Menziarahi Tiga Pusara Soe Hok Gie

DULU, sebagai mahasiswa yang masih labil dan sedang menggandrungi buku-buku sejarah –terutama tentang masa Orde Lama dan Orde Baru– saya tertarik pada yang “kiri-kiri”. Alih-alih membaca buku-buku dari sejarawan, saya lebih memilih membaca karya-karya sastrawan. Membaca buku yang riil buku sejarah cukup membosankan.

Saya pun memilih novel sejarah. Untuk referensi tambahan, saya biasa buka Google. Atau kalau terpaksa buka buku sejarahnya.

Saya pun mulai akrab dengan buku-buka dari penulis yang dicap “kiri”. Sebut saja yang fenomenal macam Pramoedya Ananta Toer (masa sebelum merdeka) di ranah roman, Thukul (masa Orde Baru) di ruang puisi, dan sedikit melebar ke ranah kritik-puisi dari Soe Hok Gie (antara Orde Lama dan Orde Baru).

Nama terakhir kemudian membuat saya menemukan paket lengkap: aktivis, penyair, plus pencinta alam. Kali ini saya hanya membahas itu. Sedikit saja.

Saya membaca tulisan-tulisan Gie, sajak-sajak cintanya, dan tentu saja menonton filmnya. Namun, saat itu, ketika masih kuliah, belum ada keinginan untuk mendaki gunung seperti yang dilakukan Gie. Apalagi menapaktilasi tempat Gie wafat di puncak tertinggi Jawa sana.

Keinginan itu baru muncul setelah saya menyelesaikan kuliah. Keinginan untuk menziarahi tiga “pusara” Gie. Yang pertama di puncak Semeru. Kemudian Taman Prasasti Jakarta. Dan yang terakhir di Gunung Pangrango, Bogor.

Sebagai sarjana muda yang lelah tak dapat kerja, saya mulai mengumpulkan tekad untuk berziarah ke tiga tempat itu. Namun, sebagai pengangguran, mendatangi tiga tempat di tiga provinsi itu tentu tidak mudah. Dan yang pasti tidak murah.

Dengan sisa tabungan semasa kuliah, saya ziarah ke tempat yang pertama. Mahameru di Gunung Semeru. Saat itu medio 2012. Dari Surabaya menuju Tumpang, Malang, saya lupa naik apa. Seingat saya; antara motor dan angkot.

Dari Tumpang, saya –bersama tiga teman lain– menumpang truk pupuk/sayur ke pos perizinan pendakian Ranu Pani. Saat itu, pendaki masih bisa nebeng naik truk dengan membayar Rp 30 ribu per orang (tapi tergantung ada berapa orang yang naik pada saat itu).

Truk-truk itu biasanya naik ke Ranu Pani dengan membawa pendaki, turun membawa sayur atau pupuk kandang. Di atas bak biasa ditutup terpal. Saat itu mungkin lagi apes. Pendaki sepi. Biayanya tentu semakin mahal per orangnya. Cuma kami berempat. Saat itu kami hampir batal naik.

Namun, pemilik truk sepertinya kasihan kepada kami. Sudah jauh-jauh dari Surabaya. Dan tak punya uang lebih. Hanya sisa yang untuk pulang. Kami per orang pun hanya perlu membayar Rp 50 ribu.

Jadilah kami berempat naik truk campur dengan berkarung-karung pupuk kandang. Bau memang. Tapi, daripada balik kucing. Kami jabani.

Sampailah kami di Ranu Pani. Mendaki Semeru. Di puncak tertinggi Jawa sana, di tanah berdebu, di antara batu-batu kerikil. Plakat in memoriam Gie (dan Idam Lubis) diam membisu. Menyimpan sejarah pilu itu.

Di seberangnya, kubah lava Jonggring Saloko memuntahkan asap beracun hampir setiap 15-20 menit sekali. Racun asap itulah yang konon terhirup oleh Gie hingga ia mengembuskan napas terakhir. Pada 16 Desember 1969. Beralas pasir kerikil Semeru. Beratap langit Jawa. Kini, plakat itu tak ada lagi di tempatnya semula. Sudah diturunkan dari Mahameru.

Lama sejak saat itu, keinginan untuk berziarah ke pusara kedua terabaikan. Jarak dan biaya menjadi alasannya. Sampai kemudian saya mendapat kesempatan untuk bekerja di Jakarta. Dengan pertimbangan matang, saya mengambil kesempatan itu. Saya pergi dan tinggal di Jakarta. Medio 2014.

Jadilah saya menziarahi pusara kedua Gie. Di Museum Prasasti Jakarta. Di antara batu-batu nisan dan puluhan prasasti, nama Gie terukir di sebuah marmer. Dengan patung malaikat kecil yang selalu mendoakannya. Di bawah pengayoman rimbun pohon.

Menurut cerita, setelah dievakuasi dari Semeru, jasad Gie dikebumikan di Menteng Pulo. Namun, pada 24 Desember 1969, jenazahnya dipindahkan ke Perkuburan Kober, Tanah Abang, agar dekat dengan makam ibunya.

Karena ada proyek pembangunan prasasti, makam Gie terpaksa digusur. Keluarga dan kawan-kawan Gie pun sepakat untuk menumbuk tulang-belulang Gie dan kemudian di sebar di antara bunga-bunga edelweiss di Lembah Mandalawangi, Pangrango. Di situlah biasanya Gie merenung seperti sebuah patung.

Sebagai bentuk penghormatan, Gie dibuatkan plakat prasasti. Dan ditempatkan di Museum Prasasti hingga kini. Setiap 15 Desember, selalu ada orang yang menyematkan bunga di pusaranya itu. Gie berulang tahun setiap tanggal itu.

Setelah hampir 10 tahun sejak pendakian Semeru pertama saya, kesempatan itu baru datang. Berziarah ke pusara terakhir Gie. Di puncak Pangrango. Di Lembah Kasih, Mandalawangi.

Itulah tempat favorit Gie semasa hidup. Untuk menyendiri. Berkarib dengan alam. Di situlah serpihan tulang-belulang Gie ditebar. Menyatu bersama alam.

Sayang, plakat in memoriam Gie di sana sudah tak utuh lagi. Hancur. Hanya tersisa dua pecahan marmer dengan kata yang tak terbaca lengkap. Marmer dengan nama Gie hilang entah ke mana. Entah itu hancur karena ulah manusia atau alam yang kadang susah diterka. Saya curiga karena ulah yang pertama.

Tak apalah. Orang besar tak butuh apa-apa selain dikenang warisannya. Buah pikirannya. Dan tentu saja karya-karyanya. Puisi-puisinya abadi di Lembah Kasih, Mandalawangi. (*)

 

Surabaya-Jakarta, 22 Oktober 2012-21 Juli 2019

Advertisements

About this entry