargo Dumilah. Tak lari ke mana gunung dikejar.

Nanti kami akan kembali. (*)

Jakarta-Karanganyar, 14-18 Januari 2019

 

budiawanagus.wixsite.com/mysite

Advertisements

About this entry