Mendaki Gunung Pangrango seperti Menjemput Kekasih yang Lama Menanti

JARAK antara Bogor dan Jakarta tidak terpaut jauh. Hanya tiga atau empat jam. Tapi, saya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk kembali menapakkan jejak kaki di belantara Gunung Gede-Pangrango. Dulu, Gede tujuan saya. Kali ini giliran Pangrango.

Saya pun teringat kembali pada keinginan yang lalu. Dulu, Pangrango adalah gunung yang paling ingin saya daki setelah Gunung Semeru. Jauh ke belakang. Saat saya masih menetap di Surabaya. Sekira tahun 2009.

Ada yang ingin saya ziarahi. Titik penyatuan diri Soe Hok Gie dan Lembah Kasih, Mandalawangi. Di puncak Pangrango sana. Soal ini akan saya bahas di tulisan lain.

Dengan alasan itu, maka –bagi saya– mendaki Pangrango seperti menjemput kekasih yang lama menunggu. Membutuhkan banyak waktu dan usaha yang tidak pernah mudah.

Trek Cibodas masih sama. Bebatuan sepanjang jalan. Baru terputus di jalur persimpangan. Antara Gede dan Pangrango.

Kali ini, pendakian terasa spesial. Setelah Lawu. Saya mendaki bersama istri. Dulu, ada yang pernah bilang, selagi lajang puas-puaskan bertualang. Karena kelak kalau sudah menikah, duniamu akan menjadi terbatasi. Sempit. Mungkin itu berlaku untuk sebagian orang. Atau banyak orang. Saya turut prihatin untuk itu. Tapi bukan untuk saya.

Karena saya bukan termasuk golongan yang tadi. Alhamdulillah, saya dihadiahi-Nya istri, sekaligus partner mendaki. Gunung Lawu adalah pendakian pertama saya bersama istri. Setelah itu, dia ingin mendaki lagi dan lagi.

Pangrango tujuan kami kali ini. Saya sudah mafhum dengan trek berbatu via Cibodas. Sedangkan bagi istri ini pertama kali. Ada lelah, selebihnya bahagia.

Batu demi batu kami tapaki. Berjam-jam. Melewati jembatan kayu (sebenarnya beton) yang terasa lega. Terbujur kaku. Di atas bentang rawa-rawa.

Pendakian via jalur ini memang spesial. Setelah itu, langkah kaki akan ditemani gemuruh air terjun dari kejauhan. Juga gemericik aliran sungai di sepanjang jalan. Ada juga suguhan jalur yang menantang. Cipanas. Aliran air panas dari tebing di sisi jalan, melimpas ke jurang di sisi yang lain, seakan menciutkan nyali.

Tapi perjalanan harus berlanjut. Tapak kaki harus berpijak di batu yang tepat. Agar tak terjerembap. Terpeleset. Tangan menggenggam erat tali di sisi jalan. Sambil menyeimbangkan diri dengan beban keril di punggung. Sip. Jalur primadona via Cibodas itu terlalui.

Selebihnya kami harus terus berjalan. Di atas trek berbatu. Dengan sesekali istirahat, termasuk bermalam, pos demi pos terlewati. Hingga menyisakan dua pos lagi. Kandang Batu dan Kandang Badak. Sebelum kaki mengambil langkah kanan di pertigaan. Menuju Pangrango.

Yang membentang kini seperti lorong lain. Beralas tanah. Di rerimbun pohon. Seperti memasuki hutan yang jarang dijamah. Pohon-pohon besar tumbang. Silang sengkarut. Memperberat langkah kami. Ditambah jalur menanjak dan licin. Kami merangkak, melompat.

Di kanan kiri, bunga-bunga bermekaran. Anggrek hutan tumbuh di batang-batang berlumut tebal. Menandakan tak banyak sinar matahari yang menembus rimbun dahan. Ini jalur pendakian paling eksotis, menurut saya.

Tapi, untuk menikmati keindahan ini, kami harus berusaha lebih keras. Merangkak. Merayap. Kaki diajak bekerja lebih ekstra.

Mental dan tenaga benar-benar diuji. Di situ kami bisa menemukan karakter diri. Bukan untuk menantang alam. Tapi lebih pada mengukur kekuatan diri sendiri.

Trek menuju titik puncak semakin menanjak. Hawa dingin seakan tak bisa membendung keringat yang menyembul dari pori-pori.

Usaha sekeras itu terbayar lunas saat mata menatap sebuah tugu dari jarak tak begitu jauh. Tugu puncak Pangrango. Meringkuk di antara rimbun pohon. Di ketinggian 3.019 meter di atas permukaan laut.

Kami menghela napas. Puas. Lelah terbayar lunas.

Namun, keindahan Pangrango tidak terbatas di situ. Bahkan, ada yang lebih menyejukkan mata. Di sisi yang cukup tersembunyi. Tidak jauh dari tugu. Sekitar lima menit. Sedikit menurun. Lembah Kasih Mandalawangi. Tujuan utama saya. Seakan merentangkan tangannya. Siap menyambut siapa saja yang menjenguknya.

Saya tentu saja bahagia.

Di sepanjang mata memandang, pohon edelweiss tumbuh di mana-mana. Bulan ini, bunga abadi itu sedang cantik-cantiknya. Saya pun mencari plakat untuk mengenang Gie. Ketemu. Namun sayang. Plakat itu sudah hancur. Entah karena tangan usil pendaki atau karena alam. Hanya tersisa dua keping pecahan marmer. Nama Gie ikut dalam bagian yang hilang.

Tak apalah. Yang penting rindu itu telah tertunaikan. Menapakkan kaki di pucak Pangrango. Di pelukan Lembah Kasih, Mandalawangi. (*)

 

Gunung Pangrango, 19-23 Juli 2019

Advertisements

About this entry