Cerpen

“Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya.”

— Seno Gumira Ajidarma, Linguae, Linguae.

Seno bisa disebut sebagai salah satu cerpenis yang begitu jago mengolah kata-kata biasa menjadi sebaris kalimat yang begitu dalam, romantis, dan tidak jarang satire. Saya menikmati banyak cerita Seno baik yang tersebar di media massa, situs online, maupun yang termaktub dalam sebuah kumpulan cerpen.

Siapa yang tidak merona pipinya saat membaca Sepotong Senja untuk Pacarku? Atau yang kemudian diteror kegetiran dalam Cinta di Atas Perahu Cadik. Kita juga akan disuguhi kebinalan dan sifat dasar lelaki yang mata keranjang terhadap perempuan dalam kisah –yang sama sebut mirip– stensilan Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

Ya, saya memang menikmati cerita-cerita Seno. Tetapi, bukan Seno yang akhirnya membuat saya tertarik untuk belajar menulis cerpen. Saya tidak begitu ingat buka apa yang pertama saya beli. Namun, dalam suatu waktu, saya berjalan-jalan ke toko buku. Tentu saja tempat pertama yang saya cari adalah rak buku sastra.

Di antara karya-karya ber-cover gaya pop yang kaya warna dan corak, saya tertarik pada sebuah buku dengan cover sederhana, minimalis. Hanya perpaduan warna cokelat dan hitam. Cokelat sebagai warna dasar, sementara hitam untuk mempertegas judul karya dan sesosok perempuan bersayap.

Potongan Cerita di Kartu Pos karya Agus Noor.

Membuka dan membaca cerita demi cerita, halaman demi halaman, saya semakin tertarik dengan Potongan Cerita di Kartu Pos. Jika Seno menyuguhkan kisah yang cenderung melankolis, Agus Noor berbeda. Selain ceritanya, kesan-pesan dari sahabat lewat kartu pos dipasang sebagai pembuka awal kisah. Manurut saya, hal itu termasuk baru dalam format buku kumpulan cerpen.

Dalam Potongan Cerita di Kartu Pos Dia menyajikan dunia fiksi dalam fiksa. Maksud saya, dia memanjakan imajinasinya –juga imajinasi pembaca dengan gaya penulisannya yang surealis. Ini hanya salah satu teknik Agus Noor. Dalam esainya, Satmoko Budi Santosa menulis:

Teknik penceritaan yang tak lazim semacam ini, jelas menuntut kejelian dan ketangkasan penguasaan alur. Dan, saya kira, sebagai pengarang, Agus Noor telah berhasil membangun irama keterkejutan kepada pembaca: teknik penceritaan yang dipaparkannya berhasil mengguncang-guncang ketegangan.

Teknik penceritaan menarik lainnya ada pada cerpen yang berjudul Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos. Cerpen ini menceritakan bahwa seorang tokoh telah mendapatkan beberapa kiriman kartu pos. Dan, seorang tokoh tersebut mendapatkan kartu-kartu pos yang ternyata bersambung. Setiap kartu pos memuat potongan cerita yang akan dilanjutkan pada kartu pos berikutnya. Tentu saja, dari segi teknik penceritaan bisalah disebut bahwa teknik semacam itu adalah model cerita berbingkai dengan media berupa kartu pos.

Masih banyak hal yang bisa digali dan dipelajari dari teknik bercerita Agus Noor. Hanya, di sisi saya tidak berfokus ke arah itu. Saya hanya sedikit mengulas awal saya mulai tertarik menulis kisah dalam catatan-catatan yang kemudian disebut cerpen.

Menulis cerpen bagi saya, adalah proses mencari dan menunggu. Jika suatu hari saya sudah berhenti menulis, maka di situ bisa dipastikan saya sudah menemukan apa yang selama ini saya cari dan kedatangan seseorang yang selama ini saya tunggu. (*)

Kumpulan Cerpen:



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow agusbudiawan on WordPress.com

Instagram

pantai pasir hitam
.
.
.
#sea #sky #clouds #blue #nature #trip #onedaytrip #photography #bekasi #indonesia

“Life is the art of drawing without an eraser,” — John W. Gardner

SISI BIRU…

kita pernah berbicara tentang Jakarta kota dengan seribu wajah dan kita pun bersepakat membicarakan Jakarta adalah membicarakan wajah-wajah sunyi tapi, jika kau lihat Jakarta sore itu ia seperti gadis lugu tersipu malu (27 Oktober 2013)

PHOTOGRAPHY

Demonstrasi 4 November 2016 (4/11)

Gunung Merbabu, 01 ‎Agustus ‎2015

FRAGMEN IV

aku tak ingin melukis mercu
biarlah daratan terpaku tanpa tanda pengenal
atau aku akan berlayar dengan ragu
yang akan memaksaku kembali tambatkan perahu
di dataran rindu yang termangu
di keterasingan samudera biru

2012-2013

Categories


%d bloggers like this: